ISU PASAR

Prospek Kawasan Industri Makin Kinclong di 2020

Administrator | Selasa, 02 Juni 2020 - 11:24:00 WIB | dibaca: 419 pembaca

Istimewa

Kawasan industri diproyeksikan bakal menjadi salah satu subsektor properti yang paling berkilau di 2020. hal itu didorong semakin banyaknya pengembang yang membuka kawasan industri guna menangkap peluang tingginya minat investor asing untuk berinvestasi di Indonesia sejak tiga tahun terakhir.

Head of Research dan Direktur Savills Indonesia Anton Sitorus mengungkapkan di tahun depan subsektor kawasan industri dan logistik menjadi yang paling bersinar dibandingkan subsektor properti lain, disusul ritel dan residensial. Kondisi itu ditopang masuknya pemain-pemain baru di bisnis logistik yang menyiapkan teknologi terbaru dalam pasar pergudangan.

“Sudah ada beberapa pemain logistik asing yang masuk kemari, dan mereka sedang tes pasar. Namun karena mereka masuk dengan teknologi terbaru, sehingga masih belum bisa menentukan harga di Indonesia,” jelas Anton.

Kinclongnya pasar kawasan industri juga diamini oleh Senior Associate Director Industrial Services Colliers International Indonesia Rivan Munansa. Menurut dia, relokasi perusahaan China bisa menjadi peluang bagi pasar kawasan industri dan pergudangan di Indonesia.

Ditambah lagi terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo membuat banyak investor melihat stabilitas politik di Indonesia, dan situasi itu sangat positif bagi investor.

“Kepercayaan akan meningkat, dan ini membawa optimisme. Meski bukan berarti tanpa tantangan,” jelas Rivan.

Terkait dengan relokasi perusahaan China akibat perang dagang, dia mengatakan beberapa perusahaan asal Tiongkok sudah mulai menawar untuk menyewa maupun membeli lahan di kawasan industri di kawasan Jabodetabek. Hanya saja hingga kini belum ada realisasinya.

Tetapi cepat atau lambat, dia meyakini dampak trade war akan mendorong gelombang masuknya perusahaan-perusahaan asal China, Hongkong, Korea Selatan dan juga Jepang ke Indonesia.

Rivan menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan China yang mulai tertarik untuk mengisi kawasan industri di Indonesia adalah perusahaan yang bergerak di sektor otomotif, barang konsumsi, dan padat karya.

Perubahan Pasar
Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Kawasan Industri, Sadeni Hendarman menyebutkan gairah subsektor kawasan industri dalam beberapa tahun terakhir memang cukup bagus karena pemerintah juga mendukung pembukaan lebih banyak kawasan industri antara lain di Kendal, Kudus, Ungaran-Jawa Tengah.

Selain itu di luar Jawa sedang disiapkan kawasan industri di Kuala Tanjung, Bitung, Maloy (Kaltim) dan lain-lain.

“Artinya pengusaha itu sekarang tidak takut keliru lagi berinvestasi. Kalau dulu pengembang ajukan izin untuk lahan luas, begitu sampai di pemerintah daerah susah sekali dan kenyataannya berbeda. Tetapi kalau sekarang ini justru pemerintah pusat yang mendorong (izin kawasan industri),” ujar Sadeni kepada Majalah RealEstat.

Menurut dia, pengembang kawasan industri dan pergudangan saat ini jeli melihat perubahan pasar. Dimana banyak pedagang sekarang berbisnis secara online dan tidak lagi bergantung pada outlet di mall. Namun mereka butuh banyak gudang untuk stok barang.

“Jadi harus tahu keinginan dan kebutuhan pasar. Apalagi zaman sekarang, kalau tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi digital ya ketinggalan,” ujar dia.

Dia optimistis pasca dilantiknya Presiden Jokowi dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin maka kondisi politik dan keamanan negara lebih stabil, sehingga meningkatkan minat investor asing untuk masuk ke kawasan industri dan pergudangan di Indonesia. Namun selain faktor politik dan keamanan, pemerintah juga perlu memperbaiki sisi regulasi terutama di bidang perpajakan.

Menurut Sadeni, banyak kebijakan pepajakan yang membikin susah sektor properti. Contohnya sekarang ini sebenarnya uang banyak namun orang memilih menyimpan saja. Mereka tidak berani membeli properti karena nanti pasti akan ditanya uangnya darimana, terus pajaknya bagaimana?

Dia berpendapat seharusnya belum waktunya Indonesia menerapkan aturan pajak seketat itu. Mungkin seperti tax amnesty dikhususkan dulu untuk menarik dana-dana warga Indonesia yang ada di luar negeri saja. Sedangkan untuk dana yang memang ada di dalam negeri diberikan toleransi sehingga mereka bisa leluasa untuk berinvestasi tanpa ada kekhawatiran “diincar” petugas pajak.

“Sama seperti rumah juga, sekarang ini banyak orang enggan membeli gudang karena pasti bakal diperiksa pajaknya. Akhirnya uangnya disimpan saja di bank,” keluh Sadeni. (Rinaldi/Teti Purwanti)