ASPIRASI DAERAH

Pasar Properti di Lampung Terdampak Tol Trans Sumatera

Administrator | Selasa, 02 Juni 2020 - 11:14:06 WIB | dibaca: 415 pembaca

Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Lampung, Djoko Santoso

Pembangunan dan operasional tol Trans Sumatera khususnya untuk ruas Bakauheni – Terbanggi Besar dan ruas Sidomulyo- Kotabaru sepanjang 40,6 kilometer yang melintasi wilayah Provinsi Lampung, membawa efek domino terhadap pasar properti di daerah tersebut.

Dengan adanya infrastruktur baru tersebut, harga lahan di sana pun ikut melambung dan membuka banyak potensi untuk perumahan maupun kawasan komersial.

Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Lampung, Djoko Santoso, mengungkapkan saat ini pasar properti di Lampung semakin terbuka lebar, termasuk bagi investor nasional yang berminat berinvestasi di daerah tersebut. Pasalnya, Lampung sebagai gerbang Pulau Sumatera dari sisi timu kini sudah didukung tol Trans Sumatera yang nantinya akan tersambung hingga ke ujung barat Pulau Sumatera di Banda Aceh.

Tol Trans Sumatera diyakini menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi investor termasuk di sektor properti. Saat ini saja, harga lahan di sepanjang ruas tol mulai merangkak naik khususnya di Kota Bandar Lampung. Kondisi itu mendorong berkembangnya pasar untuk rumah komersial (nonsubsidi) yang diyakini bakal semakin bergairah di tahun depan. Sedangkan untuk rumah subsidi, dengan dukungan jalan tol mulai diarahkan ke daerah-daerah peyangga.

“Untungnya animo masyarakat untuk membeli rumah subsidi sangat tinggi, sehingga meski dibangun di kawasan penyangga tetap diminati. Apalagi dengan adanya jalan tol dan jalan penghubung yang banyak dibangun, akses menjadi lebih mudah,” kata Djoko kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Segmen Rumah Subsidi
Meski pasar properti di Lampung terbuka lebar untuk berbagai segmen hunian, namun diakui segmen yang paling banyak dicari konsumen adalah rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Oleh karena itu, REI Lampung menargetkan bisa membangun hingga 8.000 unit rumah bagi MBR pada tahun ini.

Sayangnya, hingga semester I-2019 berakhir realisasi yang baru tercapai baru 3.000 unit. Realisasi yang tidak sejalan dengan target, menurut Joko, dikarenakan masalah kuota FLPP yang habis. Dirinya sulit memastikan target 8.000 unit itu bisa tercapai, apalagi waktu yang dimiliki kurang dari dua bulan lagi. 

“Sulit dipastikan berapa yang bisa dicapai hingga akhir tahun ini. Apalagi beberapa perbankan bahkan bisa tutup buku pada awal Desember, sehingga sulit untuk mencapai target tersebut,” papar Djoko.

Masalah kuota FLPP ini memang menghantui beragam pengembang di berbagai daerah, tidak terkecuali Lampung. Meski begitu, pemerintah berencana akan menambah kuota hingga akhir tahun ini sekitar 20 ribu unit.

Djoko sangat mengapresiasi rencana pemerintah itu, dan berharap benar-benar bisa terealisasi di lapangan. Menurut dia, pengembang properti kerap kali seperti berada di bianglala, kadang berada di puncak ketinggian, namun tiba-tiba sudah berada di bawah lagi. Begitu pun, dia berharap tahun depan sektor properti termasuk di Lampung bisa lebih baik lagi.

REI Lampung juga sangat mengapresiasi banyak kemudahan yang dilakukan pemerintah meski belum sepenuhnya bisa berjalan di daerah.

“Terutama untuk rumah subsidi sudah sangat terasa manfaat kemudahan dalam pembangunannya. Hanya saja, masih banyak kebijakan dari pusat belum bisa terealisasi, semoga dengan kabinet baru nanti perekonomian nasional lebih baik termasuk regulasi di sektor properti,” harap Djoko.

Sementara itu untuk perbankan, Djoko juga mengapreasiasi beragam perbankan di Lampung yang cukup kooperatif menangani masalah kuota FLPP. Meski banyak pilihan bank-bank, seperti Arta Graha, BRI, BRI Syariah, BRI Agro, BNI, dan BJB, namun seperti banyak daerah lain, realiasi KPR terutama subsidi masih didominasi Bank BTN.

Sedangkan untuk segmen hunian komersial, diakui saat ini masih sepi peminat. Menurut Djoko, di Lampung rumah dengan harga Rp500 juta ke bawah masih ada peminat dan beberapa pengembang di daerah itu masih bisa melakukan realisasi penjualan. Hanya saja, realisasinya penjualannya masih tidak jauh dari tahun-tahun sebelumnya. (Teti Purwanti)