Sajian Utama

Pembiayaan Semakin "Riuh"

Administrator | Kamis, 12 Mei 2016 - 14:37:58 WIB | dibaca: 1479 pembaca

Derap pembangunan program sejuta rumah di daerah semakin kencang. Bila di awal program ini berjalan, pengembang di daerah mengalami kendala dan minim dukungan, di tahun kedua pelaksanaan program ini, satu persatu masalah berhasil diurai.

Pemecahan masalah ini setidaknya berkat koordinasi yang rajin dilakukan oleh pengembang daerah dengan DPP REI yang intensif menjaring persoalan yang terjadi di daerah. Bukan hanya itu terobosan dan kreativitas dengan sesering mungkin bertemu dengan pemerintah juga menjadi pemecah jalan buntu.  

Jum’at, 19 Febuari 2016, bertempat di Kantor Bank Artha Graha (AG) Cabang Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), DPD REI NTT dan Bank AG Kupang melakukan pemecahan masalah pembiayaan melalui penandatanganan kerja sama dukungan pembiayaan kredit kepada seluruh anggota REI NTT.

Komitmen dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara pengembang anggota REI dengan Bank AG Cabang Kupang, salah satunya PT Pembangunan Sehat Sejahtera  yang mengembangkan dua lokasi perumahan Rumah Sederhana Tapak (RST), yakni Perumahan Pondok Indah Matani dan Sejahtera Land Oetalu yang keduanya terletak di Desa Penfui Timu, Kabupaten Kupang.

Dalam kesepakatan disebutkan tentang kerja sama bidang pembiayaan kredit perumahan baik komersial maupun kredit Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yakni program sejuta rumah bagi masyarakat dari pemerintah melalui

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). “Pada intinya Bank AG sangat berkomitmen mendukung pembiayaan kredit konstruksi setiap anggota REI dalam program sejuta rumah,” kata Bobby Lianto, Ketua DPD REI NTT.

Bobby Lianto bertindak mewakili REI sedangkan dari Bank AG dihadiri Pimpinan Bank Artha Graha Cabang Kupang, Fransiskus Landu Praing disaksikan segenap pengurus DPD REI NTT bersama Tim Kredit Bank AG dan Notaris.

Fransiskus Landu Praing mengatakan komitmen Bank AG dalam mendukung program pemerintah tersebut sangat kuat. Bank AG menjanjikan pelayanan terbaik dan cepat dengan membentuk tim khusus yang akan menangani dan memastikan SP3K dapat segera diterbitkan dan dapat dilaksanakan.

Bobby Lianto menjelaskan, untuk membuka akses kredit serta dukungan pembiayaan bank maka DPD REI NTT terus menjalin kerja sama dengan bank-bank yang menyalurkan kredit FLPP dari pemerintah dan saat ini telah ada empat bank; BTN, Bank NTT, BRI dan Bank AG.

Dengan demikian Bank AG menjadi bank swasta pertama yang menyalurkan FLPP di NTT. “Semoga dengan semakin banyaknya bank pendukung maka konsumen atau masyarakat semakin diuntungkan,” katanya.

Masih terkait pembiayaan, di Jakarta, PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) mengalirkan pinjaman melalui program refinancing Kredit Pemilikan Rakyat (KPR) kepada PT BTN (Persero) Tbk sebesar Rp 1 triliun yang terdiri dari 14.507 debitur KPR untuk mendukung program sejuta rumah.

Program ini juga merupakan bentuk dukungan SMF dalam mendukung program sejuta rumah pemerintah kepada BTN yang pasti membutuhkan dana besar.  

“Pinjaman kepada BTN merupakan pinjaman terbesar dari keseluruhan pinjaman SMF kepada bank-bank yang dibiayai oleh SMF,” kata Direktur BTN, Imam Nugroho Soeko.

Program sejuta rumah bukan menjadi tugas yang harus dipikul oleh Bank BTN, ini menjadi tugas bersama karena ini merupakan program pemerintah.

“Kami optimistis program sejuta rumah ini dapat berjalan efektif lagi di tahun ini. Banyak sekali perubahan dan perbaikan yang dilakukan pemerintah,” kata Ketua Umum DPP REI, Eddy Hussy.

Eddy mengatakan, untuk menyukseskan program ini dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak baik dari pusat maupun daerah. Ini dilakukan agar adanya kesepahaman baik dari segi konsep, zonasi, insfrastruktur dan penyediaan sarana dan utilitas.

“Peran Pemda juga sangat penting. Dari pusat bisa memberi terobosan dari sisi pembiayaan, bunga dan penyederhanaan perijinan. Tapi tentunya juga perlu dukungan dari pemda agar ini bisa berjalan,” katanya.

Pada 2015 lalu REI membangun sebanyak 164.360 unit rumah FLPP. REI melihat pencapaian program sejuta rumah 2015 cukup baik. Pada 2016 ini REI menargetkan yakni membangun 244 ribu rumah FLPP di seluruh Indonesia. Ini adalah komitmen target yang realistis.

“Kami akan melakukan evaluasi terus menerus sambil melihat perkembangan yang terjadi,” ujar Eddy Hussy.