ASPIRASI DAERAH

REI Kalsel "Putar Otak" Buat Produk Rumah Komersial Rasa Subsidi

Administrator | Selasa, 16 November 2021 - 13:02:36 WIB | dibaca: 47 pembaca

Ketua DPD REI Kalsel, Ahyat Sarbini

Kehabisan kuota serta berbagai masalah yang kerap terjadi pada rumah bersubsidi membuat pengembang memutar otak agar bisa tetap berkontribusi kepada masyarakat untuk dapat memiliki rumah, termasuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Tidak heran, Ketua Dewan Pertimbangan Daerah (DPD) Real estat Indonesia (REI) Kalimantan Selatan (Kalsel), Ahyat Sarbini tengah terus berusaha bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mewujudkan tujuan tersebut.

“Komersial rasa subsidi bisa makanya kami tengah berusaha keras. Harga Rp164 juta itu bedanya di asuransi dan biaya-biaya lainnya, mudah-mudahan bisa segera terealisasi agar memudahkan masyarakat dan juga meringankan beban negara,” ungkap Ahyat kepada Majalah RealEstat.

Selain itu menurut Ahyat sudah dibentuk juga Pokja 11 untuk membahas hal ini. Meski begitu untuk tahun ini, REI Kalsel optimis realisasi akad kredit rumah subsidi akan lebih baik dibandingkan tahun lalu. 

“Kuota masih cukup banyak dan juga kebijakan PPN yang diperpanjang, serta perbankan yang mulai longgar, sehingga kami optimis akan lebih baik,” jelas Ahyat.

Sepanjang paruh pertama 2021, Ahyat memperkirakan sudah lebih dari 1000 rumah akad kredit. Tidak heran, pihaknya berharap pemerintah bisa menambah kuota rumah bersubsidi.

Apalagi dalam kondisi new normal ini perekonomian masih menuju penstabilan, sehingga masyarakat tetap perlu disubsidi dalam hal kredit kepemilikan rumah. Bukan cuma itu, masih antusisme dari masyarakat terhadap rumah subsidi juga membuat salah satu perbankan di Kalsel sudah menyerap lebih dari 70% rumah subsidi. Akibatnya, Ahyat berharap pemerintah bisa menambah kuota subsidi dan ada relaksasinya. Dengan demikian semakin banyak masyarakat yang dapat memiliki rumah.

Di wilayah Kalsel, lanjut Ahyat, serapan rumah subsidi paling di banyak di Banjarbaru, Kabupaten Banjar, kemudian di Banjarmasin, Batola, Banua Enam.

Selain kuota rumah subsidi ditambah, pihaknya juga berharap ada kenaikan harga rumah yang di subsidi itu, sebab saat ini harga beberapa bahan bangunan sudah naik.

“Harga rumah subsidi yang dijual saat ini masih pakai harga tahun 2020. Hingga pertengahan tahun ini belum ada kenaikan untuk menyesuaikan harga bahan bangunan. Jadi kami berharap pada trisemester kedua ada kenaikan harga menjadi Rp175 juta per unit,” kata Ahyat.

Sepanjang tahun ini, REI Kalsel berharap bisa merealisasikan target penyerapan rumah subsidi sebanyak 3.000 unit rumah. Target ini masih lebih banyak dibandingkan tahun lalu, sebanyak 2.500 unit rumah.

Namun, target itu menurut Ahyat bisa direalisasikan kalau SiPetruk tidak jadi dijalankan pada tahun ini. Ditambah lagi, PPDPP dan juga DPD REI Kalsel belum menemukan jalan tengah untuk rumah panggung yang tersedia di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Banjar, Banjarmasin, dan Batola yang belum bisa masuk SiPetruk.

“Kalau tidak ada SiPetruk kami akan makin optimis, bahkan bisa sampai 5.000 unit alias reborn seperti sebelum pandemi,” kenang Ahyat.
 
Naik Hingga 10%

Ahyat juga menyambut baik rencana pemerintah memperpanjang stimulus PPN. Tidak heran, sepanjang tahun ini, DPD REI Kalsel menargetkan 260 unit rumah komersial terjual alias naik 10% dibandingkan tahun lalu. Adapun secara rinci, rumah-rumah komersial yang paling banyak diminati adalah rumah dengan kiasaran harga Rp300 juta hingga Rp400 juta.

Untuk memaksimalkan stimulus PPN, REI Kalsel juga terus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia para anggotanya. Baru-baru ini, REI Kalsel juga melakukan pembelajaran public speaking, agar para anggota makin lihai dalam memasarkan proyeknya.

Menurut Ahyat, hal ini menjadi kegiatan rutin untuk meningkatkan kapasitas kemampuan setiap anggota. Apalagi di era new normal ini banyak hal yang baru yang harus dipelajari, termasuk dalam kemampuan teknologi informasi. (Teti Purwanti)
 
Sumber: