Berita

REI Minta Perbankan Respons Cepat Pemangkasan Suku Bunga BI

Administrator | Senin, 29 Juni 2020 - 11:02:09 WIB | dibaca: 37 pembaca

Foto: Istimewa

JAKARTA - DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia meminta perbankan segera merespons cepat penurunan suku bunga kredit sejalan dengan pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen. 

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Perbankan, dan Pembiayaan DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Umar Husin berpendapat penurunan suku bunga BI7DRRR menjadi angin segar bagi sektor properti. Kebijakan tersebut, diharapkan dapat mampu menjadi daya topang dan mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus sebagai stimulus bagi perbankan dan dunia usaha termasuk industri properti masa pandemi Covid-19. 

Terlebih, BI mencatat penjualan rumah di pasar primer selama kuartal I/2020 turun signifikan hingga 30,52 persen atau 43,19 persen secara tahunan, sehingga industri properti butuh amunisi supaya dapat kembali bergairah. 

"Dengan turunnya suku bunga BI7DRRR ini, akan dapat menurunkan suku bunga kredit menjadi lebih murah sehingga dapat meringankan beban biaya bagi dunia usaha," katanya pada Bisnis.com, Senin (22/6/2020). 

Hanya saja, Umar mengatakan bahwa penurunan suku bunga acuan itu kerap kali direspons lambat oleh perbankan. Berdasarkan pengalaman selama ini, jika BI sudah memangkas suku bunga acuan akan tetapi perbankan tidak serta merta langsung dapat menurunkan suku bunga kreditnya.

Bahkan, pihaknya menyayangkan bahwa perbankan ada yang baru merespons pemangkasan suku bunga BI itu satu tahun kemudian. Apalagi, suku bunga kredit konstruksi saat ini rata-rata masih di atas 10 persen.

Hal ini dinilai memberatkan pengembang di tengah bisnis properti yang masih lesu, di samping tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang juga masih terhitung tinggi. Tak hanya itu, perbankan juga belum optimal dalam menyalurkan restrukturisasi kreditnya. 

"Mengingat disaat pandemi Covid-19 ini dunia usaha termasuk para pengembang terdampak bisnis usahanya, maka perlu dibantu oleh perbankan dan diberikan stimulus dan relaksasi di kredit," ujarnya.

Dia mengingatkan bahwa jika bisnis properti tidak dapat bergerak maka ada kurang lebih 174 sektor ikutannya yang bisa terdampak, yang juga meliputi tenaga kerja. Hal yang tak kalah penting, katanya, jika bisnis properti tersebut berhenti maka akan berisiko pada meningkatnya kredit macet atau non-performing loan di perbankan. 

Untuk itu, imbuhnya, dengan adanya pemangkasan suku bunga REI berharap semua pihak dapat bersinergi dan berkolaborasi untuk kembali mengakselerasikan dunia usaha termasuk sektor properti guna menggerakkan dan meningkatkan roda perekonomian Indonesia di tengah pandemi.

Sumber: