TOPIK UTAMA

Perang Bunga KPR Jadi Stimulus Pasar

Administrator | Jumat, 10 November 2017 - 10:27:06 WIB | dibaca: 866 pembaca

Industri properti memiliki keterkaitan yang erat dengan perbankan. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa peran perbankan dalam industri properti telah bergeser dari semula pemusatan pada pengembang menjadi layanan kepada konsumen.

Pengamat ekonomi, Aviliani dalam sebuah seminar pernah berujar bahwa dua sektor yang bagus untuk penggerak bisnis perbankan di 2017 adalah sektor properti dan infrastruktur. Terlebih pasar properti di segmen menengah. Pendapatan itu tampaknya tepat, kalau melihat gencarnya aksi perbankan dalam “menggarap” sektor properti, antara lain dalam penyaluran kredit.

Optimisme itu bahkan terlihat dari ketatnya “perang” suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang menawarkan paket bunga rendah. BCA misalnya, sejak awal tahun ini dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-60 sudah menawarkan suku bunga progresif yakni 6 persen fixed rate selama dua tahun, 6,88 persen selama tiga tahun berikutnya, dan setelah itu floating rate (bunga pasar).

Begitu juga Bank Mandiri yang menawarkan suku bunga promo fixed 5,99 persen untuk dua tahun pertama, kemudian 6,75 persen untuk dua tahun berikutnya. Begitu pun dengan CIMB Niaga yang gencar mempromosikan bunga fixed 6,75 persen untuk dua tahun pertama, setelah itu fixed 7,25 persen selama lima tahun.

Sedangkan BTN menawarkan fixed 8,5 persen untuk satu tahun, kemudian berturut-turut fixed 9 persen untuk dua tahun, fixed 9,5 persen untuk tiga tahun, dan fixed 10,25 persen untuk lima tahun.

“Kebijakan suku bunga KPR rendah ini tentu bagus untuk menstimulus pasar properti, yang diuntungkan tentu saja konsumen,” kata Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata. Kalangan perbankan memang sedang mendorong pertumbuhan KPR di 2017.

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja menyatakan optimistis hingga akhir 2017 dapat mencatatkan pertumbuhan KPR 10%-15% persen secara tahunan.

“Lonjakan permintaan KPR baru bakal terjadi di semester kedua tahun ini, persisnya di kuartal III,” ujar dia.

KEBUTUHAN RUMAH

Perbankan juga optimistis penyaluran KPR akan tumbuh tahun ini, mengingat tingginya tingkat kebutuhan rumah dengan angka backlog mencapai 11,38 juta unit.

Wakil Pemimpin Divisi Penjualan Konsumer PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Yuki N Winanto menyebut bahwa kondisi tersebut merupakan peluang tersendiri bagi developer. Sebab, industri properti memiliki potensi besar untuk segera bangkit.

“Bagi industri perbankan sendiri, saat ini prosentasi KPR merupakan yang terbesar dibandingkan dengan kredit sektor lainnya,” sebutnya. Yuki tidak menyangkal bila selama ini antara satu bank dengan lainnya menawarkan KPR dengan platform dan bunga yang berbeda. Sebab, sumber dana yang didapat masing-masing bank juga berbeda.

Optimisme senada diungkapkan Kepala Divisi Konsumer PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Sutadi Prayitno. Dia memprediksi bahwa industri properti nasional ke depan bakal tumbuh sebesar 12%-13% seiring dengan kian jelasnya tanda-tanda perbaikan ekonomi.

“Bila optimisme industri properti secara bertahap dan konsisten bisa diwujudkan mulai paruh kedua tahun ini, diharapkan backlog rumah akan tuntas pada 2030 mendatang,” katanya.

Sutadi mengungkapkan, selama ini pihaknya terus berupaya mengatasi stagnasi pasar yang terjadi di beberapa wilayah. Hasilnya terbilang fantastis, dimana sepanjang periode Januari–April 2017, portofolio KPR-nya meningkat hingga dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Consumer Banking Bank BTN, Handayani pun menilai prospek pasar perumahan di 2017 akan positif. Postur APBN juga sangat mendukung, salah satunya komitmen pemerintah yang akan fokus pada pembangunan infrastruktur dan konstruksi, termasuk perumahan. Selain itu, defisit (backlog) perumahan di Indonesia juga masih cukup tinggi, sehingga menjadi peluang bagi pengembang. RIN