TOPIK UTAMA

Pasca UUCK

Kawasan Industri dan Pergudangan Makin Kinclong?

Administrator | Selasa, 12 Januari 2021 - 09:17:32 WIB | dibaca: 151 pembaca

Foto: Istimewa

Semangat mendasar dari Omnibus Law atau Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK) adalah kemudahan perizinan dan investasi. Kemudahan itu tidak hanya untuk menarik minat investor asing, tetapi juga diklaim akan mendorong tumbuhnya investor lokal khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Kebutuhan lahan industri dan gudang pun diprediksi akan meningkat, benarkah demikian? Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Kawasan Industri, Hyanto Wihadhi mengatakan sektor manufaktur tumbuh cukup pesat di Indonesia. Sayangnya sejumlah investor menunda investasinya akibat pandemi dan menunggu perkembangan pembahasan omnibus law.

Namun dengan disahkannya UUCK, diakuinya saat ini banyak investasi asing yang bersiap masuk ke Indonesia. Selama ini banyak calon investor yang ingin berinvestasi di Indonesia tetapi akhirnya mengundurkan diri karena kurang kepastian berusaha dan hukum, serta perizinan yang berbelitbelit.

“Sekarang dengan adanya omnibus law yang memberikan kepastian hukum, serta mempermudah dan mempercepat perizinan kami yakin akan disambut baik oleh investor baik asing maupun lokal,” ungkap Hyanto kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Dengan situasi ini, dia sependapat dengan riset sejumlah lembaga yang memproyeksikan subsektor kawasan industri dan perbankan bakal meraup “berkah” dari keberadaan UUCK. Geliat pasar kawasan industri pun diyakini akan menyentuh pasar residensial di kawasan. Sebab, baik ekspatriat dan pekerja membutuhkan rumah untuk tempat tinggal.

Untuk jangka pendek, di kawasan industri yang akan pulih lebih dahulu adalah pergudangan logistik yang didominasi oleh e-commerce yang pada masa pandemi dinilai paling kuat daya tahan pasarnya dan usai pandemi akan semakin diminati. Guna memenuhi kebutuhan e-commerce, data center akan menjadi tren, apalagi menurut Hyanto, Alibaba saja sudah berencana masuk ke Indonesia.

Adapun investor yang tengah melakukan penjajakan untuk masuk ke Indonesia pun beragam, bukan hanya investor dari China yang ingin memindahkan pabrik, namun juga dari Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Eropa.

“Sekarang yang harus kita lakukan adalah mengawal UUCK ini agar tidak lagi terjadi bottle neck untuk realisasi. Apalagi dengan omnibus law juga membuka kemungkinan investor bukan hanya di Jawa, namun juga berbagai daerah,” ungkap Hyanto.

Proyeksi yang senada diungkapkan Wakil Ketua Umum DPP REI bidang Kawasan Pergudangan, Adi Saputra Tedja Surya. Menurut dia, dengan adanya UUCK banyak perizinan yang disederhanakan baik di tingkat pusat maupun daerah. Selama ini, pengurusan izin industri tidak hanya dianggap berat oleh investor asing, tetapi juga dirasakan investor dalam negeri.

“Meski belum baca keseluruhan, namun di UUCK saya dapat informasi bahwa kemampuan pekerja lokal yang mayoritas unskill akan ditingkatkan menjadi level skill. Kami kira ke depan ini akan menarik sekali bagi investor asing untuk masuk berinvestasi di Indonesia. Apalagi kita memiliki angka ketersediaan tenaga kerja yang cukup besar,” ujar Adi Tedja, demikian dia sering disapa, kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Ditambahkan, selama ini di mata investor luar daya tarik Indonesia masih jauh di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Padahal populasi penduduk dan jumlah tenaga kerja di negara-negara tersebut lebih sedikit dibandingkan Indonesia. Diharapkan sejumlah terobosan aturan di UUCK akan mengubah cara pandang investor terutama investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.

Meski optimistis dengan adanya UUCK dapat mendorong permintaan lahan industri dan gudang logistik, namun sebagai pelaku usaha kawasan industri dan pergudangan dia mengaku masih pesimis permintaan akan meningkat dalam satu semester ke depan.

“Kalau melihat situasi ekonomi global saat ini kami masih pesimistis akan membaik di enam bulan mendatang. Kalau pun misalnya vaksin sudah bisa dijalankan di awal tahun depan, kemungkinan baru di kuartal II atau III-2021 permintaan akan tumbuh 5%-10%,” ungkap pengembang kawasan industri dan pergudangan di Sidoarjo, Jawa Timur itu.

Kebutuhan UMKM
Sepanjang tahun ini, disebutkan Adi Tedja, subsektor kawasan industri justru tidak mengalami koreksi penjualan seperti yang terjadi di hampir semua subsektor properti lain. Terutama permintaan gudang logistik diakuinya masih tetap stabil dibandingkan kondisi penjualan pada 2019.

Dia merujuk realisasi pendapatan di perusahaannya PT Makmur Berkah Amanda Tbk (AMAN) yang memiliki basis usaha kawasan pergudangan dan hotel. Dimana hingga Juni 2020, pendapatan emiten properti itu ternyata lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Tahun lalu pendapatan kami dari hotel lebih besar dibandingkan kawasan industri, tetapi tahun ini kontribusi hotel mungkin hanya 5%-10% dan sisanya dari pergudangan. Artinya, ada peningkatan pendapatan dari usaha industri dan pergudangan,” papar dia.

Hingga Oktober 2020, luas sewa gudang di kawasan pergudangan yang dikelola AMAN sudah mencapai 16 ribu meter persegi, melebihi target tahun ini seluas 15 ribu meter persegi. Realisasi itu diprediksi masih akan bertambah hingga 20 ribu meter persegi pada akhir tahun ini, karena perseroan masih mengikuti beberapa tender penyediaan gudang logistik.

Menurut Adi Tedja, ada dua faktor yang mendorong permintaan tinggi terhadap gudang. Selain karena maraknya bisnis online yang membutuhkan banyak gudang penyimpanan barang, juga karena banyak perusahaan berorientasi ekspor yang selama pandemi ini mengalami gangguan pengiriman produknya menambah gudang untuk penyimpanan stok barang.

Lalu bagaimana aktivitas penyewaan gudang pasca UUCK? Disebutkan, kemudahan pengurusan badan usaha dan perizinan lain terhadap UMKM diharapkan mampu menumbuhkan kembangkan UMKM di Indonesia dan pada akhirnya meningkatkan kebutuhan lahan industri dan gudang logistik.

“Bertumbuhnya UMKM juga diharapkan akan menggerakkan permintaan pergudangan. Terlebih lagi jika pemerintah daerah khususnya di daerah yang sudah ada kawasan industri menjalankan UU No 3 tahun 2014 tentang Perindustrian yang mewajibkan industri merelokasi pabriknya masuk ke kawasan industri,” tegas Adi Tedja yang berharap dengan UUCK aturan tersebut dapat berjalan.

Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia James Taylor sependapat kemudahan investasi akan berdampak positif terhadap kebutuhan sektor properti seperti pergudangan hingga kawasan industri.

JLL mencatat sejumlah pengembang dan penyewa lebih memilih kawasan industri untuk menjadi lokasi usahanya, terutama industri di bidang otomotif, elektronik, FMCG (barang konsumsi) hingga jasa alih daya layanan logistik. Hingga kuartal III-2020 tingkat okupansi subsektor properti logistik secara rerata berada di kisaran 89%.

“Pasar industri, khususnya logistik, sangat kuat selama enam bulan terakhir bahkan jauh sebelum itu. Jadi, cukup tangguh selama pandemi,” kata James.

Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto, menyebutkan subsektor kawasan industri dan pergudangan diprediksi pulih lebih cepat pada 2021. Penyebabnya, sebagian permintaan belum terealisasi tahun ini dan ada rencana industri berekspansi pada tahun depan.

“Potensi penyerapan akan datang dari berkembangnya bisnis e-commerce yang membutuhkan gudang, diikuti bisnis yang terkait dengan teknologi,” ujar Ferry. (Teti/Rinaldi)

Sumber: