ISU GLOBAL

Semua Sektor Properti di Asia Pasifik Pulih

Administrator | Senin, 18 April 2022 - 14:09:07 WIB | dibaca: 93 pembaca

Foto: Istimewa

Kinerja industri properti di kawasan Asia Pasifik terus menunjukan tren positif. Selain sektor perhotelan mewah, menurut laporan survei Colliers International sektor logistik juga sudah melebihi peningkatan transaksi saat sebelum pandemi.

Riset Outlook Investor Global 2022 yang dilakukan Colliers International mengungkapkan bahwa sektor industri dan logistik akan terus meningkat. Hingga kuartal IV-2021, investor yang masih menunda transaksi untuk mengantisipasi aliran modal dan investasi lintas negara mulai bergairah.

Hal ini seiring dengan peningkatan aktivitas perjalanan dan bisnis yang terus meningkat seiring berbagai adaptasi yang dilakukan saat situasi pandemi Covid-19.

Terence Tang, Direktur Pelaksana Pasar Modal dan Layanan Investasi Asia Colliers mengaku optimisme di sektor properti ini terjadi di hampir seluruh kawasan Asia Pasifik dan investor tengah menunggu momentum untuk segera masuk ke pasar dan memperluas portofolionya.

Ini membuat volume transaksi kembali pulih bahkan peningkatannya menjadi yang tertinggi sebelum situasi pandemi.

“Survei kami menyebutkan kinerja bisnis dari industri dan logistik menjadi yang paling dicari dengan lebih dari 20 investor mengharapkan keuntungan yang mencapai 10%-20% dari nilai modalnya,” kata dia, baru-baru ini.

Peningkatan bisnis dari sektor industri dan logistik turut mendorong sektor perkantoran. Untuk sektor tersebut bahkan telah menjadi favorit untuk kawasan seperti Singapura, Sydney, dan Tokyo dengan 63% responden menyatakan minat untuk membeli dan berinvestasi dalam aset ini dibandingkan tahun lalu yang persentasenya hanya 54%.

Meski bisnis dan perkantoran saat ini masih dijalankan dengan remote (online) kemudian berkembang menjadi pola hybrid, namun sentimen positif terus ditunjukan sektor ini. Hal itu menunjukan kepercayaan pada prospek pertumbuhan modal dan daya tahan pasar.

Berbagai pengembangan proyek mixed use maupun transit oriented development (TOD) juga telah menarik minat perhatian investor. Kinerja bisnis untuk sektor properti untuk wilayah Australia dan China juga menarik perhatian investor dengan hampir 50% responden menyatakan sedang mencari prospek pengembangan khususnya di kedua negara ini.

“Laporan ini juga menyatakan kalau Jepang menjadi target investor, mengingat Jepang sebagai satu-satunya pasar yang mapan. Beberapa responden juga menunjukkan minat pasar semakin terfragmentasi seiring semakin maraknya ragam bisnis properti khususnya di Singapura dan Hongkong,” sebut Terence Tang.

Perusahaan riset global lain juga melaporkan situasi bisnis properti di kawasan Asia Pasifik yang akan terus berkembang pada 2022. Ada banyak faktor pendorong seperti kinerja proyek mixed use, residensial, logistik, pusat data, dan sebagainya yang akan membuat sektor properti di kawasan ini semakin cerah.

Asia Pasifik diprediksi akan menjadi pendorong perekonomian. Itu ditunjukkan dengan transaksi kinerja bisnis yang terus meningkat di hampir semua sektor properti.

Berdasarkan laporan Asia Investor, saat ini perkantoran dan ritel memakan porsi 66% dari portofolio investasi di kawasan Asia Pasifik.

Menurut Chief Investment Officer & Head of Fund Management Asia Pasifik Real Estate Louise Kavanagh, sektor yang mencakup pengembangan mixed use, residensial, pusat data, dan logistik menjadi sektor properti yang tetap diminati karena memiliki landasan dari stabilitas pendapatan.

Hal yang sama berlaku untuk sektor-sektor yang fokus pada pergeseran demografi seperti kebutuhan tempat tinggal maupun fasilitas untuk senior living (manula) khususnya untuk pasar di Jepang dan Australia yang populasi manulanya besar.

Hotel Mewah
Sementara itu, riset dari ST – sebuah lembaga penyedia data industri perhotelan global menyebutkan pada 2021 pasar hotel mewah dunia sempat mengalami tingkat hunian rendah.

Sebagai contoh okupansi hotel mewah di China hanya 66,9%. Sedangkan di Timur Tengah hanya sebesar 50% dari era sebelum pandemi.

“Tetapi hotel mewah menunjukkan ketahanan yang lebih besar dalam memulihkan tarif rata-rata harian (average daily rate/ADR),” ujar laporan tersebut.

Disebutkan, tingkat ADR hotel mewah di semua wilayah pada tahun yang sama berada di kisaran 93,0% sampai 96,6% dari benchmark sebelum pandemi. Pemulihan terutama terjadi di wilayah Eropa dan Timur Tengah. 

Meskipun ketidakpastian seputar pandemi telah berpengaruh pada pipeline sejumlah proyek besar hotel mewah di seluruh dunia, namun investor masih tertarik terhadap bisnis tersebut. Saat ini terdapat 200.000 kamar hotel mewah dalam proses perencanaan, perencanaan akhir, maupun konstruksi.

“Pasokan kamar hotel mewah dunia diproyeksikan meningkat 17% jika semua proyek selesai selama dua hingga tiga tahun ke depan. Pertumbuhan tersebut merupakan bukti ketahanan industri,” kata riset tersebut.

Amerika Serikat mencatatkan sebanyak 17.199 suplai kamar mewah yang jika selesai dibangun atau pasokan tumbuh sebesar 13%. Sedangkan China akan membangun 42.055 kamar mewah atau pasokannya tumbuh 35%.

Lonjakan pasokan hotel mewah terbesar ada di Timur Tengah dan Asia Pasifik. Pasokan hotel mewah di Arab Saudi dan Qatar, misalnya, diproyeksikan meningkat 112% usai semua pembangunannya selesai.

“Itu bukan berita mengejutkan. Sebab, kawasan tersebut cepat meningkat sebagai tujuan wisata global,” sebut riset itu.

Permintaan tumbuh, terutama dari domestik pasar hotel mewah di Indonesia khususnya Jakarta. Four Seasons Jakarta, misalnya, mengatakan permintaan domestik terhadap hunian khususnya kelas Presidential Suite dan Ambassador Suite cukup tinggi.

Sementara The Westin Jakarta juga menyatakan telah meraih tanda positif pemulihan serta sedang mengikuti tren permintaan di pasar. Hal itu ditandai karena banyak tamu domestik tertarik pada Presidential Suite dengan menginap secara berkelompok baik itu bersama teman maupun keluarga. (Rinaldi)
 
Sumber: