ASPIRASI DAERAH

REI Malut Hanya Targetkan 500 Unit Rumah di 2021

Administrator | Senin, 22 November 2021 - 11:45:33 WIB | dibaca: 31 pembaca

Ketua DPD REI Malut, Halim Amrudani

Tahun 2018 dan 2019 menjadi tahun yang paling moncer bagi pengembang yang bernaung di bawah Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Maluku Utara (Malut). Kala itu, Dewan Pengurus Daerah (DPD) REI Malut bisa merealisasikan target hingga 1.200 unit rumah. Namun, tahun ini akibat “serangan” Covid-19, pengembang REI Malut di awal tahun hanya menargetkan 650 unit.

“Antusiasme tinggi, namun paling banyak target yang bisa dicapai 650 unit rumah subsidi yang kami pasang pada awal tahun. Kini, sudah setengah tahun berjalan, kami menargetkan 500 unit saja sudah baik,” ungkap Halim Amrudani, Ketua DPD REI Malut.

Adapun target 500 unit sudah lebih baik dari capaian tahun lalu yang mencapai 400 unit saja. Tahun lalu, hingga paruh pertama berakhir pengembang masih harus beradaptasi dengan kebiasaan baru usai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tahun lalu, setidaknya ada satu pengembangan oleh developer yang harus gagal dan gulung tikar hingga akhirnya di take over oleh pengembang lain sebagai dampak terparah dari virus corona.

Tahun ini pengembang optimis akan lebih baik dari tahun lalu, apalagi dengan perbankan yang diakui tidak seketat tahun lalu. Kalaupun ada masalah, menurut lelaki yang kerap disapa Alim tersebut adalah masalah koneksi yang memang tidak merata di beberapa daerah.

“Kami berharap agar hingga akhir tahun kuota tidak habis sehingga ada kerepotan baru,” harap Alim.

Selain kekhawatiran soal kuota, Alim menyebutkan kerap kali ada masalah dengan sistem BTN yang terintegrasi dengan berbagai instasi terkait, termasuk pertanahan dan Dispenda, serta Dukcapil. Menurut Alim, masalah surat-surat kerap tertunda jika belum terjadi sinkronisasi. Di sisi lain, Alim masih bersyukur karena saat ini, walaupun ada kendala tidak seperti bertahun-tahun lalu yang berlarut-larut.

“Secara umum semuanya sudah baik, perizinan pertanahan sudah relatif tidak ada masalah yang berarti, sudah bagus dan banyak perubahan. Sistem yang berjalan sudah online dan baik, kecuali masalah koneksi,” kata Alim.

Di sisi lain, dari 17 pengembang dan 28 proyek yang berjalan tahun ini, ada beberapa kabupaten seperti pengembang di Morotai dan Tertane yang belum berjalan. Meski begitu, menurut Alim masalahnya adalah masalah internal pengembang yang tengah diselesaikan masing-masing pengembang.

Adapun hingga akhir tahun, meski berusaha selalu optimis, Alim masih belum bisa memprediksi kondisi ke depan. Pasalnya, Alim menilai begitu banyak ketidakpastian saat ini, apalagi kalau sampai rencana penerapan SiPetruk benar-benar diterapkan.

Alim memastikan kalau selama ini pengembang di Malut sudah mengikuti aturan spek dari pemerintah, bahkan hingga saat ini tidak ada konsumen yang mengeluhkan bangunan yang dibangun oleh pengembang anggota REI.

“Kami tidak masalah kalau soal spek karena sudah mengikuti aturan, tapi kalau sampai SiPetruk berjalan apakah infrastruktur telekomunikasi di Malut sudah siap? Jangan-jangan nanti malah mempersulit pengembang, memakan dana dan juga waktu seperti yang terjadi saat SiKasep dan SiKumbang,” tegas Alim.

Pengembang REI di Malut, meski menolak SiPetruk juga telah mengikuti sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah pada Juni lalu.

Komersial Masih Lesu
Semenjak Maret, pemerintah memberikan insentif PPN kepada masyarakat yang membeli properti. Di beberapa daerah, banyak pengembang yang menikmati insentif ini sehingga penjualan rumah komersial di berbagai daerah meningkat pesat.

Namun tidak begitu dengan Malut, Alim menjelaskan insentif tersebut tidak terasa pengaruhnya di Malut karena beberapa tahun terakhir rumah komersial tidak begitu laku. Dia merinci kalau rumah komersial hanya laku 1-2 unit saja setiap bulan, sehingga pengembang pun tidak tertarik mengembangkan rumah subsidi.

“Hanya ada dua pengembang yang membangun komersial dan yang laku pun hanya rumah berkisar Rp200 juta hingga Rp300 juta, paling tinggi Rp700 juta, sedangkan Rp 1 miliar belum ada peminat,” ungkap Alim. (Teti Purwanti)
 
Sumber: