TOPIK UTAMA

Duh, Banyak Pengembang Terancam Kolaps?

Administrator | Senin, 12 Oktober 2020 - 08:48:19 WIB | dibaca: 198 pembaca

Foto: Istimewa

Pertumbuhan penjualan yang terjadi di kuartal akhir 2019 sebenarnya membawa asa besar bagi pengembang bahwa pasar properti bakal lebih membaik di tahun ini. Tetapi apa mau dikatakan, corona virus datang dan membuyarkan harapan pelaku usaha properti.

Perubahan drastis terhadap proyeksi perekonomian nasional dan global turut menekan industri realestat nasional. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui penyebaran virus corona akan semakin memberatkan perekonomian.

Dalam kondisi terburuk, dia memperkirakan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 2,3% akibat dampak virus corona. Bahkan skenario terburuk, ekonomi Indonesia bisa minus hingga 0,4%.

Akibat ekonomi nasional dan global yang memburuk dihantam kesibukan semua negara menahan penyebaran virus Covid-19, sektor properti dipastikan ikut memburuk. Apalagi, menurut Anggota Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) DPP REI, Muhammad Nawir, properti menjadi salah satu sektor yang sensitif terhadap perubahan ekonomi selain sektor otomotif.

“Properti itu sangat sensitif, namun di kondisi sekarang ini properti dan dunia usaha butuh kepastian kapan situasi ini akan berakhir,” kata Nawir, baru-baru ini.

Menurut dia, banyak proyeksi yang mengatakan kalau wabah ini baru berakhir pada akhir tahun. Sayangnya, baru dua bulan saja merebak sektor properti sudah terdampak parah dan semakin hari semakin memburuk.

Dia memberi contoh segmen rumah menengah bawah yang selama ini dibeli pengguna (end user) dan menjadi motor sektor properti, sekarang ikutan stop berjualan. Hal itu disebabkan banyak calon konsumen yang dirumahkan dan otomatis membatalkan rencana pembelian.

“Properti tahun ini bakal tiarap. Saya kira tahun ini memang sangat berat untuk sektor properti. Pengembang akan fokus menjalankan proyek yang sudah berjalan. Bahkan yang terburuk, kalau sampai inflasi tinggi dan suku bunga kembali melonjak, sangat mungkin kondisi tahun ini akan seperti 1998,” jelas Nawir.

Oleh karena itu, Nawir menyarankan agar pengembang dalam memutuskan segala hal yang berkaitan dengan usahanya harus rasional dan penuh perhitungan. Kalau sampai salah langkah, dampaknya akan sangat buruk bagi pengembang tersebut.

Hal senada diungkapkan Wakil Ketua Umum Koordinator DPP REI bidang Properti Komersial, Raymond Arfandy yang meminta pengembang untuk berhati-hati melakukan ekspansi bisnis.

Selain perlu memaksimalkan teknologi untuk menopang penjualan misalnya melalui pemasaran secara online di tengah upaya pembatasan jarak yang dikampanyekan Pemerintah.

Dia pun menyoroti terganggunya pelayanan perbankan akibat mayoritas karyawan bank bekerja di rumah atau ke kantor secara bergantian. Di sisi lain, daya beli masyarakat ikut terpukul.

“Misalnya pekerja yang selama ini bisa mendapatkan gaji Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan dan sudah punya niat membeli rumah, sekarang boleh jadi mereka tidak memiliki gaji atau gajinya hanya dibayarkan separuh saja. Kondisi itu akan merubah niat mereka membeli rumah,” papar Raymond.

Pengembang juga dalam situasi sulit saat ini, terlebih pengembang kecil yang modalnya terbatas. Raymond bahkan mengiyakan prediksi sejumlah pengamat yang memperkirakan jika dalam tiga bulan wabah masih merebak, maka banyak pengembang kecil yang akan kolaps.

Terkait relaksasi yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Raymond menilai masih kurang konsisten dan agak sulit untuk didapatkan pengembang. Bahkan, menurut dia, ada beberapa bank tidak konsisten dan mematuhi aturan yang sudah ditetapkan OJK.

Raymond memprediksi sektor residensial terutama di segmen MBR akan lebih dahulu pulih jika pandemi corona berakhir, dan disusul sektor ritel. Sementara sektor-sektor yang berhubungan dengan investasi, diperkirakan pulih belakangan karena investor akan memilih untuk wait and see.

Sebelumnya, CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda memperkirakan daya tahan cashflow pengembang menengah saat ini hanya berkisar 1-3 bulan. Sedangkan kekuatan cashflow pengembang kecil lebih pendek lagi. Hal ini harus benar-benar diantisipasi dengan strategi bertahan supaya mampu survive.

“Kalau situasi wabah corona ini terjadi lebih lama lagi, maka bukan tidak mungkin akan terjadi koreksi harga properti yang cukup dalam karena pengembang berusaha keras melakukan transaksi penjualan,” ungkap Ali.

Lebih Proaktif
Sementara itu, Commercial & Business Development Director AKR Land, Alvin Andronicus menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 akan membawa dampak pada ekonomi dan pada akhirnya bakal menurunkan buying power. Namun, dia berharap pengembang tidak boleh putus asa apalagi sampai menghentikan aktivitas bisnis. 

“Pengembang harus proaktif dan juga memberikan gimmick yang bisa disesuaikan dengan target pasar. Kebutuhan konsumen ini yang harus jeli dilihat pengembang. Antara lain dengan memberi nilai tambah (added value) sehingga menarik minat konsumen,” ujar Alvin.

CEO Lippo Karawaci John Riady mengatakan dalam situasi kurang baik saat ini sejumlah inisiatif telah dipersiapkan pihaknya sejak awal tahun ini untuk memperkuat fleksibilitas keuangan perusahaan. Misalnya dengan melakukan sejumlah penghematan biaya sehingga dapat menekan biaya operasional pada tahun ini. “Kami juga melakukan pengurangan belanja modal dan modal kerja,” ungkap John dalam siaran persnya, baru-baru ini.

Lippo Karawaci juga melakukan pengurangan jam operasional di berbagai mal-mal dan hotel-hotel jaringannya sebagai pencegahan virus corona. Aksi ini dinilai akan menghasilkan strategi penghematan biaya hingga tiga bulan ke depan.

Wakil Ketua Umum DPP REI bidang Informasi dan Telekomunikasi Digital, Bambang Eka Jaya menambahkan bahwa sebelum merebaknya Covid-19 pasar properti khususnya segmen menengah atas memang sudah lesu, setidaknya dalam dua tahun terakhir. Namun setelah ada pandemi ini, pasar semakin stagnan.

“Di tengah situasi seperti ini dibutuhkan kebijakan yang radikal untuk menyelamatkan sektor riil termasuk properti. Karena kondisi sekarang sudah masuk darurat bencana luar biasa sehingga harus diatasi bukan dengan cara biasa pula,” tegas dia.

Bambang mendukung penuh perjuangan DPP REI yang mengusulkan insentif dan relaksasi yang lebih luas untuk industri properti nasional baik dari sisi perbankan maupun perpajakan. (Teti Purwanti)