Internasional

Permintaan Turun, Pasar Properti di China Masih Lambat

Administrator | Selasa, 18 Oktober 2022 - 14:45:46 WIB | dibaca: 67 pembaca

Ilustrasi Kota di China (Foto: Istimewa)

Sejak 2021, pasar properti di China terus melemah tajam sebagai dampak tindakan keras pemerintah terhadap pinjaman berlebihan oleh pengembang, serta pandemi Covid-19 yang menyebabkan perlambatan ekonomi.
 
Meski begitu, beberapa langkah sudah diambil Pemerintah China untuk meningkatkan permintaan hunian seperti pe-motongan tingkat hipotek, uang muka yang lebih kecil, dan subsidi. Namun, prospeknya tetap belum berdampak karena pemerintah memberlakukan pembatasan ketat karena Covid-19 yang meningkat di puluhan kota sehingga membebani kepercayaan konsu-men terhadap investasi. 

“Masalah pasar properti di China kemungkinan akan memburuk tahun ini dengan tidak ada pertumbuhan harga rumah yang terlihat selama setahun penuh,” menurut jajak pendapat Reuters terbaru, yang dikutip baru-baru ini. 

Analis mengatakan persediaan perumahan nasional berada pada tingkat yang tinggi, terutama di kota-kota tingkat tiga dan empat yang menghadapi tekanan de-stocking yang besar karena permintaan melambat. 

Penjualan properti pada bulan April 2022, berdasarkan nilai, turun pada laju tercepat mereka dalam sekitar 16 tahun meskipun langkah-langkah pelonggaran kebijakan lebih ditujukan untuk menghidupkan kembali sektor ini. 

Pemotongan suku bunga lebih lanjut pada Mei 2022 yang bertujuan untuk mengurangi beban hipotek pembeli rumah, tidak banyak me-yakinkan investor dan analis bahwa mereka dapat meningkatkan per-mintaan. 

Fitch Ratings pada April 2022 menurunkan perkiraan penjualan properti berdasarkan nilai. Disebutkan penjualan diperkirakan turun 25%-30% pada 2022, lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan awal sekitar 10%-15%.
 
Regulator keuangan di China telah berjanji untuk menjaga pertum-buhan kredit stabil di sektor properti dan membantu pembeli rumah yang terkena dampak pandemi Covid-19 untuk dapat menunda pem-bayaran hipotek mereka. 

Sementara itu, banyak pengembang properti swasta di China telah memperketat ikat pinggang mereka karena menghadapi penurunan penjualan dan berjuang lebih keras untuk dapat mengakses pendanaan ke perbankan. 

“Ini akan memakan waktu berbulan-bulan lagi sebelum langkah-langkah pelonggaran regulator memiliki dampak material di pasar,” ung-kap jajak pendapat itu.
 
Beberapa pengembang mengindahkan seruan Beijing untuk mem-percepat dorongan ke bisnis ringan aset seperti layanan properti dan realestat komersial untuk mengurangi ketergantungan pada model utang tinggi dan omset tinggi yang disalahkan atas krisis likuiditas. 

Sektor konstruksi di negara tersebut mulai turun 44,19% pada April 2022 dari tahun sebelumnya. Dimana laju tercepat terjadi pada Januari- Februari 2020 di masa-masa awal pandemi.

Pengembang juga memperlambat kons-truksi baru karena mereka mencoba memper-tahankan modal, sehingga menambah ke-tidakpastian yang dihadapi pembeli rumah potensial untuk memiliki hunian di masa men-datang. 

Pertumbuhan pinjaman Yuan jatuh pada April karena pandemi mengguncang ekonomi dan melemahkan permintaan kredit. Data resmi menunjukkan pinjaman rumah tangga termasuk hipotek, dikontrak oleh 217 miliar Yuan, menunjuk ke pembekuan yang dalam di pasar. 

Hunian di Singapura 
Sementara itu, pasar properti di Singapura justru mengalami pemulihan dengan cepat, dimana harga unit hunian telah naik dalam dua tahun terakhir. Tren itu diperkirakan terus terjadi, meski ada upaya pemerintah untuk mendinginkan pasar. 

Data Dewan Perumahan dan Pengem-bangan Singapura menunjukkan, harga ru-mah susun umum juga naik sebesar 12,7% pada tahun lalu. 

“Sementara, harga perumahan pribadi bisa naik antara 1% hingga 3% pada 2022,” kata kepala penelitian di agen realestat Knight Frank Singapura, Leonard Tay. 

Direktur Senior Riset dan Konsultasi JLL Ong Teck Hui mengatakan, harga properti diperkirakan akan naik sekitar 2% hingga 4% tahun ini. “Kenaikan itu masih jauh lebih lambat da-ripada lonjakan harga tahun lalu. Pada 2021 harga rumah pribadi melonjak 10,6% diban-dingkan tahun sebelumnya,” jelasnya. 
 
Dalam upaya untuk mendinginkan pa-sar properti perumahan swasta dan publik yang sedang panas, Pemerintah Singapura memperkenalkan langkah-langkah kebijakan baru pada pertengahan Desember 2021. Salah satunya, penerapan pajak yang lebih tinggi untuk pembelian properti kedua dan selanjutnya, serta ada batasan pinjaman yang lebih ketat. 

Langkah-langkah itu mungkin berdampak kecil pada warga negara Singapura dan penduduk tetap yang membeli rumah untuk ditinggali. Meski demikian, para pembeli asing tampaknya mulai terhalang dengan aturan baru tersebut. (Teti Purwanti) 


Sumber: