RISET

Tren Pasar Properti Dunia Berubah Drastis di 2030

Administrator | Selasa, 14 Juli 2020 - 10:33:31 WIB | dibaca: 158 pembaca

Foto: Istimewa

Pergeseran demografis akan memengaruhi wajah pasar properti global di tahun 2030. Demikian menurut laporan penelitian global baru dari Cushman & Wakefield.

Sebuah riset menyebutkan bahwa sekitar 693 juta orang generasi baby boomers akan memasuki masa pensiun, dan 1,3 miliar orang generasi milenial akan memasuki masa bekerja pada 2030. Kondisi itu diperkirakan akan merubah wajah pasar properti secara global terutama di kota-kota besar dunia.

Dominic Brown, Kepala Wawasan dan Analisis Asia Pasifik di Cushman & Wakefield. menyebutkan pensiunnya jutaan baby boomers dan debut pekerja Generasi Z atau milenial bersamaan dengan perubahan demografis penduduk dunia memiliki implikasi besar bagi industri realestat dunia, investor dan pembuat kebijakan di seluruh dunia.

“Semua pemangku kepentingan perlu memahami dampak tren ini dan cara memposisikan diri untuk memaksimalkan peluang,” ungkap Brown. 

Laporan tersebut menganalisis pergeseran seismik dalam angkatan kerja di seluruh dunia dalam 10 tahun ke depan, dimana diperkirakan 693 juta baby boomers mencapai usia pensiun dan 1,3 miliar anggota Gen Z mulai memasuki angkatan kerja.

Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1995 sampai dengan tahun 2010. Generasi ini merupakan generasi peralihan dari Generasi Y dengan teknologi yang semakin berkembang.

Diungkapkan dalam laporan Cushman & Wakefield bahwa milenial memiliki strategi pendekatan tersendiri dalam memilih tempat kerja, lokasi tempat tinggal hingga jenis hunian yang sesuai keinginan mereka. Selain itu, tren demografis ini akan mendorong laju pertumbuhan hunian di kota-kota di seluruh dunia.

“Kota-kota perlu memantapkan diri mereka sebagai tempat untuk menarik pekerja tinggal dan menciptakan peluang realestat yang besar di masa mendatang,” papar dia.

Cushman & Wakefield membandingkan pertumbuhan angkatan kerja dan pertumbuhan PDB lebih dari 137 kota di seluruh dunia. Kota-kota dengan pertumbuhan tinggi di kedua kategori, menurut riset itu, disebutkan memiliki prospek kuat dalam menarik permintaan realestat. Sementara pertumbuhan yang lambat di kedua kategori tersebut menunjukkan pasar yang akan tertinggal.

Kota-kota dengan pertumbuhan PDB yang lebih cepat daripada populasi usia kerja adalah pasar produktif tinggi yang mungkin menarik bagi investor saat mereka menaikkan proposisi nilai. Sebaliknya, pasar dengan pertumbuhan tenaga kerja yang lebih besar daripada PDB dianggap sebagai pasar produktivitas rendah.

Hunian di Kota
Studi ini menyimpulkan bahwa kota-kota dengan kinerja terbaik dan potensial di dunia terletak di Asia Tenggara dan India, yang menjadi pertanda baik bagi pertumbuhan ekonomi dan kekuatan pasar realestat di kota-kota di wilayah tersebut. Kota-kota lain dengan produktivitas tinggi diproyeksikan terjadi di China.

Sedangkan sebagian besar kota di Eropa dan Amerika Utara digolongkan memiliki produktivitas rendah atau pasar tertinggal untuk pertumbuhan ekonomi dan realestat pada 2030 mendatang.

Kevin Thorpe, Kepala Ekonom dan Kepala Riset Global Cushman & Wakefield menambahkan pihaknya sangat terkejut bahwa perilaku generasi menggantikan perilaku budaya. Pekerja Gen Y dan Gen Z, sampai taraf tertentu, memiliki preferensi tempat kerja yang serupa di mana pun di dunia tempat mereka tinggal. Meski kedua generasi ini juga memiliki banyak perbedaan dalam beberapa hal.

“Misalnya, strategi tempat kerja perlu memperhitungkan berbagai persyaratan yang terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan profesional masa depan. Memahami nilai-nilai generasi ini, bagaimana dan di mana mereka ingin bekerja, dan kekuatan dan kelemahan interpersonal mereka akan meletakkan dasar untuk mengamankan talenta terbaik yang tersedia,” ungkap Thorne.

Pengaruh Teknologi
Perusahaan konsultan properti lainnya, Jones Lang LaSalle (JLL) pun memprediksi dalam 10 tahun ke depan pasar realestat global akan menghadapi perubahan besar.

Disebutkan, teknologi baru akan mengubah dunia dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya selama era tahun 2000-an. Dan itu akan menjadi lebih cepat dalam dekade berikutnya.

Untuk mengimbangi perubahan itu, maka kota-kota membutuhkan inovasi baru guna mengimbangi kebutuhan populasi mereka yang tumbuh cepat. Perusahaan akan mencari solusi supaya tidak hanya bekerja untuk keuntungan, namun juga memerhatikan lingkungan dan masyarakat setempat. Sementara investor harus bersaing dengan periode suku bunga rendah yang sangat panjang.

“Dengan populasi kota yang terus berkembang, maka lebih banyak rumah yang dibutuhkan di kota. Dimana dalam 10 tahun ke depan akan membawa lebih banyak tantangan dalam hal perumahan, kemacetan, dan kenaikan biaya hidup,” kata Amber Schiada, Direktur Senior Riset dan Strategi, California di JLL.

Tidak hanya kebutuhan hunian yang meningkat, menurut Myles Huang, Direktur Riset JLL Asia Pacific, perubahan tren dan perkembangan teknologi juga akan memengaruhi pasar realestat pada 2030 mendatang. Perubahan itu memengaruhi keputusan bisnis dan pola kehidupan manusia. 

“Teknologi sekarang mendominasi diskusi, dari individu hingga pemerintah. Selama dekade berikutnya teknologi akan terus menjangkau lebih jauh ke setiap sudut kehidupan masyarakat dunia,” kata Huang dalam laporannya.

Menurut Huang, saat mobil tanpa pengemudi melaju di jalan, maka nantinya tempat parkir menjadi kurang diperlukan. Sebagai gantinya pasar lebih butuh rumah, toko, dan gudang untuk pengiriman jarak jauh. Ditambahkan, garasi besar terutama yang berlokasi di dekat bandara atau tempat wisata dapat dikonversi menjadi hotel di masa itu.

Dalam satu dekade ke depan, akan lebih banyak orang bekerja dengan jam kerja yang fleksibel. Tetapi, menurut Huang, kantor masih tetap dibutuhkan untuk pertemuan tatap muka dan pengambilan keputusan. Sementara kantor digital akan marak dan di masa depan akan dirancang sesuai kebutuhan dan preferensi individu.

“Kami akan melihat kantor pintar akan mengadopsi lebih banyak teknologi yang saat ini dikembangkan di rumah-rumah pintar (smart home),” ujar dia. Tidak hanya untuk kantor, semua jenis realestat pun harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi termasuk di pasar pergudangan.

Tony Iuliano, Direktur Eksekutif, Kepala Industri & Logistik Pasar Modal JLL Australia menyebutkan kawasan pergudangan akan berevolusi lebih jauh lagi untuk memasukkan fasilitas pengasuhan anak, jogging track, sport centre dan fasilitas-fasilitas lain yang lebih besar untuk keperluan semua orang yang bekerja di kawasan tersebut. (Rinaldi)