KAWASAN

Sejak Awal Tahun, Permintaan Lahan Industri Sepi

Administrator | Kamis, 15 Oktober 2020 - 10:18:47 WIB | dibaca: 28 pembaca

Foto: Istimewa

Merebaknya wabah corona virus di hampir seluruh negara turut memengaruhi minat investor untuk melakukan transaksi lahan industri di indonesia. Apalagi sejak awal tahun, permintaan di hampir semua kawasan industri memang sudah sepi.


Director Industrial dan Logistics Colliers International Indonesia, Rivan Munansa, mengatakan sepanjang kuartal I-2020 penjualan lahan kawasan industri masih sepi, meski beberapa data masih belum bisa diakses karena para pekerja melakukan kerja dari rumah.

“Kalau dari polanya, kegiatan penjualan lahan industri di awal tahun ini sepi. Kalaupun ada penjualan itu terbantu karena transaksi penjualan yang belum selesai pada akhir 2019,” papar Rivan dalam paparannya, baru-baru ini.

Colliers mencatat hanya terjadi transaksi di Modern Cikande dengan luasan 21 hektare pada kuartal I-2020. Menurut Rivan, dampak yang paling mencolok dari pandemi corona adalah site visit yang jauh berkurang dari investor.

“Kalau proyeksinya kan tahun ini seharusnya optimis permintaaan membaik, namun kalau perekonomian terdampak cukup dalam oleh pandemi corona ini maka kemungkinan  investor tentu akan wait and see,” jelas Rivan.

Hal senada diungkapkan Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto pengelola kawasan industri diprediksi akan mendorong transaksi secepat mungkin jika ada investor yang melakukan penawaran lahan.

“Beberapa investor masih aktif mencari lahan yang memanfaatkan situasi dengan mencari harga lebih murah, mengingat pengelola dalam situasi seperti ini pasti akan mempercepat proses transaksi,” ungkap Ferry.

Dia memperkirakan isu corona virus belum begitu terdampak terhadap tenant (penyewa) di kawasan industri setidaknya hingga tiga bulan ke depan mengingat stok bahan industri masih mencukupi.

Namun tidak menutup kemungkinan akan ada juga tenant yang sudah mengurangi kapasitas produksi atau bahkan menghentikan produksi untuk sementara waktu. Ke depan, ujar Ferry, tenant akan lebih memilih untuk menahan ekspansi, namun tenant warehouse sudah mulai melakukan negosiasi rental mereka. Sektor yang paling banyak menyerap kawasan industri pada 2019 adalah otomotif sebanyak 48 persen, disusul dengan pengolahan minyak, plastik, dan lain-lain.

Sedangkan harga lahan industri tertinggi tercatat di Bogor dengan US$ 280 per meter persegi, disusul Bekasi US$ 210 per meter perseginya, Tangerang US$ 180 per meter persegi, Karawang US$ 170 per meter persegi, dan Serang US$ 150 meter persegi. Minat Investor

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Sanny Iskandar mengatakan bahwa permintaan lahan industri pada awal tahun ini sebenarnya cukup baik dengan melanjutkan tren penjualan pada kuartal IV-2019. Namun sayangnya, moncernya transaksi penjualan lahan industri hanya berlangsung sampai dengan Februari 2020.

Penjualan lahan mulai terhambat oleh merebaknya virus corona pada awal Maret yang disusul penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi gerak sosial masyarakat. Apalagi banyak investor asing di negaranya juga terdampak oleh merebaknya Covid-19.

“Adanya corona seperti sekarang ini memang penjualan agak tertahan,” ujar Sanny.

Tahun lalu, pertumbuhan penjualan lahan industri cukup pesat dengan total penjualan lahan sekitar 365 hektare, sedangkan pada 2018 sebesar 180 hektare. Hal ini lantaran kepercayaan diri investor mulai meningkat pascagelaran pemilihan umum.

Kendati demikian, dia tidak memerinci berapa total nilai dan luas penjualan lahan industri sepanjang kuartal I-2020 karena data-data sedang diolah.

Meski begitu, Sanny tetap optimistis bahwa investor masih melihat Indonesia sebagai peluang yang bagus. Buktinya, beberapa industri pusat data terus melirik peluang investasi di Tanah Air. Misalnya saat ini banyak perusahaan-perusahaan data center yang ingin masuk atau menjajaki peluang bisnis di Indonesia.

Tunda Ekspansi
Tertahannya penjualan kawasan industry mulai dirasakan oleh Grup Sinarmas, melalui PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), Managing Director Sinarmas Grup Gandi Sulistiyanto menjelaskan, banyak investor asing yang menunda ekspansi dengan pembelian lahan baru karena kebijakan karantina wilayah di negaranya masing-masing.

“Banyak perusahaan asing mengalami lockdown (karantina wilayah), ekspansi mereka tertunda. Semuanya masih serba menunggu sampai dampak virus akan berakhir nantinya,” urai Gandi.

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) juga harus menunda proyek Subang City Industry (SCI) yang seharusnya akan diluncurkan pada September 2020.

Vice President of Investor Relations SSIA, Erlin Budiman menyatakan, kendati ada proyek yang ditunda, penjualan lahan baru pada kuartal pertama tidak jauh berbeda dari periode yang sama tahun sebelumnya, meski ada sedikit perlambatan karena kebijakan setiap negara yang melarang warganya bepergian hingga Covid-19 mereda.

“Investor sebenarnya tidak menahan ekspansi, penundaan terjadi karena travel limitation dan visa, jadi ada proses yang terhambat dari biasanya untuk survei lokasi,” ungkap Erlin.

Sementara itu, manajemen PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menuturkan, sepanjang tiga bulan pertama tahun ini perseroan masih membukukan penjualan baik dari investor asing maupun lokal, meski ia mengakui dari porsi asing sedikit mengalami tekanan. 

Sekretaris Perusahaan Jababeka, Muljadi Suganda mengatakan di kuartal I-2020 Jababeka membukukan penjualan industri baik dari asing maupun lokal, dan di bulan April juga masih ada beberapa investor yang berminat untuk berinvestasi. (Teti Purwanti)