INFRASTRUKTUR

Pemerintah Galakkan Pembangunan Terowongan Jalan di Indonesia

Administrator | Rabu, 12 Februari 2020 - 09:46:37 WIB | dibaca: 18 pembaca

Foto: Istimewa

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi pembangunan terowongan karena topografi Indonesia yang beragam mulai dari dataran rendah, perbukitan hingga pegunungan.

Pembangunan terowongan jalan memiliki kelebihan dalam menjaga alam dan lansekapnya, serta memangkas jarak tempuh, namun perlu dipertimbangkan dari sisi biaya dan risiko konstruksi.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan infrastruktur terowongan bukan merupakan teknologi baru di Indonesia. Teknologi terowongan sudah diterapkan pada pembangunan bendungan berupa saluran pengelak. Namun di bidang jalan memang agak terlambat.

“Untuk itu, kita dorong agar lebih banyak terowongan dalam pembangunan jalan,” kata Menteri Basuki pada acara Seminar To Introduce Tunnel Planning and Technology, yang diselenggarakan atas kerjasama Kementerian PUPR dan Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan narasumber utama Prof. Nobuharu Isago, di Auditorium Kementerian PUPR Jakarta, Senin (16/9/2019).

Terowongan yang tengah dibangun Kementerian PUPR saat ini berada di ruas tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) dengan panjang 472 meter dan diameter 14 meter. Pembangunannya menggunakan metode New Austrian Tunneling Methods (NATM). Selain NATM, terdapat juga metode Tunneling Boring Machine (TBM) yang digunakan dalam pembangunan jalur Moda Raya Terpadu (MRT) di Jakarta.

Teknologi terowongan juga akan diterapkan pada ruas tol Padang- Pekanbaru sebanyak lima terowongan dengan total panjang 8,95 km yang menembus Pegunungan Bukit Barisan. Selain di infrastruktur jalan, terowongan saat ini juga banyak digunakan dalam pembangunan seperti Bendungan Kuwil, Way Sekampung, dan lainnya.

Selain itu, menurut Menteri Basuki, Kementerian PUPR bekerjasama dengan Pemerintah Jepang tengah menyiapkan perencanaan pembangunan terowongan pada ruas tol Bengkulu-Muara Enim. Pembangunan terowongan ini memiliki tantangan luar biasa karena menembus kawasan Bukit Barisan yang merupakan kawasan rawan bencana gunung api dan gerakan tanah, sehingga upaya mitigasi bencana pada tahap perencanaan menjadi sangat penting.

Direktur Jenderal Bina Marga Sugiyartanto mengatakan, terowongan merupakan inovasi konstruksi modern. Menurutnya, terowongan dapat menjadi alternatif pemanfaatan ruang bawah tanah. “Pembangunan terowongan merupakan pemanfaatan underground space yang efektif,” ungkapnya. 

Disebutkan, salah satu proyek terowongan yang sukses yaitu pembangunan MRT Jakarta. MRT menjadi contoh sukses karena dapat menekan kemacetan Jakarta.

“MRT ini menjadi solusi kemacetan di DKI Jakarta, MRT dibangun di pusat kota yang padat dan diselesaikan dengan gangguan minimal pada wilayah sekitar. Solusi yang sama bisa digunakan di kota besar,” papar dia.

Kementerian PUPR telah membentuk Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) yang bertujuan meningkatkan ketertiban dalam penyelenggaraan dan peningkatan keamanan serta untuk meningkatkan keandalan jembatan khusus dan terowongan sehingga dapat mencegah atau mengurangi risiko kegagalan bangunan.

Tugas komisi ini mengkaji dan mengevaluasi keamanan jembatan mulai dari tahap desain, pemanfaatan hingga tahap pemeliharaan. Anggota KKJTJ terdiri dari ahli jembatan dan terowongan dari Kementerian PUPR, akademisi dan praktisi.

Perubahan Kultur
Di tempat terpisah, Menteri Basuki turut mendorong pelaku industri jasa konstruksi nasional untuk melakukan inovasi, kreativitas dan perubahan kultur sebagai kunci memenangkan persaingan dan membangun daya tahan industri konstruksi di tengah pelemahan ekonomi global.

Hal ini penting karena Indonesia saat ini menjadi pasar konstruksi terbesar di Asia Tenggara dan peringkat empat di Asia. Sektor konstruksi juga turut memberikan kontribusi hingga 10% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia.

Inovasi diperlukan sebagai adaptasi terhadap perubahan global salah satunya perkembangan pesat teknologi informasi. Penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi oleh para pelaku industri konstruksi Indonesia menjadi keniscayaan untuk bisa bersaing dalam kompetisi global.

Salah satu teknologi yang tengah di dorong Kementerian PUPR adalah aplikasi Building Information Modelling atau BIM. Kementerian PUPR selaku regulator, turut beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dengan menjadikan penerapan BIM sebagai syarat untuk menjaga kualitas proses konstruksi.

Diharapkan dunia konstruksi juga terpacu untuk mulai meningkatkan kemampuan dan praktek penggunaan BIM sebagai kewajiban di seluruh proyek.

“Penggunaan BIM sudah dimulai oleh Puslitbang Permukiman dalam perencanaan bangunan dan berkembang saat ini digunakan dalam perencanaan pembangunan Stadion Manahan Solo. Kedepan kita kembangkan dalam membangun bendungan,” kata Menteri Basuki usai membuka Konferensi Internasional Asosiasi Kontraktor Indonesia ke-48 di Bali, Jumat (13/9/2019).

Turut hadir Ketua ASEAN Constructors Federation (ACF), Joseph Pangalila, Presiden International Federation of Asian and Western Pacific Contractors, Mohammad Ali Janah, dan Ketua Asosiasi Kontraktor Indonesia, Budi Harto.

Manfaat dari penggunaan teknologi ini antara lain, meningkatkan efisiensi dan akurasi, proses desain dan konstruksi yang lebih ramping dan transparan, akurasi dalam setiap perhitungan, menghindari kesalahan mulai perencanaan hingga pelaksanaaan, waktu pelaksanaan yang lebih cepat dalam suatu proyek konstruksi.

Hal tersebut, memang tidak terlepas dari kemampuan BIM yang dapat mensimulasikan seluruh informasi proyek bangunan atau konstruksi ke dalam bentuk model 3D sampai 7D, yaitu dengan menerapkan building data, project schedule, cost planning, energy analysis dan operation serta maintenance.

Perkembangan teknologi digital juga dimanfaatkan para kontraktor untuk mengaplikasikan metode lean construction pada proyeknya. Metode ini difokuskan untuk menghilangkan aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah atau dianggap sebagai pemborosan maupun kerugian.

Tujuan lain dari penerapan lean construction adalah untuk memberi efek positif pada ketepatan waktu penyelesaian, kualitas dan biaya operasional yang dikeluarkan. Lean construction mengadopsi budaya kerja Toyota dan metode Toyota dalam proses produksi yang meminimalisir pemborosan namun produk yang dihasilkan tetap memenuhi kualitas yang diinginkan.

Ketua AKI Budi Harto optimistis pasar konstruksi Indonesia bisa tumbuh ditengah perlambatan ekonomi global. Salah satunya adalah rencana Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur yang membutuhkan biaya sekitar Rp 466 triliun dari APBN, Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha serta investasi. (Rinaldi)