Berita

Merger Bank Syariah Diharapkan Pacu Pembiayaan Perumahan

Administrator | Selasa, 16 Februari 2021 - 09:56:04 WIB | dibaca: 225 pembaca

Foto: Istimewa

Tiga bank syariah BUMN akhirnya dipastikan bergabung (merger). Ketiga bank syariah plat merah itu adalah PT Bank Mandiri Syariah, PT BNI Syariah, dan PT BRI Syariah Tbk. Bank hasil penggabungan akan beroperasi secara resmi pada ferbuari 2021.

Bank ini disebutkan akan tetap menjadi perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker code BRIS. Total aset dari bank hasil penggabungan tersebut mencapai Rp 220 triliun hingga Rp 225 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun.

Berdasarkan komposisi, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menguasai saham terbesar mencapai 51,2%, sementara dua bank lain yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. masing-masing mengantongi 17,4% dan 25%. Lalu 2% persen saham dimiliki Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI Saham Syariah dan 4,4% milik publik.

Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN sekaligus Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunardi mengungkapkan seluruh proses tahapan akan terus dikawal hingga tuntasnya integrasi ketiga bank peserta penggabungan tersebut. Dengan penggabungan ini, maka aset bank syariah BUMN diperkirakan mencapai Rp 225 triliun dan menjadikannya sebagai bank terbesar ke-7 di Indonesia.

“Dengan aset tersebut bank merger tersebut akan menempati posisi sekitar nomor 7 atau 8 perbankan top 10 perbankan di Indonesia sehingga cukup bagus posisinya,” kata Hery kepada wartawan saat konferensi pers virtual, Selasa (13/10).

Dia menambahkan, bank hasil penggabungan bank syariah juga berpotensi masuk 10 bank syariah teratas secara global berdasarkan market capitalization. Selain itu, pada 2025 diproyeksi aset bank syariah BUMN ini akan mencapai Rp 390 triliun. Sedangkan target pembiayaan diperkirakan mencapai Rp 272 triliun dan pendanaan Rp 335 triliun.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan merger bank syariah milik bank BUMN akan menjadi sejarah baru bagi industri perbankan syariah. Sebagai negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia, ungkap Erick, sudah sepantasnya Indonesia memiliki bank syariah yang kuat.

“Indonesia harus bisa menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah di dunia. Untuk mewujudkan mimpi itu kita harus bersatu bahumembahu ta’awun dan saling menguatkan,” ujar Erick dalam video singkat saat penandatanganan MoU merger bank syariah BUMN tersebut.

Pembiayaan Perumahan
Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) menyambut gembira penggabungan tiga bank syariah BUMN tersebut.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP REI bidang Pembiayaan Syariah, Royzani Syachril, menyebutkan dengan aset yang lebih besar maka kemampuan pembiayaan bank syariah plat merah akan semakin kuat. Hal itu akan memudahkan masyarakat dan pengembangan untuk mendapatkan pembiayaan perumahan berbasis syariah yang saat ini sedang diminati.

“Kalau modal bank kuat, maka nasabah bisa berharap margin yang diambil tidak begitu besar dan ini sangat menguntungkan nasabah. Tidak hanya itu, tentu saja dengan bank syariah BUMN bergabung mereka akan didukung teknologi informasi yang lebih mumpuni,” ungkap Roy yang dihubungi Majalah RealEstat.

Dikatakan saat ini perbankan syariah sedang naik daun. Bukan saja karena populasi umat muslim Indonesia yang besar, namun semenjak pandemi orang cenderung lebih memilih mengambil kredit perumahan dari perbankan syariah karena suku bunganya yang flat sehingga lebih pasti di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. 

Di sektor properti, jelas Roy, pembiayaan syariah terbagi menjadi dua yakni pengembang yang bekerjasama dengan bank syariah, dan pengembang yang menjalankan akad-akad syariah dalam penjualan produk propertinya.

Diakui dalam dua tahun terakhir pembiayaan perumahan berbasis syariah meningkat pesat terutama di beberapa daerah seperti Aceh, Riau, beberapa wilayah di Sumatera, Jawa Barat, Banten, dan juga Kalimantan Selatan. (Teti Purwanti)
 
Sumber: