Internasional

Permintaan dan Harga Sewa Apartemen di Australia Melonjak

Administrator | Jumat, 30 September 2022 - 11:12:55 WIB | dibaca: 79 pembaca

Foto: Istimewa

Kebijakan pembukaan perbatasan internasional oleh Pemerintah Australia sejak 21 Februari 2022 ternyata menciptakan masalah baru bagi para calon penyewa apartemen di negara tersebut, khususnya para siswa dan mahasiswa asing yang sudah kembali ke kota-kota besar di Australia seperti Sydney dan Melbourne.

Nicola Powell, Senior Research Analyst for Domain Group mengatakan saat ini Australia sedang berada di ambang “krisis” sewa karena permintaan sewa apartemen terus meningkat tajam.

“Permintaan yang tinggi terjadi sejak Februari 2022 atau pasca pembukaan kembali secara penuh perbatasan internasional bagi para turis pemegang visa dan telah divaksinasi dua kali setelah sempat dua tahun ditutup,” jelasnya.

Akibatnya, terjadi perubahan besar di pasar apartemen sewa, di mana tingkat kekosongan apartemen sewa di Kota Sydney terus menurun menjadi 1,4% pada Februari (turun dari 1,9% pada Januari 2022), menurut Rental Vacancy Rate Report termutakhir oleh Domain. Persentase 1,4% tersebut merupakan titik terendah pasar sewa di Kota Sydney sejak November 2017.

Dampak permintaan yang tinggi menyebabkan harga sewa unit naik sebesar AUS$30 dalam setahun, atau 6,4% menjadi rata-rata AUS$500 sehingga menjadikannya peningkatan tahunan paling tajam dalam delapan tahun terakhir. Angka tersebut melampaui biaya sewa rumah tapak untuk pertama kalinya sejak pandemi.

Powell menyebutkan, pasar sewa apartemen di Sydney terutama di pusat kota telah mengalami pemulihan yang cepat setelah mengalami penurunan permintaan di awal pandemi.

“Permintaan unit rental meroket tajam, sementara harga properti terus naik mengakibatkan para calon pembeli menahan keinginannya dan terus menyewa,” paparnya.

Vacancy Rate atau Tingkat Kekosongan didefinisikan oleh SQM Research, sebuah lembaga penelitian dan peramalan properti independen sebagai persentase dari keseluruhan properti sewaan yang merupakan ‘daftar’ yang telah diiklankan selama lebih dari 3 minggu (dan saat ini masih diiklankan).

Tingkat kekosongan 3% dianggap ‘sehat’ karena dianggap sebagai titik ekuilibrium di mana pasar seimbang secara merata antara pemilik dan penyewa. Tingkat kekosongan yang sangat rendah di bawah 2% seperti yang saat ini terjadi menandakan permintaan sewa yang tinggi, sehingga membutuhkan properti baru di pasar untuk memenuhi kebutuhan penyewa.

Menanggapi krisis tingkat kekosongan hunian yang terjadi di Sydney, Direktur Penjualan dan Pemasaran Crown Group Indonesia, Tyas Sudaryomo, mengungkapkan bahwa krisis ini sudah bisa diprediksi sebelumnya.

Pasalnya, banyak pembangunan hunian baru terutama apartemen yang terhambat dalam dua tahun terakhir, sehingga mengakibatkan berkurangnya pasokan di pasar, terutama di kawasan inner city seperti Waterloo dan Eastlakes.

“Selama periode 2020-2021, Sydney mengalami penurunan permintaan sewa karena pandemi Covid-19 dan dapat dilihat melalui tingkat kekosongan rata-rata yang menyentuh 4% atau di atas 3%,”ungkap Tyas.

Menurut data dari KBRI Australia, pada 29 Maret 2020, jumlah mahasiswa asing pemegang visa Australia adalah sebanyak 694.038 mahasiswa. Namun per 28 Juni 2021, jumlah mahasiswa asing pemegang visa Australia menurun sebesar 31,9% dalam rentang waktu 15 bulan.

Hal itu karena hampir 85% mahasiswa yang sudah memiliki visa studi masih berada di luar negeri atau di negara asalnya karena kebijakan penutupan perbatasan akibat Covid-19.

“Tapi begitu Australia membuka pintu internasionalnya, permintaan sewa melonjak tajam hanya dalam beberapa bulan saja hingga vacancy rate menyentuh angka 14%. Terendah semenjak tahun 2017,” jelas Tyas.

Investasi Properti
Tentu saja, kata dia, kondisi ini adalah situasi yang sangat positif bagi para pemilik unit properti. Sebagai contoh nyata, saat ini tingginya jumlah permintaan sewa tidak sebanding dengan unit yang siap disewakan di Waterfall by Crown Group sehingga pihaknya juga kesulitan untuk bisa memenuhi setiap permintaan. “Terutama dari siswa luar negeri khususnya Indonesia yang baru kembali lagi ke Australia,” jelas dia.

Jumlah mahasiswa Indonesia di Australia yang tercatat per tanggal 28 Juni 2021 yakni sebanyak 12.645 mahasiswa. Ini menempatkan Indonesia di peringkat 6 jumlah mahasiswa asing terbanyak di Australia setelahTiongkok, India, Nepal, Vietnam dan Malaysia. Tercatat sebanyak 31% atau sekitar 3.905 mahasiswa masih berada di Indonesia.

“Kami selalu menyarankan kepada para calon pembeli kami di Indonesia, apabila memiliki anak yang akan melanjutkan studinya ke Australia, lebih baik untuk melakukan investasi melalui pembelian properti dibandingkan hanya dengan menyewa unit properti selama beberapa tahun,” tambah Tyas.

Karena apabila dikalkulasikan, menurut dia, masih jauh lebih menguntungkan pembelian properti berdasarkan hitungan kenaikan nilai properti secara konservatif sebesar 7%-8% setiap tahunnya dibandingkan dengan biaya sewa yang setiap bulan bisa mencapai kisaran Rp20 juta.

Waterfall by Crown Group akhir tahun lalu berhasil menyabet gelar UDIA Best High-Density Development Award 2021 dan merupakan kompleks hunian vertikal yang sangat popular bagi para profesional dan siswa luar negeri.

Waterfall by Crown Group terletak di O’Dea Avenue, Waterloo, sangat dekat dengan lokasi beberapa institusi pendidikan terbaik di Australia serta hanya berjarak 5 km dari pusat CBD Sydney.

“Oleh karena itu tidak mengherankan jika permintaan akan unit sewa di Waterfall by Crown Group sangat tinggi semenjak 2 bulan terakhir,” tutup Tyas. (Rinaldi)


Sumber: