RISET

Kuartal I-2020

Penjualan dan Harga Properti Residensial Anjlok Tajam

Administrator | Jumat, 23 Oktober 2020 - 14:53:32 WIB | dibaca: 189 pembaca

Foto: Istimewa

Survei harga properti residensial Bank Indonesia (BI) menyebutkan penjualan properti residensial selama Kuartal I-2020 mengalami kontraksi cukup berat. Penurunan penjualan itu diikuti juga dengan tertekannya laju pertumbuhan harga properti residensial.

Secara tahunan, penjualan properti residensial dilaporkan anjlok tajam 43,19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY). Di triwulan I-2019 penjualan masih tumbuh tipis 1,19% (YoY).

“Penurunan penjualan properti residensial tersebut terjadi pada seluruh tipe rumah,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko dalam rilisnya kepada media, Rabu (13/5/2020).

Penjualan rumah tipe besar turun paling dalam yakni 41,01%, disusul rumah tipe menengah 34,39%, dan tipe rumah kecil (subsidi) sebesar 26,09 %.

Survei Harga Properti Residensial BI juga mengungkapkan melambatnya kenaikan harga properti residensial di pasar primer di kuartal I-2020. Hal itu tercermin dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal I-2020 sebesar 1,68% (YoY) atau lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya sebesar 1,77% (YoY).

BI memprediksi, perlambatan IHPR akan berlanjut pada kuartal II-2020 dengan pertumbuhan hanya sebesar 1,56% (YoY).

“Perlambatan Indeks Harga Properti Residensial terutama terjadi pada rumah tipe menengah dan besar, masing-masing tercatat hanya tumbuh 1,36% (YoY) dan 0,86% (YoY),” papar Onny.

Adapun, wilayah pertumbuhan IHPR yang tertinggi adalah Kota Medan sebesar 7,14% (YoY) dan Kota Makassar sebesar 2,43% (YoY). Disusul Bandung 0,87% dan Surabaya 0,82%.

BI menyebutkan peningkatan harga di kota-kota itu disebabkan adanya penyesuaian harga jual yang dilakukan pengembang perumahan di setiap awal tahun.

Sementara itu, dilaporkan bahwa dana internal perusahaan masih mendominasi sumber pembiayaan utama pengembangan dalam pengerjaan proyek perumahan dengan kontribusi mencapai 61,63%. Sedangkan mayoritas pembeli masih mengandalkan pembelian melalui cicilan KPR dengan kontribusi sebesar 74,73%.

Kinerja Emiten
Pengamat properti memprediksi lemahnya pasar properti di kuartal I-2020 salah satu penyebab utamanya akibat dampak penyebaran virus corona atau Covid-19 sejak awal Maret 2020.

Pengumuman resmi pemerintah mengenai korban positif Covid-19 yang disusul dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sangat memengaruhi minat masyarakat membeli properti termasuk menganggu aktivitas konstruksi.

“Kondisi perlambatan ini kemungkinan bisa berlangsung sampai akhir tahun mengingat belum adanya kepastian kapan virus itu akan mereda,” ungkap CEO Indonesia Property Watch Advisory Group, Ali Tranghanda, baru-baru ini.

Survei BI terkait penurunan penjualan yang begitu dalam terlibat juga pada kinerja emiten properti di kuartal I-2020. Misalnya penjualan dari anak usaha PT Ciputra Development Tbk (CTRA), yaitu PT Ciputra Residence yang terdampak Covid-19. Kebijakan PSBB membuat berbagai peluncuran produk properti residensial menjadi terhambat.

Tahun lalu, pendapatan dari hasil penjualan properti residensial Ciputra Residence mencapai 75% dari total pendapatan perusahaan sepanjang 2019. Namun penjualan tahun ini dipastikan akan terganggu. Di kuartal I-2020 Ciputra Residence memprediksi pendapatannya akan turun sampai 25%.

“Laba bersih untuk jangka waktu 31 Maret 2020 atau 30 April 2020 diperkirakan turun 25% dibandingkan dengan jangka waktu 31 Maret 2019 atau 30 April 2019,” tulis Ciputra Residence dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, baru-baru ini.

Ciputra Residence juga tengah mengajukan relaksasi atau restrukturisasi utang. Selain itu, perusahaan juga menerapkan taktik penjualan online, efisiensi dan membatasi arus kas dengan ketat.

Sedangkan, pengerjaan konstruksi di lapangan tetap dilakukan dengan protokol khusus Covid-19 dengan berkoordinasi antara kontraktor dan pengembang.

“Sistem pemasaran digital dan pemilihan unit secara online akan menjadi salah satu inovasi perusahaan kami di tengah kondisi sulit seperti sekarang ini,” ungkap Direktur Marketing PT Ciputra Residence, Yance Onggo, dalam satu acara webinar, baru-baru ini.

Emiten properti PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) juga mencatatkan penurunan laba bersih hingga 58% pada kuartal I-2020. Kenaikan beban bunga dan kinerja entitas perusahaan patungan menjadi salah dua penyebab penurunan laba anak usaha Sinarmas Land itu.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan perseroan, Rabu (13/5/2020), laba bersih Bumi Serpong Damai mencapai Rp 259,64 miliar pada kuartal I-2020. Secara umum, pendapatan emiten itu turun 8,23% menjadi Rp 1,49 triliun per kuartal I-2020 secara year on year (YoY).

Sedangkan emiten properti PT Sentul City Tbk (BKSL) memperkirakan laba bersih kuartal I-2020 akan turun sebesar 75% dibanding kuartal I-2019 sebagai dampak merebaknya pandemi Covid-19.

Demikian dikutip dari keterbukaan informasi emiten itu kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (26/5/2020).

Perusahaan menyatakan sudah menghentikan sebagian operasional perseroan selama tiga bulan terakhir. Beberapa kegiatan operasional yang dihentikan antara lain penghentian penjualan properti di Sentul City dan Serpong, penghentian Hotel Neo dan penghentian Hotel Alana di Sentul City.

Padahal, unit-unit usaha yang dihentikan kegiatan operasional tersebut sejatinya menyumbangkan hingga 75% dari total pendapatan perseroan. Sehingga diperkirakan akan menekan pendapatan perseroan di tahun ini hingga 75%. (Rinaldi)