Berita

Penurunan Suku Bunga Diharapkan Diikuti Bunga KPR

Administrator | Selasa, 08 Desember 2020 - 10:12:44 WIB | dibaca: 152 pembaca

Foto: Istimewa

HASIL Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan adanya penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%. Dengan hal ini, diharapkan sektor perbankan bisa mengadopsi kebojakan tersebut. 

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengaku berterimakasih atas penurunan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate atau suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%. Namun, untuk mendongkrak sektor properti nyatanya dibutuhkan faktor lain selain penurunan suku bunga.

"Karena tidak hanya suku bunga saja yang akan berpengaruh untuk mendongkrak sektor properti, ada ekonomi makro, ada ekonomi mikro sehingga daya beli masyarakat ikut tergerak," jelas Paulus saat dihubungi Media Indonesia, Senin (23/11). 

Paulus mengatakan, penurunan suku bunga memang belum berdampak signifikan untuk mendorong sektor properti. Sebab, sektor perbankan sudah terang-terangan tidak menurunkan bunga KPR. 

"Ada apa dengan ini, perbankan bertahan. Ayolah bank membuka diri, karena apa yang dibutuhkan sektor properti adalah ekonomi mikro. Tolong saling bantu buka diri perhitungannya bagaimana," kata Paulus. 

Hal ini senada diucapkan Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto. Ia menganggap keputusan Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan akan mendorong perkembangan sektor properti. Namun, hal ini juga bergantung bagaimana sektor perbankan meresponnya.

"Penurunan suku bunga memang diperlukan, salah satunya sebagai respons kebijakan moneter atas situasi masih lemahnya permintaan properti, namun ini juga bergantung pada bagaimana perbankan merespon ini," jelas Eko.
 
Menurut Eko, faktor pemulihan sektor properti saat ini akan sangat ditentukan dari peningkatan sisi demand. Sehingga turunnya suku bunga acuan dimaksudkan untuk memperbaiki kemampuan daya beli konsumen yang masih terpukul akibat pandemi covid-19. 

"Karena dari survei hingga bulan lalu (Oktober) konsumen relatif masih menahan belanja barang tahan lama, salah satunya beli perabot rumah tangga, furniture, dan lainnya. Apalagi, pertumbuhan harga properti komersial juga masih melambat, tanda masih adanya kendala sisi demand," lanjut dia. 

Seperti yang diketahui, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, keputusan ini dibuat dengan mempertimbangkan evaluasi serta perkiraan ekonomi domestik dan global. Pihaknya juga memutuskan untuk menurunka suku bunga deposit facility dan lending facility. Jika dihitung sejak awal 2020, BI telah memangkas 7-Day Reverse Repo Rate sebanyak 125 basis poin. 

"Keputusan Rapat Dewan Gubernur pada 18-19 November 2020, memutuskan untuk menurunkan BI-7DRR sebesar 25 basis poin jadi 3,75%. Suku bunga deposito facility sebesar 25 basis poin jadi 3 persen, dan suku bunga lending facility 25 basis poin menjadi 4,5 persen," jelasnya belum lama ini. 

Perry mengatakan, keputusan ini konsisten dengan perlunya menjaga stabilitas eksternal di tengah inflasi yang diperkirakan akan tetap rendah. Selain itu, ini dilakukan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional dari dampak pandemi. 

"Keputusan ini mempertimbangkan perkiraan inflasi tetap rendah, dan langkah lanjutan untuk percepat pemulihan ekonomi nasional. Bank Indonesia tetap komitmen sediakan dukungan stabilitas dan dukung percepatan pemulihan ekonomi nasional," tutup Perry.


Sumber: