TOPIK UTAMA

Perbankan (Juga) Ajak Masyarakat Tidak Tunda Beli Rumah

Administrator | Rabu, 24 November 2021 - 14:41:57 WIB | dibaca: 34 pembaca

Foto: Istimewa

Perbankan juga mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan khususnya para pembeli rumah pertama (first home buyer) untuk tidak menunda pembelian rumah. Pasalnya, begitu banyak kemudahan yang dapat dinikmati konsumen jika melakukan pembelian rumah saat ini.

“Para first home buyer, saat ini, jangan tunda lagi rencana untuk membeli rumah. Kami siap memberikan kredit pemilikan rumah (KPR),” ujar Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN), Haru Koesmahargyo, dalam sebuah diskusi virtual, Kamis (29/7/2021).

Menurut dia, para first home buyer yang membeli rumah saat ini akan mendapatkan banyak manfaat atau proteksi. Hal itu mengingat harga rumah relatif bertumbuh, terutama di segmen ukuran 36 meter persegi alias tipe 36. Haru mengatakan pihaknya melihat rumah ukuran kecil yakni tipe 36 tidak pernah turun harganya.

“Di tengah pandemi justru tumbuh berkisar 5%-7%. Untuk rumah mewah agak stagnan atau agak turun harganya, tapi ini juga sebuah peluang bagi masyarakat” jelas Haru.

Rumah, ditambahkannya, merupakan kebutuhan dasar dan memiliki setidaknya dua proteksi, yaitu sosial ekonomi. Saat punya rumah, para first home buyer bisa menempatinya sebagai tempat tinggal. Lalu, dari sisi proteksi ekonomi, harga rumah tidak pernah turun.

Haru menegaskan, kalau pun tidak membeli rumah tapak, tersedia juga pilihan berupa hunian vertikal berorientasi transit (transit oriented development/TOD) yang dibangun Perumnas. Hunian vertikal dengan akses transportasi yang bagus.

“Tahun 2022, hunian berkonsep transit oriented development (TOD) itu sudah tersedia. BTN akan beri pinjaman murah dengan KPR jangka Panjang,” papar Haru.

Diungkapkan, potensi pengembangan sektor perumahan masih sangat besar. Pasalnya permintaan hunian di Indonesia masih cukup tinggi, terutama untuk kelas menengah bawah. Saat ini backlog perumahan di Indonesia mencapai 11,4 juta, sedangkan backlog kepemilikan sekitar 7,6 juta unit. Belum lagi ada 61,7% keluarga bermukim di rumah yang tidak layak huni.

“Potensi sektor perumahan juga didukung angka pernikahan baru juga tumbuh cukup tinggi sekitar 1,8 juta setiap tahunnya,” kata Haru.

Hal senada diungkapkan Ignatius Susatyo Wijoyo, EVP Consumer Loan Bank Mandiri. Dia mengatakan permintaan KPR Bank Mandiri tetap berjalan meski di tengah pandemi. Dengan adanya relaksasi DP 0% dan pembebasan PPN diharapkan dapat membangkitkan bisnis KPR, apalagi tren suku bunga juga terus menurun.

“First home buyer untuk rumah KPR-nya saat ini masih ada bahkan trennya terus naik, namun untuk investor memang berkurang,” kata Susatyo.

Diungkapkan, Bank Mandiri telah menyesuaikan bunga KPR sebanyak tiga kali. Bahkan, jauh sebelum kebijakan LTV 100% atau DP 0%, bank terus terus berupaya memudahkan uang muka bagi calon nasabahnya.

“Jadi saat ini menjadi kesempatan bagi milenial atau konsumen yang masih ngekost atau tinggal di apartemen untuk membeli rumah sendiri. Karena tren di masa pandemi, orang bekerja dan belajar di rumah, “ jelasnya.

Dorong Minat
Survei Bank Indonesia (BI) mengungkapkan berbagai kebijakan yang digulirkan untuk mendorong perputaran roda bisnis properti mulai memperlihatkan hasil positif. Minat untuk investasi oleh rumah tangga di sektor properti mulai meningkat, terutama untuk ruko, rumah tapak, dan apartemen.

Disebutkan, kebijakan mendorong sektor properti dari sisi perpajakan oleh pemerintah, sisi makroprudensial dari BI, dan sisi mikroprudensial oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai efektif dan respons perbankan terhadap kebijakan itu juga cukup positif.

BI melonggarkan kebijakan uang muka untuk perumahan menjadi nol persen. Bank pun kini bisa menentukan besaran uang muka kredit pemilikan rumah (KPR) kepada nasabah, tergantung pada risk appetite dan manajemen risiko.

“Survei kami menunjukkan ada yang berani 100 persen tapi untuk pengembang-pengembang yang kredibel, ada juga yang masih 90 persen hingga 95 persen, tapi kita (BI) sudah buka sampai 100 persen,” kata Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung seperti dikutip dari Bisnis.com.

Dampaknya, menurut dia, minat untuk investasi oleh rumah tangga di sektor properti mulai meningkat, terutama untuk ruko, rumah tapak, dan apartemen. Namun, tidak demikian untuk perkantoran lantaran sekarang tidak terlalu diperlukan akibat kebijakan bekerja dari rumah.

“Yang juga positif, KPR juga terus tumbuh. Sementara kredit yang lain itu secara industri minus 2,28 persen, KPR sudah meningkat jadi 4,84 persen year-on-year. Kita patut syukuri ada tanda-tanda pemulihan sektor properti,” kata Juda.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo menyatakan bunga KPR yang diberlakukan perbankan sudah menurun selama 2 bulan terakhir, sejalan dengan kebijakan BI meminta perbankan melakukan transparansi atas suku bunga kredit.

Langkah tersebut, ungkapnya, memberikan sentimen positif kepada bank-bank untuk menurunkan suku bunga dasar kredit atau SBDK. (Rinaldi/Teti)
 
Sumber: