ISU GLOBAL

Harga Rumah di Dunia Melonjak 11%, Tertinggi Sejak 2004

Administrator | Selasa, 27 September 2022 - 10:15:33 WIB | dibaca: 71 pembaca

Foto: Istimewa

Knight Frank Global merilis Global Residential Cities Index untuk periode Kuartal IV-2021. Laporan itu mencatatkan pertumbuhan harga residensial di berbagai perkotaan dunia. Indeks tersebut menyebutkan bahwa rerata pertumbuhan harga tahunan di 150 kota di dunia pada kuartal akhir tahun lalu mencapai 11%.

Angka tersebut bahkan tercatat sebagai yang tertinggi semenjak kuartal IV-2004, atau yang tertinggi selama 18 tahun ke belakang.

Amerika Serikat (AS)memiliki rerata pertumbuhan harga tertinggi di 15%, diikuti oleh Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) yang tercatat memiliki rerata pertumbuhan hingga 11%. Sementara itu, kawasan Asia Pasifik tercatat memiliki angka pertumbuhan di kisaran 9%. Kate Everett-Allen, Head of International Residential Research, Knight Frank menyebutkan Situasi lockdown yang berlarut menyebabkan warga Amerika Serikat berhasil menabung secara signifikan.

“Hal tersebut juga diikuti dengan adanya peningkatan nilai ekuitas dari aset rumah yang mereka miliki,” jelas Allen dalam keterangannya, baru-baru ini.

Kekayaan lebih warga AS tersebut akhirnya digunakan untuk merenovasi rumah yang ditinggali ataupun untuk membeli properti kembali.

Di sisi lain, Global Residential Cities Index periode kuartal IV-2021 juga mencatat bahwa Istanbul memiliki angka pertumbuhan harga residential tertinggi di dunia sebesar 63,2% selama satu tahun terakhir. Sementara itu, Kuala Lumpur direkam mengalami penurunan tertinggi sebesar -5,7%, dengan setidaknya terdapat 10 kota yang tercatat mengalami penurunan harga residensial selama 2021.

Sedang Jakarta tercatat sebagai salah satu negara yang memiliki pertumbuhan harga residensial positif di 1,4% pada kuartal IV-2021. Hal ini juga seiring dengan indeks dari Bank Indonesia (BI) pada data akhir tahun 2021 yang menyatakan indeks pertumbuhan perumahan Jakarta berada di angka 1,42%.

Bank Indonesia juga menyatakan bahwa, indeks harga residential Jakarta di kuartal I-2022 mengalami kontraksi, atau berada di angka 1,04%. Kondisi ini juga tercermin dari performa pertumbuhan harga residential di Indonesia.

Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor, Knight Frank Indonesia mengatakan ditopang oleh suku bunga kredit pinjaman yang rendah dan tahan inflasi, kinerja sektor perumahan diperkirakan masih positif.

“Sepanjang 2022 meskipun pertumbuhan harga terbatas karena pengembang cenderung menahan kenaikan harga sembari menghabiskan stok rumah siap huni dan insentif (PPN DTP) properti,” jelas Syarifah.

Harga Sewa
Bukan hanya harga rumah, harga sewa rumah di kota-kota besar dunia juga melonjak hingga 11,8% secara tahunan. Data SQM Research menunjukkan harga sewa di kota-kota besar melonjak rata-rata 11,8% dalam setahun, setelah mengalami kenaikan 2,2% di bulan Maret hingga 12 April.

Dilihat dari jenisnya, harga sewa rumah meningkat 14,7% sedangkan harga sewa unit dan apartemen naik 11,2%.

“Kenyataan di lapangan membuat keluarga, juga generasi muda tidak bakal menemukan rumah yang sebenarnya mereka butuhkan,” kata Louis Christopher, Direktur SQM Research.

Kembalinya orang ke perkotaan setelah pembatasan Covid-19 dihapuskan, menyebabkan harga sewa untuk unit di pusat kota Sydney naik 5,5% dalam 30 hari terakhir dan 7,4% di pusat kota Melbourne. Kedua area ini mengalami penurunan harga sewa paling banyak ketika pembatasan Covid masih berlaku. Data biro statistik ABS menunjukkan di seluruh perkotaan, harga sewa turun lebih dari 1% selama pandemi. Data ABS terbaru hingga Desember menunjukkan harga sewa naik hanya 0,4% dibandingkan tahun sebelumnya.

Brisbane mencatat lonjakan tahunan terbesar dalam harga sewa rumah dan unit, yaitu sebesar 15,2%. Peningkatan tajam harga properti yang diiklankan didorong oleh rendahnya jumlah properti yang tersedia untuk disewa. “Ini masalah terbesar yang pernah saya lihat di pasar perumahan sejak tahun 2000,” ujar Louis Christopher.

Investasi di Asia Pasifik
Pertumbuhan juga terjadi pada investasi langsung pasar realestat komersial di Asia Pasifik yang mencapai US$177 miliar sepanjang 2021, dengan volume belanja modal kembali ke level tahun 2019. Volume investasi properti pada 2021 tersebut naik 26% secara tahunan, didorong oleh lonjakan aktivitas di Australia, Tiongkok, dan stabilitas pasar di Jepang.

“Pemulihan sektor realestat di Asia Pasifik menguat pada tahun 2021 seiring bertambahnya arus modal dari investor yang menunjukkan kepercayaan jangka panjang melalui diversifikasi portofolio investasi di berbagai wilayah dan sektor,” ungkap CEO, Capital Markets, JLL Asia Pacific, Stuart Crow.

Dia menjelaskan, para investor belum sepenuhnya kembali ke sektor properti Asia Pasifik. Investor akan meningkatkan eksposur pada tahun 2022 dengan menargetkan transaksi yang lebih besar serta akuisisi platform. Australia adalah negara yang paling banyak menarik investasi di kawasan ini. Peningkatan volume transaksi mencapai US$35 miliar pada tahun 2021, atau 170% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Aktivitas tersebut berasal dari kenaikan transaksi platform logistik sepanjang tahun, dengan rekor tertinggi tercatat sebesar US$9,3 miliar.

Sementara itu, transaksi di Tiongkok meningkat 21% secara tahunan menjadi US$39 miliar pada 2021. Peningkatan tersebut bersumber dari aktivitas di sektor ritel, logistik, dan pusat data. Pencatatan 13 surat berharga investasi properti (REITs) mendapat sambutan baik dari investor dan menandai perkembangan baru di pasar properti dalam negeri Tiongkok. 

Investor menginginkan lebih banyak eksposur ke sektor realestat Asia Pasifik untuk mendapatkan imbal hasil yang menarik. Investor juga siap menaikkan kurva risiko untuk mendiversifikasi portofolio. (Teti Purwanti)


Sumber: