Berita

Stimulus Sektor Properti Dibutuhkan

Administrator | Selasa, 17 Maret 2020 - 10:59:55 WIB | dibaca: 244 pembaca

Foto: Istimewa

SIKLUS pasar properti yang diharapkan bakal bangkit ternyata masih harus menelan pil pahit karena harus dihantam dengan berbagai hambatan, baik langsung maupun tidak langsung. Selain kondisi perang dagang yang belum usai, wabah virus korona menjadi faktor yang membuat ekonomi dunia terganggu, yang pastinya akan juga mengganggu sektor properti di Tanah Air.

Namun, CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, memberikan pandangan berbeda. Menurut dia, pemerintah harus memperkuat ekonomi nasional dengan peningkatan ekonomi lokal. Salah satu yang dapat memberikan stimulus pasar yang besar bagi ekonomi lokal ialah sektor properti.

"Pasar properti Indonesia saat ini masih didominasi pasar lokal. Dengan fundamental ekonomi saat ini yang relatif masih terjaga harusnya pemerintah dapat gerak cepat untuk menggenjot bisnis properti lebih tinggi untuk dapat menggerakkan sektor riil," ungkap Ali saat dihubungi, kemarin.

Ali mengatakan bisnis properti dapat menggerakkan setidaknya 174 industri terkait sampai dengan industri segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan demikian, industri-industri lokal dapat bergerak untuk menopang perekonomian nasional.

"Untuk meredam kondisi global yang tidak menentu dan hanya tergantung dengan pihak luar, sebaiknya pemerintah perlu mempertimbangkan dengan serius stimulus untuk bisnis properti. Properti bisa menjadi lokomotif untuk penyelamat ekonomi nasional," tegas Ali.

Seperti diberitakan, hantaman berat terjadi di sektor pariwisata dengan penurunan wisatawan yang menyebabkan penurunan drastis tingkat hunian hotel. Rencana pemerintah untuk menggairahkan pasar dengan turunnya harga tiket pesawat, bahkan dengan anggaran bagi influencer tidak membuat pasar merespons positif.

Perkembangan perdagangan pasar komoditas dan tambang yang sudah mulai naik di awal 2020 pun terhantam isu global, termasuk yang mutakhir, yaitu wabah virus korona (covid-19). Hal ini lebih disebabkan pengaruh tingkat permintaan dunia yang juga menurun. Ketergantungan dengan luar negeri membuat ekonomi nasional menjadi terpengaruh ketika terjadi guncangan global.

"Ini memang tak dimungkiri membuat pasar properti pun pasti terkena imbasnya dan dilanda kekhawatiran karena akan memberikan multiplier effect yang negatif ke sektor-sektor usaha lainnya, tapi kita harus optimistis dengan melakukan penguatan ekonomi nasional," jelas dia.

Keseriusan pemerintah
Tokoh pengembang perumahan subsidi, Asmat Amin, mengatakan pemerintah harus lebih serius untuk dapat memberikan perhatian lebih pada sektor perumahan. Tingkat permintaan yang tinggi tidak akan terserap tanpa anggaran perumahan dari pemerintah yang masih jauh dari cukup.

"Seharusnya pemerintah dapat mengalokasikan anggaran lebih untuk sektor perumahan, khususnya perumahan subsidi, karena ini yang permintaannya sangat besar. Bahkan, anggaran infrastruktur harusnya dapat ditahan dulu dan sebagian dialihkan untuk sektor perumahan," jelas Asmat.

Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI), Totok Lusida, mengatakan anggaran perumahan memang naik dari Rp9 triliun menjadi Rp11 triliun pada 2020 untuk memfasilitasi pembangunan sebanyak 102.500 unit. Namun, saat ini hanya tersisa kuota 86 ribu unit.

"Angka tersebut diyakini akan habis pada April mendatang," kata dia.

Untuk itu, kata dia, pemerintah pun telah mengeluarkan anggaran tambahan sebesar Rp1,5 triliun. Namun, angka itu diyakini belum cukup juga untuk dapat menyerap tingkat permintaan yang tinggi. (S-2)
 
Sumber: