PEMBIAYAAN

Perlu Langkah Konkret Dorong Penyaluran KPR Syariah

Administrator | Senin, 07 Maret 2022 - 13:54:49 WIB | dibaca: 125 pembaca

Foto: Istimewa

Minat masyarakat untuk membeli rumah dengan memakai skema pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Syariah setiap tahun terus meningkat. Data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan pembiayaan pemilikan rumah tinggal melalui perbankan syariah per Agustus 2021 mencapai Rp41,4 triliun.

Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) berharap bank-bank syariah makin gencar dan berkonsentrasi dalam penyaluran KPR termasuk KPR bersubsidi. Hal itu karena ada tren setiap tahunnya produk KPR bank syariah semakin diminati bahkan oleh masyarakat non-muslim, termasuk untuk rumah subsidi.

“Yang sekarang diperlukan ialah realisasi konkret KPR Syariah, karena sekarang sangat diminati, baik muslim maupun nonmuslim. Memang bunga lebih tinggi, namun lebih pasti,” ungkap Ketua Umum DPP REI, Paulus Totok Lusida pada Webinar Sharia Business BTN bertema Pembiayaan KPR Syariah: Tantangan dan Peluang di Era Industri 4.0 yang diadakan, Rabu (17/11/2021).

Dengan makin tingginya minat konsumen terhadap pembiayaan KPR berbasis syariah terutama untuk KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) Syariah, Totok berharap BTN Syariah dapat meningkatkan kuota penyaluran hingga tiga kali lipat.

Selain itu, seberapa besar kuota penyaluran KPR FLPP untuk bank syariah tahun depan perlu ada kepastian. Dengan begitu, bisnis syariah dapat terus berputar.

Totok menyayangkan selama ini kuota KPR subsidi bank syariah termasuk BTN Syariah sangat minim. Akibatnya, kuota KPR subsidi dari bank syariah terasa lebih cepat habis. Oleh karena itu, REI berharap, pemerintah bisa memperbaiki dan menambah alokasi kuota ini sehingga bisa memfasilitasi kebutuhan masyarakat dan end user.

Kepala Divisi Sharia Bank BTN Alex Sofyan Noor mengungkapkan Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) (BTN Syariah) siap memenuhi kebutuhan pengembang yang tergabung dalam asosiasi REI.

“Kami siap untuk melayani yang terbaik karena apapun juga REI adalah merupakan mitra dan stakeholder yang kami utamakan di BTN Syariah karena memang memiliki core business di bisnis properti,” tegas Alex seperti dikutip dari Industriproperti.com.

Dia menjelaskan, BTN Syariah sampai dengan 15 November 2021 telah menyalurkan KPR BP2BT syariah sebanyak 878 unit. Sampai dengan akhir November 2021, masih ada potensi KPR BP2BT kurang lebih sebanyak 1.600 unit.

“Harapan kami, 1.600 unit ini dapat habis pada November ini. Kami challenge kepada teman-teman developer dan kami juga dichallenge untuk merealisasikan 1.600 unit,” pungkas Alex.

Potensi Pembiayaan
Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Herry Trisaputra Zuna mengatakan, potensi pembiayaan syariah sangat besar. Mengingat penduduk Indonesia mayoritas muslim dan juga penduduk nomuslim yang berminat cukup banyak.

“Potensi pembiayaan syariah sangat besar terlebih penduduk yang mayoritas muslim. Bahkan yang nonmuslim pun tertarik karena nilai-nilai yang ada di syariah tadi,” ungkap dia.

Saat ini, kata Herry, pembiayaan perumahan syariah sudah dilakukan di FLPP yang nanti tentu akan dilanjutkan oleh BP Tapera. Baik penempatan di FLPP sendiri maupun dalam bentuk KPR Syariah yang diberikan kepada masyarakat.

Kementerian PUPR, lanjut Herry, telah menggandeng Bank Syariah dalam menyalurkan bantuan subsidi perumahan. Rinciannya, 15 bank syariah penyalur FLPP, satu bank syariah penyalur BP2BT dan 15 bank penyalur SBUM.

Herry menjelaskan, realisasi bantuan pembiayaan KPR bersubsidi tahun 2015-2021 sebanyak 1.285.798 unit rumah. Dari jumlah tersebut, porsi KPR bersubsidi syariah mencapai 15,9% atau sebanyak 203.878 unit. Sementara sisanya, sebesar 84,1 atau sebanyak 1.081.920 unit berasal dari KPR bersubsidi.

“Kalau kita lihat jumlahnya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sekitar 17 -18 persen,” kata Herry.

Di tempat terpisah, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP REI Royzani Sjachril mengatakan minat dan kesadaran masyarakat terutama di daerah untuk menggunakan produk KPR syariah semakin tinggi. Bahkan di masa mendatang tren pembiayaan syariah di sektor perumahan diperkirakan semakin gencar dilakukan.

“Masyarakat semakin banyak tuntutan ke arah syariah, karena itu temen-temen pengembang di daerah juga mulai banyak berpaling ke arah program properti syariah,” papar Royzani.

Dia berharap pemerintah memberikan dukungan terhadap pengembangan properti syariah. Apalagi, kata dia, peminat sektor perumahan berkonsep syariah saat ini tidak hanya berasal dari konsumen muslim tetapi juga konsumen nonmuslim. Sehingga potensi pasarnya diakui sangat besar.

Di sisi lain, kata Royzani, pemerintah juga memberi perhatian besar terhadap pengembangan perbankan dan pembiayaan syariah. Dukungan pemerintah terhadap pengembangan perbankan syariah itu dibuktikan dengan terus meningkat transaksi pembiayaan syariah secara nasional.

Di tengah pandemi Covid-19, total aset perbankan syariah secara nasional tetap tumbuh. Pada Juli 2021, aset perbankan syariah di tanah air tumbuh sekitar 16,35%, pembiayaan tumbuh 6,82% dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 17,98%.

OJK bahkan memperkirakan pangsa pasar keuangan syariah hampir mencapai Rp 2.000 triliun pada Juli 2021. Nilai itu di luar saham syariah. Artinya, market share pasar keuangan syariah mencapai 10,11% dari total industri keuangan nasional. Sementara dilihat dari sisi industri perbankan, angka market share-nya sudah mencapai 6,59%. (Rinaldi)
 
Sumber: