ASPIRASI DAERAH

Pembangunan Rumah Subsidi di Sulteng Kembali Menggeliat

Administrator | Rabu, 09 Oktober 2019 - 10:37:33 WIB | dibaca: 253 pembaca

Ketua DPD REI Sulteng, Musafir Muhaimin

Aktivitas pembangunan properti terutama hunian di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) kini sudah mulai menggeliat, pasca musibah gempa dan tsunami yang melanda sejumlah daerah di Sulteng pada 2018 lalu.

Begitu pun, tahun ini DPD Realestat Indonesia (REI) belum mematok target tinggi untuk pembangunan rumah subsidi. Padahal, target tahun lalu dipatok naik tiga kali lipat dibandingkan target tahun-tahun sebelumnya.

Ketua DPD REI Sulteng, Musafir Muhaimin, mengungkapkan target pembangunan rumah bersubsidi untuk MBR di provinsi tersebut pada tahun ini paling kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yakni hanya 1.200 unit.

“Pertama karena kondisi pengembang di Sulteng belum semua pulih pasca musibah gempa dan tsunami kemarin. Kedua, akibat gempa, zonasi untuk membangun pemukiman kini lebih sulit,” jelas Musafir kepada Majalah RealEstat, baru-baru ini.

Dijelaskan, saat ini zonasi hijau, kuning dan merah diberlakukan dengan sangat ketat. Saat ini pengurusan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di Sulteng diperketat, bahkan perlu melapor ke BMKG guna memastikan kawasan tersebut aman.

Usai musibah gempa, pengembang yang membangun rumah di Sulteng juga diwajibkan untuk menggunakan besi 10 dan besi 8. Ada imbauan supaya pengembang menggunakan material yang lebih kuat. Ditambah lagi, perizinan juga diatur oleh ahli bangunan dan gedung.

“Meski begitu, kami sangat memahami adanya pengetatan tersebut. Dan mulai April sudah terlihat banyak pengembang yang memulai pembangunan rumah, demikian juga dengan antusias masyarakat cukup tinggi untuk memiliki rumah, apalagi banyak bantuan rumah dari pemerintah belum terealisasi,” papar Musafir.

Meski pembangunan baru mulai terlihat pada April, namun setidaknya saat ini sudah ada 400 unit rumah MBR yang terealisasi, ditambah akan ada akad massal pada Juli dan September mendatang, sehingga Musafir optimis mampu merealisasikan 1.200 unit rumah sesuai target hingga akhir tahun ini.

Kebutuhan Tinggi
Diakui Musafir, kebutuhan rumah di Sulteng cukup tinggi, mengingat kurangnya pasokan (backlog) mencapai 80 ribu unit, ditambah dampak gempa yang membutuhkan 10 ribu unit rumah.

“Ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar bagi pengembang dan pemerintah. Jadi kami mengharapkan support penuh dari pemerintah, antara lain memberikan kemudahan dalam pemberian pembiayaan kepada masyarakat,” ujar dia.

Misalnya banyaknya masyarakat yang bekerja di sektor informal yang belum memiliki rumah di Sulteng, REI berharap kelompok non fixed income ini dapat diberi kemudahan akses pembiayaan sehingga bisa memiliki rumah sendiri.

“Di Sulteng, non-fixed income masih belum bisa memiliki rumah dengan KPR. Padahal, banyak pedagang dan pengusaha kecil yang sangat membutuhkan rumah dan mampu mencicil setiap hari atau setiap bulannya. Kami sudah mendorong melalui komunitas, namun belum ada kelanjutnannya,” jelas Musafir.

Sementara itu, meski pembiayaan untuk end user (konsumen) sulit, namun menurut Musafir, tidak demikian halnya pembiayaan modal kerja untuk pengembang. Di Sulteng, hampir semua pengembang mendapatkan kredit konstruksi terutama dari Bank BTN.

Saat ini konsetrasi pembangunan rumah bersubsidi di Sulteng masih terkonsentrasi di kota seperti Kota Palu dan sekitarnya, serta di Kabupaten Sigi. Sementara di daerah lain pembangunan rumah untuk MBR masih banyak menghadapi kendala terutama infrastruktur dasar yang minim, mengingat Sulteng adalah daerah pegunungan.

Berbeda dengan pasar rumah untuk MBR yang tetap bergerak, khusus untuk rumah komersial (nonsubsidi) diakui Musafir masih lesu. Rumah nonsubsidi, ungkap dia, bisa terjual sekitar 20 persen saja sudah cukup baik. Diprediksi rumah komersial masih harus menunggu ekonomi pulih secara keseluruhan baru dapat kembali bergerak. (Teti Purwanti)