ISU GLOBAL

Peningkatan Jumlah Migran Pacu Pasar Properti Australia

Administrator | Selasa, 15 November 2022 - 11:58:37 WIB | dibaca: 52 pembaca

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Dewan bisnis Australia atau Business Council Of Australia (BCA) telah menyerukan adanya tambahan arus migrasi yang cukup tinggi selama dua tahun ke depan. Kebijakan tersebut dinil ai pelaku usaha properti di negeri kangguru tersebut sebagai peluang pasar.
 
“Kami setuju dengan sikap Dewan Bisnis Australia yang menyerukan kepada Pemerintahan Albanese (Perdana Menteri Anthony Albanese) untuk meningkatkan jumlah migran yang masuk ke Australia guna membantu pemulihan ekonomi Australia,” kata CEO Crown Group, Iwan Sunito dalam konferensi pers dengan media Indonesia lewat meeting zoom, baru-baru ini. 

Migrasi turun selama pandemi dan saat ini dibatasi pada 160.000 jiwa. Business Council of Australia ingin meningkatkan batasan terse-but menjadi 220.000 jiwa pada tahun 2022-2023 dan 2024. Dampak penutupan perbatasan internasional terkait pandemi Covid-19 meng-akibatkan penurunan jumlah migrasi selama enam kuartal secara ber-turut-turut. 

Pertumbuhan penduduk selama 12 bulan terakhir sepenuhnya disebabkan oleh peningkatan alami (penambahan 136.200 jiwa), se-mentara migrasi dari luar negeri negatif (berkurang 67.300 jiwa) sela-ma periode tersebut. 

“Tambahan migrasi ini akan berdampak pada jumlah tenaga kerja di Australia. Oleh karena itu, Pemerintah Australia telah mengeluarkan kebijakan pelonggaran jumlah waktu kerja bagi mahasiswa asing yang sebelumnya dibatasi hanya20 jam seminggu,” ujar Iwan Sunito. 

Langkah pelonggaran jumlah waktu kerja bagi mahasiswa asing ini akan berlaku segera untuk semua siswa yang saat ini sudah berada di Australia ataupun yang baru akan tiba, termasuk mereka yang baru mengajukan izin kerja siswa baru. 

Para pelajar tersebut bahkan dapat bekerja sebelum program studi mereka dimulai. Mereka juga akan dapat bekerja lebih dari 40 jam setiap dua minggu di sektor ekonomi mana pun. 

Berdasarkan Biro Statistik Australia, pada akhir Juni 2019, ada sekitar 88.740 orang kelahiran Indonesia tinggal di Australia, 29,4% lebih banyak dari jumlah pada Juni 2009. Jumlah ini adalah salah satu komunitas migran terbesar di Australia, atau setara dengan 1,2% ko-munitas migran Australia dan 0,3% dari total populasi Australia.
 
Sementara jumlah mahasiswa Indonesia di Australia yang terca-tat per tanggal 28 Juni 2021 yakni sebanyak 12.645 mahasiswa. Ini menempatkan Indonesia di peringkat 6 jumlah mahasiswa asing terbanyak di Australia setelah Tiongkok, India, Nepal, Vietnam dan Malaysia.
 
“Di sinilah terlihat posisi strategis Indonesia,” ungkap Iwan Sunito. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang dikunjungi setelah terpilih pada Mei 2022. 

Pertemuan antara kedua kepala negara tersebut membahas ten-tang perdagangan dan investasi bilateral, kerjasama di bidang iklim dan energi, serta kepentingan regional dan global. 

Yang terpenting dalam kunjungan ini adalah keinginan kedua belah pihak untuk membuka potensi Indonesia-Australia Comprehen-sive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Joko Widodo juga menyampaikan harapan-nya kepada Anthony Albanese mengenai penambahan kuota working holiday hingga 5.000 peserta per tahun. 

Kebijakan ini akan memberikan pengala-man yang bermanfaat bagi para pekerja usia muda dari Indonesia, serta membantu Australia dalam memenuhi kebutuhan tena-ga kerja musiman. Kebutuhan hunian di Aus-tralia pun akan meningkat. 

Konsep Green Building 
Dalam kesempatan tersebut, Iwan Sunito juga menanggapi kebijakan Pemerintah Aus-tralia untuk menjadikan kota-kota di Negara tersebut sebagai kota global dalam hal de-sain dan pengembangan kawasan yang ber-kelanjutan. 

Dia menyebutkan hasil dari Pemilihan Federal Australia baru-baru ini mengirimkan pesan yang jelas dari para pemilih bahwa perlu ada fokus yang lebih besar pada kon-sep hijau dan berkelanjutan yang positif bagi lingkungan di semua bidang termasuk pe-ngembangan properti. 

“Hal ini sejalan dengan rencana Pemerin-tah Australia untuk mencapai net zero emis-sions pada tahun 2050,” kata Iwan Sunito. 

Rencana yang berbasis teknologi tersebut telah menetapkan jalur yang kredibel untuk mencapai net zero pada tahun 2050, sambil melestarikan industri yang ada, menjadikan Australia sebagai pemimpin dalam teknologi rendah emisi. Hal ini didasarkan pada kebija-kan yang ada dan akan dipandu oleh lima prinsip yang akan memastikan peralihan Australia ke net zero economy tidak akan me-ngancam industri, wilayah, atau pekerjaan yang sudah ada sebelumnya. 

“Di Crown Group, kami telah menerapkan prinsip-prinsip dasar green building semenjak tahun 2010, menciptakan tren hunian baru di dunia. Komitmen itu bisa terlihat dalam pekerjaan kami di Arc by Crown Group, Infinity by Crown Group, Waterfall by Crown Group, The Grand Residences dan sekarang Mastery by Crown Group,” jelasnya. 

Menurut Iwan Sunito, konsep yang me-nyatu dengan alam, penggunaan material berbahan dasar kayu dan bisa daur ulang, ruang tamu yang luas dengan sirkulasi uda-ra maksimal serta keberadaan pintu kaca besar memungkinkan sinar matahari dapat menyinari secara alami, sehingga mengurangi konsumsi listrik. (Rinaldi)


Sumber: