Kilas Berita

PARIWISATA

Sepi Wisatawan, Industri Pariwisata Rugi Rp 60 Triliun

Administrator | Rabu, 14 Oktober 2020 - 16:04:07 WIB | dibaca: 18 pembaca

Foto: Istimewa

Industri pariwisata paling terdampak pasca merebaknya corona virus atau Covid-19. Diperkirakan, industri pariwisata kehilangan potensi pendapatan dari wisatawan asing sebesar US$ 4 miliar atau sekitar Rp 60 triliun sejak januari hingga April 2020 menyusul penurunan kunjungan wisatawan asing.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebutkan saat ini ada ribuan hotel dan ratusan restoran yang tutup sementara. Per 13 April 2020, menurut laporan PHRI, anggotanya telah menutup 1.642 hotel. Selain itu terdapat 353 restoran atau tempat hiburan yang tidak beroperasi. Daerah tujuan wisata yang paling merasakan penurunan jumlah wisatawan yaitu Manado, Bali, dan Batam.

“Ini waktu yang paling berat bagi kami di industri pariwisata,” ungkap Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani lewat konferensi videonya di Jakarta, baru-baru ini.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan sepanjang Januari hingga Februari 2020 hanya 2,16 juta orang. Jumlah ini turun 11,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, pada Februari 2020 tingkat keterisian hotel berbintang rata-rata berada pada posisi 49,2 persen, dan sejak Maret tingkat hunian hotel sudah nihil. Kondisi yang sama terjadi pula di industri restoran.

Masih menurut laporan PHRI, dari 1.642 hotel di seluruh Indonesia yang tutup, sekitar 501 hotel berada di Bogor, kemudian Bali 281 hotel, dan Jakarta 100 hotel.

“Saat ini banyak hotel yang sudah memberhentikan pekerja harian dan melakukan cuti di luar tanggungan perusahaan bagi pekerja kontrak,” kata Haryadi.

Sementara untuk hotel yang masih beroperasi, ungkap dia, biasanya beroperasi menerapkan waktu kerja secara bergiliran untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

“Kami sudah mengajukan beberapa rekomendasi keringanan terkait dengan perpajakan, baik bagi pemilik hotel, hingga bagi tenaga kerja. Setidaknya sampai kondisi pulih kembali,” ungkap Haryadi.

Beberapa pengelola hotel memilih menerapkan beberapa strategi supaya dapat bertahan di tengah kondisi penyebaran Covid-19. Misalnya pengelola hotel di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuat strategi dengan menawarkan paket menginap 14 hari dengan paket-paket yang menarik dan terjangkau.

“Tentunya, pelaksanaan paket menginap 14 hari ini disesuaikan dengan protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus Corona,” kata Ketua DPD PHRI DIY Deddy Pranawa Eryana.

Pelaku usaha hotel di daerah itu memberikan harga yang cukup terjangkau bagi konsumen yang akan mengakses paket menginap 14 hari tersebut. Diskon besar-besaran diberikan dengan rentang harga paket antara Rp 3 juta sampai Rp 6 juta selama 14 hari untuk maksimal dua tamu per kamar.

Dilansir dari Antara, Deddy mengatakan tamu hotel juga diwajibkan membawa surat keterangan sehat dari rumah sakit atau puskesmas terdekat dari hotel sebagai salah satu aturan dari protokol pencegahan COVID-19 yang dilakukan pelaku usaha hotel.

“Namun memang belum ada satu pun tamu yang mengakses paket tersebut karena memang tidak ada wisatawan yang datang,” keluh dia.

Stimulus Pemerintah
Selain industri perhotelan, data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemeparekraf) mencatat hingga pertengahan April 2020, sebanyak 180 destinasi dan 232 desa wisata ditutup. Kemenparekraf telah merealokasi anggaran sebesar  Rp 500 miliar sebagai langkah mitigasi menghadapi virus corona.

Dana tersebut akan disalurkan sebagai stimulus untuk para pelaku usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, agar bisa bertahan hingga pandemi Covid-19 berakhir.

“Kami akan melakukan program perlindungan sosial bagi para pelaku wisata, dengan realokasi anggaran Rp 500 miliar. Ini potensinya akan dikembangkan terus,” kata Menparekraf Wishnutama Kusubandio.

Anggaran tersebut salah satunya digunakan untuk menjadikan sejumlah hotel sebagai tempat penginapan tenaga kesehatan di berbagai rumah sakit rujukan penanganan Covid19.

Menurut Wishnutama, pemanfaatan hotel untuk tempat menginap para tenaga kesehatan tidaklah mudah karena hotel yang menjadi tempat menginap para tenaga kesehatan harus sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Realokasi anggaran juga akan digunakan untuk sejumlah kegiatan yang melibatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Contohnya, gerakan penggunaan masker kain, dengan target 1 juta unit, yang turut melibatkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Kegiatan lainnya yang diinisiasi Kemenparekraf adalah, mendorong pelaku UMKM di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menyiapkan makanan kering siap saji. Selain itu, Kemenparekraf juga akan mendorong program ketahanan usaha dan pemberian insentif ekonomi, bagi para pelaku sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Selain itu, ungkap dia, ada 1,1 juta tenaga kerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang akan mendapatkan Kartu Prakerja. Ada pula 2,1 juta UMKM yang akan mendapat bantuan dari pemerintah.

Khusus untuk pekerja kreatif, pemerintah tengah mengkaji pemberian bantuan sosial (bansos) secara langsung. Pemberian bansos secara langsung kepada pekerja kreatif akan melibatkan Kementerian Sosial. (Rinaldi)