Internasional

Perusahaan Teknologi Dongkrak Permintaan Perkantoran Asia Pasifik

Administrator | Senin, 11 Oktober 2021 - 10:51:27 WIB | dibaca: 128 pembaca

Foto: Istimewa

Perkantoran yang berdampak akibat pandemi mulai bergerak di Asia Pasifik. Mulai meningkatnya permintaan perkantoran ini didominasi oleh pertumbuhan perusahaan teknologi seperti yang diungkapkan Managing Director Occupier Services Colliers Asia Sam Harvey-Jones.

Jones bahkan mengungkapkan kalau sektor teknologi merupakan pelaku utama dari naiknya permintaan sewa kantor di berbagai kota besar di Asia Pasifik.
“Permintaan dari perusahaan multinasional tetap menjadi prioritas. Namun diharapkan perusahaan teknologi di Asia Pasifik bisa menaikan permintaan properti kantor utama selama lima tahun ke depan,”paparnya dalam laporan hasil riset Colliers.

Teknologi menjadi salah satu sektor bisnis yang paling penting secara global. Sektor ini membentuk 65% dari 20 perusahaan publik teratas dunia berdasarkan kapitalisasi pasar. Jones memperkirakan pengguna teknologi akan menyumbang 20% hingga 25% dari total permintaan sewa kantor di wilayah
Asia Pasifik selama lima tahun ke depan. 

Sementara itu, Managing Director, Capital Markets & Investment Services Colliers International Terence Tang menuturkan perusahaan teknologi besar, terutama perusahaan teknologi China, telah sangat aktif dalam investasi dan pengembangan properti di seluruh Asia Pasifik.

“Perusahaan-perusahaan ini sekarang menjadi kelas baru utama dari pemilik-penghuni properti,”paparnya.

Pada 2020, beberapa perusahaan teknologi berhasil mengakuisisi aset real estat Asia Pasifik dengan nilai fantastis yakni US$10 miliar atau setara dengan Rp144,4 triliun. Dia menyarankan agar perusahan-perusahaan di China aktif berinvestasi di bidang properti. Pasalnya, pengembangan properti tidak hanya dirancang untuk kantor saja tetapi juga bisa untuk pengembangan pergudangan maupun data center.

“Perusahaan-perusahaan ini tak hanya menjadi penyewa, tetapi bisa juga memilikinya. Kami memberikan saran agar bangunan-ba- ngunan lama direnovasi kembali supaya dapat memenuhi kebutuhan pekerjaan di masa depan seperti kantor, logistik, pergudangan, dan data center,” ucapnya.

Beijing, Shanghai, Bengaluru, Shenzhen, dan Singapura masuk dalam peringkat lima besar pusat teknologi di Asia Pasifik. Para pengembang di lima kota tersebut mulai menawarkan properti yang tak hanya memiliki infrastruktur bagus, tetapi juga unik sehingga bisa menarik penyewa. Menurutnya, lokasi properti yang strategis juga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor karena kenaikan nilainya pada masa mendatang. Kota-kota lain misalnya, Seoul dan Hong Kong juga sedang berkembang pesat dalam bidang tekonologi terutama di sektor fintech. Pusat-pusat baru teknologi di Hyderabad dan Sydney juga mulai bermunculan.

“Lalu juga ke depannya pusat teknologi baru akan muncul di Yangpu Shanghai, Whitefield dan Bengaluru Utara di India, serta CBD South Sydney,” katanya.
 
Peluang Baru
Terence menambahkan gelombang permintaan dari penyewa yang berasal dari perusahaan teknologi telah menciptakan peluang baru bagi pemilik properti. Investor harus mempertimbangkan perusahaan teknologi sebagai pembeli alternatif untuk aset yang berusia tua. “Hal itu juga dapat dilakukan dengan ber- mitra dengan perusahaan teknologi untuk mengembangkan kembali aset properti mereka,” ujarnya.

Menurutnya, pemilik properti di pergudangan, logistik dan pusat data bisa memper- timbangkan untuk melakukan usaha patu- ngan dengan perusahaan teknologi untuk mengembangkan aset properti yang ada.

“Untuk investor dengan modal pasif dapat berinvestasi dalam dana real estat yang didirikan oleh perusahaan teknologi yang terbuka untuk dana pihak ketiga,” tutur Terence.

Adapun rekomendasi bagi pemilik tanah atau landlord diharapkan bisa berkonsentrasi pada subpasar mendatang yang menarik untuk prospek pertumbuhan jangka menengah. Selain itu, pengembang dan investor perlu menanggapi persyaratan kelompok teknologi, yang mencari pembangunan kembali atau konversi peluang untuk ruang kantor built- to-suit, serta landbank untuk meluncurkan platform logistik dan pusat data. Terakhir, landlord juga diharapkan tidak menutup ke- mungkinan dengan adanya investasi dana pi- hak ketiga. (Teti Purwanti) 
 
Sumber: