ASPIRASI DAERAH

Tren Permintaan Rumah Komersial di Kepri Membaik

Administrator | Senin, 23 November 2020 - 10:34:41 WIB | dibaca: 92 pembaca

Sekretaris DPD Realestat Indonesia (REI) Kepri, Triyono

Kondisi pandemi dan melemahnya daya beli masyarakat ternyata membawa sedikit perubahan terhadap tren permintaan rumah di sejumlah daerah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) khususnya di Kota Bintan. Jika selama ini permintaan didominasi rumah subsidi, saat ini justru terjadi peningkatan di segmen rumah komersial (non-subsidi).

Sekretaris DPD Realestat Indonesia (REI) Kepri, Triyono mengungkapkan kondisi sekarang justru mulai terlihat adanya ketertarikan masyarakat terhadap perumahan komersial khususnya dengan rentang harga Rp300 juta hingga Rp700 juta per unit. Padahal pada 2019, hanya ada realisasi 20 unit rumah komersial dengan harga di bawah Rp500 juta.

“Sejak pandemi Covid-19 merebak justru permintaan rumah komersial terjadi peningkatan. Ini kabar baik, karena segmen ini sudah beberapa tahun terakhir mati suri di Kepri,” ungkap Triyono kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Perubahan tren minat masyarakat itu disebabkan beberapa faktor. Selain karena kuota yang terbatas dan sulitnya akad kredit rumah subsidi khususnya untuk pekerjaan informal, konsumen juga mulai mengedepankan faktor keamanan kompleks perumahannya.

“Sekarang kejahatan sering terjadi termasuk di perumahan, sehingga konsumen cenderung memilih kompleks hunian yang memiliki sistem gerbang dan sekuriti, bahkan sistem cluster lebih disukai saat ini,” papar dia.

Bahkan banyak konsumen di beberapa perumahan komersial yang sekarang meminta portal tambahan atau penerangan lampu jalan yang lebih memadai kepada pengembang. Diakui Triyono, penambahan fasilitas keamanan tersebut memang cukup membebani pengembang karena harus kembali mengeluarkan biaya, namun karena sudah menjadi kebutuhan penghuni harus dipenuhi.

Program Restrukturisasi
Di sisi lain, pasar rumah subsidi memang melemah karena daya beli masyarakat turun sebagai imbas pandemi. Menurut Triyono, ketatnya kebijakan perbankan terkait persetujuan akad kredit KPR subsidi pun memengaruhi peralihan minat masyarakat ke segmen komersial.

Saat ini misalnya sulit sekali untuk pekerja informal untuk bisa akad kredit, dan perbankan lebih cenderung mengutamakan ASN, TNI/Polri, dan karyawan Badan Usaha Milik Negara.

“Dengan pasar yang semakin kecil, mau tidak mau pengembang di Kepri harus berebutan di pasar yang sempit. Yang sulit bersaing terpaksa ikut program restrukturisasi yang dilakukan pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena sudah minim transaksi,” kata Triyono.

Disebutkan, sekitar 80% anggota REI Kepri kini mendaftar mengikuti program restrukturisasi. Meski tingkat keringanan yang diberikan perbankan berbedabeda kepada setiap pengembang, namun menurut Triyono, hampir semua pengembang yang mengajukan restrukturisasi mendapatkan kemudahan dari bank.

Hal ini sangat membantu, apalagi akibat pandemi banyak calon pembeli yang gagal akad kredit sehingga pengembang harus mengembalikan uang muka yang sudah diserahkan konsumen.

“Selama periode Februari-Juli, lebih banyak pengembalian uang muka dibandingkan akad kredit,” ungkap Triyono.

Meski pasar rumah subsidi sangat sulit, namun target pembangunan sebanyak 1.500 unit rumah di Kepri yang ditargetkan pada awal tahun masih belum direvisi. REI Kepri mengaku masih yakin target tersebut dapat terealisasi. Pasalnya hingga Agustus 2020, setidaknya sudah 60% dari target yang tercapai, dan diprediksi puncak pasokan akan terjadi pada November 2020 hingga jelang akhir tahun.

Triyono juga berharap stakeholders properti di Kepri mau bekerja sama dan terus mendukung usaha mencapai target pembangunan rumah untuk MBR tersebut. (Teti Purwanti)
 
Sumber: