INFO DPD REI

Properti Segmen Menengah Atas Masih Tertekan

Administrator | Jumat, 16 Oktober 2020 - 13:10:57 WIB | dibaca: 26 pembaca

Foto: Istimewa

Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Balikpapan mencatat, pada triwulan I dan II 2020 indeks harga properti residensial (IHPR) mengalami penurunan 0,16 persen dan 0,11 persen. Penurunan terbesar berada pada segmen rumah besar. Sepanjang triwulan pertama tahun ini mengalami kontraksi hingga 2,57 persen. Sementara di periode kedua minus 2,07 persen.

Begitu pula segmen menengah, sempat tumbuh tipis di triwulan I sebesar 0,14 persen, memasuki triwulan II justru mengalami penurunan 0,13 persen. Kondisi yang masih bagus hanya di rumah kecil. Tahun ini masih mencetak pertumbuhan 1,99 persen di triwulan I dan 1,85 persen di triwulan berikutnya.

Kepala KPw BI Balikpapan Bimo Epyanto mengatakan, sektor properti masih sulit bangkit. Tecermin dari IHPR, dari segmen rumah menengah dan atas terus mengalami kontraksi. “Kondisi itu sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir, bahkan di 2019 saja untuk rumah besar mengalami kontraksi di tiap triwulan. Kalau menengah dan bawah masih naik meskipun tipis,” ucapnya, Rabu (7/10).

Pada triwulan III, untuk rumah kecil masih mengalami kenaikan 0,91 persen. Sedangkan rumah menengah dan besar masih mengalami kontraksi. IHPR di triwulan III secara yoy masih minus 0,41 persen.

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Kaltim Bagus Susetyo mengatakan, hingga saat ini memang tidak ada ekspansi di sektor properti. Sejumlah perusahaan bahkan mengurungkan niat meluncurkan properti baru. “Dampak negatif corona juga terasa di industri properti. Sekarang tidak ada lagi slogan beli sekarang atau harga naik pekan depan. Pengembang justru memberi diskon untuk menarik pembeli,” sebutnya.

Ia menjelaskan, pengembang besar saat ini memberikan diskon 10 hingga 25 persen dan bonus Rp 50 juta hingga Rp 300 juta. Sepanjang semester satu kemarin, pertumbuhan harga properti memang melambat. Bahkan Bank Indonesia memproyeksikan laju harga properti residensial masih melemah hingga kuartal ketiga 2020

Berdasarkan notasi khusus Bursa Efek Indonesia per 7 September 2020, PT Ayana Land International, misalnya, tercatat tidak memiliki pendapatan usaha dalam laporan keuangannya. Sedangkan PT Modern Internasional memiliki ekuitas negatif. Selain itu, PT Sentul City mengajukan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang atau PKPU yang dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Ada pula PT Cowell Development dan PT Hanson International dinyatakan pailit. Meski begitu, sejumlah pengembang besar seperti PT Ciputra Development masih bisa bertahan. Perusahaan itu bahkan terus melanjutkan pengembangan proyek baru meski kondisi pasar tak cukup baik.

Perusahaan memiliki strategi tertentu dalam menjual produk meski di tengah pandemi corona. Dalam kondisi pasar yang melambat, tetap ada beberapa properti masih bisa bertahan. Satu faktor pendorong di antaranya yaitu permintaan dan produk yang ditawarkan cocok dengan kalangan menengah. Misalnya, harga terjangkau dan produknya tidak berlebihan.

Sumber: