ISU PASAR

Survei Bank Indonesia

Perlambatan Penjualan dan Harga Properti Berlanjut

Administrator | Senin, 23 November 2020 - 15:51:46 WIB | dibaca: 119 pembaca

Foto: Istimewa

Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia (BI) mengindikasikan perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer masih bakal berlanjut di kuartal III-2020. Perlambatan terjadi di hampir semua tipe rumah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko mengatakan tren perlambatan itu terindikasi dari perkiraan pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal III-2020 sebesar 1,19 persen (year on year-YoY), lebih rendah dibandingkan dengan 1,59 persen (YoY) pada kuartal II-2020.

“Bahkan indeks ini lebih rendah dari kuartal III- 2019 yang mencapai 1,8 persen,” kata Onny dalam paparan Survei Harga Properti Residensial BI, baru-baru ini.

Dia menambahkan melambatnya pertumbuhan harga terjadi untuk seluruh tipe rumah pada kuartal II-2020. Pertumbuhan harga rumah tipe kecil, menengah, dan besar masing-masing diperkirakan 1,56 persen, 1,24 persen, dan 0,78 persen (YoY), lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang masing-masing 2,35 persen, 1,42 persen, dan 0,99 persen (YoY).

Perlambatan terjadi di sebagian besar kota yang disurvei terutama Medan dan Banjarmasin pada kuartal II-2020.

Penjualan Turun
Sementara itu, volume penjualan properti residensial pada kuartal II-2020 juga tercatat menurun. Hasil survei mengindikasikan bahwa penjualan properti residensial mengalami kontraksi 25,60 persen (YoY), meski tidak sedalam kontraksi 43,19 persen (YoY) pada kuartal sebelumnya. Penurunan penjualan properti residensial pun terjadi pada seluruh tipe rumah.

Hasil survei menunjukkan bahwa pembiayaan pembangunan properti residensial oleh pengembang terutama masih bersumber dari non-perbankan. Itu tercermin pada pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dana internal pengembang yang mencapai 67,67 persen dari total kebutuhan modal.

Sementara di sisi konsumen, pembelian properti residensial menggunakan fasilitas KPR sebagai sumber pembiayaan utama. Pangsa konsumen yang menggunakan fasilitas KPR dalam pembelian properti residensial adalah sebesar 78,41 persen.

End user Tahan Diri
CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda sependapat bahwa tren (perlambatan) ini akan terus berlangsung bukan hanya hingga kuartal III-2020 seperti prediksi BI tapi hingga akhir tahun ini.

“Itu terjadi karena end user yang cenderung memilih menahan diri demi mengamankan pemenuhan kebutuhan hidupnya di tengah kondisi ekonomi yang terguncang akibat wabah Covid-19,” ungkap Ali.

Hari Ganie, Wakil Ketua Umum Koordinator DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Tata Ruang, Pengembangan Kawasan dan Properti Ramah Lingkungan mengakui kasus Covid-19 yang terus meningkat di sejumlah wilayah membuat aktivitas masyarakat terganggu.

“Jadi, Covid-19 ini hambatan utama, sehingga kalau Covid ini diberesin, maka ekonomi naik. Jika ekonomi membaik, maka permintaan properti akan kembali pulih,” kata Hari seperti dikutip dari Bisnis.com.

Dia berharap Presiden Joko Widodo melihat industri properti ini secara komprehensif karena sektor properti melibatkan 175 industri ikutan yang mampu menjadi penggerak ekonomi nasional.

Hari menuturkan dikarenakan Covid-19 sudah terjadi selama 6 bulan, maka daya tahan pengembang semakin berkurang. Untuk itu dibutuhkan insentif dan restrukturiasi kredit khususnya untuk pengembang menengah ke bawah.

“Kalau baru diberikan pada 2021, itu telat karena yang sudah tutup bangkrut, sulit untuk ’dibangunkan’ kembali,” ujar dia. (Teti Purwanti)
 
Sumber: