ASPIRASI DAERAH

Transaksi Properti di Yogyakarta Melambat

Administrator | Rabu, 25 November 2020 - 15:10:51 WIB | dibaca: 101 pembaca

Ketua Realestat Indonesia (REI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Rama Adyaksa Pradipta

Meski portal pencarian properti Lamudi.co.id merilis bahwa selama masa pandemi Covid-19, Yogyakarta menempati posisi kedua sebagai lokasi yang paling banyak dicari masyarakat, namun secara transaksi belum ada perubahan signifikan pada pasar properti di daerah tersebut. 

Berdasarkan data Lamudi.co.id, pencarian properti di Yogyakarta pada Mei 202 mengalami peningkatan signifikan 29,84% dibandingkan April 2020.

Namun menurut Ketua Realestat Indonesia (REI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Rama Adyaksa Pradipta kondisi properti di Yogyakarta masih sama saja dengan masa sebelum pandemi. Perlambatan permintaan terjadi di hampir semua segmen pasar, dan pasar hanya mengandalkan ekonomi makro.

Dikatakan, sektor properti yang paling terdampak selama pandemi adalah perhotelan. Bahkan, menurut Rama, Yogyakarta menjadi daerah pariwisata urutan kedua setelah Bali yang terdampak paling parah oleh menyebarnya virus Covid-19. Sementara permintaan properti lain terutama residensial menengah atas sudah melambat sejak sebelum pandemi melanda dunia.

“Sejak awal tahun ini pengembang di Yogyakarta memang sudah tidak berani menargetkan pertumbuhan yang progresif. Apalagi dengan kondisi saat ini dengan merebaknya corona dan kondisi pertumbuhan ekonomi yang minus, tentu saja ini menjadi pukulah dahsyat bagi sektor properti,” ujar Rama kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Selain menunggu recovery, pengembang di DIY masih tetap berusaha karena sebagian kecil pasar masih ada permintaan terutama pada kelas end user kelas menengah dan menengah bawah. Khusus untuk rumah subsidi, menurut Rama, saat ini masih ada (transaksi) meski jumlahnya sangat terbatas.

DIY merupakan salah satu daerah yang tidak terlalu banyak membangun rumah subsidi karena harga lahan sudah sangat mahal.

Rama mengungkapkan bahwa rumah subsidi secara prinsip tidak terdampak Covid-19. Rumah subsidi lebih banyak dipengaruhi oleh berbagai hal seperti pencairan kuota subsidi, kecepatan proses akad kredit dan kemudahan bantuan fasos-fasum.

“Rumah subsidi kuotanya sangat terbatas, sedangkan untuk rumah seharga Rp300 juta hingga Rp700 juta masih ada. Sementara harga Rp700 juta ke atas apalagi untuk investasi masih stagnan,” papar dia.

Lakukan Efisiensi
Selama masa pandemi, diakui tidak ada penurunan harga properti di DIY, namun memang ada fleksibilitas cara pembayaran yang diberikan pengembang. Menurut Rama sebagian besar properti di DIY adalah indent sehingga calon pembeli punya keleluasaan lebih di dalam melakukan pembayaran.

Pengembang di DIY ujar dia, memiliki berbagai strategi termasuk melakukan efisiensi, termasuk dengan melakukan down grade spesifikasi dan mengganti ukuran rumah di kondisi saat ini dengan harga yang sangat sensitif.

Di sisi lain, untuk rumah subsidi meski dengan jumlah yang sangat terbatas, pengembang di bawah naungan REI juga tetap melakukan berbagai usaha termasuk jualan secara online. Selain melalui media online dan media sosial (medsos) milik masing-masing pengembang, REI DIY juga memiliki laman khusus bagi anggota yang ingin menggunakannya untuk membantu penjualan.

“Sangat efektif, apalagi untuk orang dengan karakter investasi dan bukan orang DIY, skema online sangat membantu pemasaran,” ungkap Rama.

Sementara itu, hingga saat ini belum ada stimulus maupun bantuan konkret dari pemerintah daerah (pemda) meski menurut Rama pemda memiliki itikad baik dengan berusaha menyederhanakan regulasi agar lebih mudah dan ringkas. Sayangnya, upaya ini butuh waktu dan tidak bisa diterapkan secara instan.

Di tengah kondisi cashflow yang memprihatinkan akibat melambatnya penjualan, saat ini ada beberapa anggota REI DIY yang melakukan restrukturisasi ke perbankan. Rama menjelaskan setidaknya 30% anggota REI DIY mengikuti program ini dengan prioritas pengembang subsidi. Hanya saja, tegas Rama, bantuan restrukturisasi ini tidak sesuai dengan apa yang disebutkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam rilis dan pemberitaannya.

“Bantuannya sangat berbeda berdasarkan kasus, ini mungkin membantu namun tentu saja ini hanya menjadi salah satu faktor supaya pengembang bisa terus bertahan,” ujar dia.

Meski bersyukur hingga saat ini belum ada pengembang di DIY yang benar-benar berhenti membangun, namun REI berharap kondisi ekonomi bisa segera membaik, karena hanya dengan begitu perekonomian di Yogyakarta kembali pulih dan diikuti oleh sektor properti. (Teti Purwanti)
 
Sumber: