Kilas Berita

"Utak Atik -Tata Kelola Kota"

Administrator | Selasa, 27 Agustus 2019 - 10:08:18 WIB | dibaca: 149 pembaca

Foto: Istimewa

Di buku berjudul “Utak Atik-Tata Kelola Kota” ini, arsitek yang sejak awal memang lebih menaruh minat terhadap arsitektur dalam kaitan dengan pengembangan permukiman dan perkotaan atau “arsitektur ruang besar”, itu mencoba mencari makna kota bagi orang Indonesia.

Buku ini merupakan penyuntingan kembali dan pemutakhiran buku “Mengusik Tata Penyelenggaraan Lingkungan Hidup dan Permukiman” bagian pertama mengenai perkotaan dan permukiman yang diterbitkan KKPP ITB tahun 2010 lalu.

Judul “mengusik” yang terasa hanya sebagai “kejahilan” diubah dengan istilah “utak-utik” yang lebih konstruktif untuk membangun tata kelola kota yang lebih baik.

Buku ini dimulai dengan mencoba mencari makna kota bagi orang Indonesia. Istilah kota bisa berarti tempat atau benda (kota Pacitan, kota Kudus), bisa berarti sifat (orang kota, budaya kota, ekonomi kota) bisa juga berarti wilayah administrasi.

Town dan City keduanya di Indonesia disebut kota dan kini City digunakan untuk menamai kompleks properti aneka fungsi komersial seperti misalnya Agung Podomoro City, Thamrin City dan sebagainya .

Uraian berikutnya mengenai dinamika kota, yang digambarkan dengan suatu kerangka yang menunjukkan faktor-faktor yang memengaruhi dinamika kota, yaitu berbagai faktor yang saling berhubungan dan memengaruhi pasang surut, perkembangan atau kemerosotan kota. 

Selanjutnya ditawarkan suatu kerangka konseptual kota berkelanjutan yang diadopsi dari konsep ekologi. Upaya mewujudkan kota yang berkelanjutan dimaknai sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup penghuni dan penggunanya secara berkelanjutan.

Penulis melengkapi pembahasan dengan kerangka konseptual kota berkelanjutan. Dibahas tantangan yang dihadapi penyelenggara kota, penduduk yang bertambah, pengguna kota yang makin beraneka dan pengaruh globalisasi.

Buku ini juga menyentuh dan menyentil apa yang disebut dengan rokokisasi, yang ditandai semarak bukan hanya reklame rokok tetapi juga banyaknya kegiatan kesenian dan olahraga yang disponsori industri rokok. Dalam kaitannya dengan tantangan yang dihadapi, dia menawarkan sistem manajemen kota yang seyogyanya merupakan kombinasi daur panjang dan daur pendek.

Artinya adanya proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi untuk daur panjang dan daur pendek.

Buku ini membedakan antara pembangunan dan perkembangan kota, yang keduanya dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan development.

Pembangunan adalah perubahan struktural yang dipimpin pemerintah. Sedang perkembangan perubahan strutural yang terjadi dengan sendirinya, bisa terjadi pembangunan mendorong perkembangan atau sebaliknya perkembangan kemudian diikutcampuri (intervensi) dengan pembangunan agar tujuan bersama dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien.

Berdasarkan pengalaman negara lain ada instrumen yang efektif untuk menata kota yaitu penguasaan tanah dan prasarana kota. Peraturan perundangan, walaupun disertai monopoli kekuasaan untuk memaksa, sering tidak efektif. Apalagi Indonesia belum mempunyai UU yang khusus ditujukan penataan kota. UU penataan ruang telah meniadakan undangundang pembentukan kota (SVO) tetapi tidak dapat menggantikannya.

Pada bagian akhir buku ini penulis menjelaskan agenda PBB tentang kekotaan yang tertuang dalam The New Urban Agenda (NUA) atau Agenda Baru Perkotaan, dan komitmen pemerintah Indonesia untuk mengimplementasikannya.

Digambarkan bahwa persoalan (isu) ekonomi, sosial dan lingkungan kota berkaitan dengan komponen fisik kota dan metabolisme kota. Ini berkaitan lagi dengan tipe kota yang berbeda yang disebut dengan metropolitan, kota besar, kota kecil.

Komposisi pelaku untuk menjawab persoalan kota yaitu: pemerintah, usaha swasta dan masyarakat sipli berbeda. Kualitas interaksi antar para pelaku kota inilah yang menentukan tatakelola yang baik (good governance) yang mencakup perumusan kebijakan, perencanaan dan implementasinya.

Buku ini perlu dibaca oleh para perencana kota, perencana kebijakan kota, pengembang, akademisi, dan masyarakat yang peduli terhadap proses pengelolaan perkotaan khususnya yang berkaitan dengan perumahan dan permukiman. (Rinaldi)