Berita

REI Usulkan Sunset Policy untuk Gairahkan Sektor Properti

Administrator | Selasa, 18 Februari 2020 - 10:45:20 WIB | dibaca: 69 pembaca

Foto: Istimewa

Bisnis perumahan mengalami tantangan berat sepanjang 2019. Tahun ini masih ada harapan terkait dengan meningkatnya pembelian rumah menengah serta sejumlah deregulasi.

Pasar perumahan terkontraksi dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan harga properti juga semakin melambat tiap tahun.

Ada sejumlah tantangan yang dialami pengembang. Antara lain, daya beli masyarakat yang rendah terhadap properti. Hal itu disebabkan masyarakat lebih suka menyimpan uang di bank atau membeli instrumen investasi lain di luar properti.

Pajak untuk pembelian rumah menengah atas sudah dilonggarkan. Namun, hingga menjelang akhir tahun lalu, belum terlihat pertumbuhan industri properti yang signifikan. Di sisi lain, pasar rumah menengah ke bawah masih meningkat.

“Kami sudah mengusulkan ke pemerintah agar ada sunset policy. Pemerintah pada konsepnya sudah setuju, tapi besaran nilainya masih dibahas,” kata Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida.

Menurut Totok, ke depan daya beli masyarakat untuk properti harus dipancing dengan keringanan pajak. Dia yakin pertumbuhan ekonomi juga akan terdorong jika sektor properti mendapat dukungan lebih.

Sebab, sektor properti mempunyai efek domino terhadap 174 sektor lainnya. Karena itu, multiplier effect dari sektor properti terhadap perekonomian cukup besar.

Tantangan ke depan adalah memudahkan regulasi. Pengusaha masih menanti omnibus law yang saat ini digodok pemerintah bersama DPR. Terlepas dari pro-kontra mengenai omnibus law, Totok berharap ada kepastian hukum yang dapat mendorong pertumbuhan sektor riil.

Namun, Totok juga berharap ada keadilan dari omnibus law tersebut. “Pekerja maupun pengusaha harus menerima manfaat. Jangan ada salah satu yang merugi atau dibebankan,” jelasnya.

Totok juga mengeluhkan anggaran subsidi untuk rumah murah yang masih rendah. Dia memperkirakan kebutuhan rumah tahun ini mencapai 300 ribu unit.

Namun, dengan anggaran subsidi yang rendah dan sistemnya yang dinilai rumit, hanya 86 ribu rumah murah yang mampu dipenuhi. “Tanpa FLPP (fasilitas likuiditas pembangunan perumahan) itu ruwet sekali. Sistem ini sebenarnya bisa dicarikan alternatif dengan skema-skema pembiayaan yang lain, tetapi pemerintah belum melirik itu. Ya pengusaha jadinya wait and see,” tuturnya.

Raih Pasar Milenial
Inovasi pengembang di bidang desain dan konsep perumahan juga penting. Sebab, menurut Totok, konsumen dari kalangan milenial akan mendominasi pasar ke depan. Hal tersebut menuntut developer turut mengembangkan konsep hunian ke arah yang lebih modern.

“Milenial itu maunya tinggal di apartemen yang smart. Hunian yang menggunakan teknologi dan pencahayaan cukup. Konsepnya sederhana, tapi tetap elegan,” katanya.

Inovasi di bidang konsep desain tersebut menandakan majunya peradaban dan perkembangan gaya hidup masyarakat ke arah modern, hemat energi, dan lebih sehat. Menurut dia, pasar properti ke depan masih diwarnai maraknya pembangunan apartemen baru di kawasan pinggiran kota.

PASAR PROPERTI RESIDENSIAL (Q3 2019)
Pertumbuhan indeks harga: 0,50 persen
Pertumbuhan penjualan: 16,18 persen
Sumber: BI

Sumber: