ISU GLOBAL

ASIA PASIFIK

Pasar Properti di Dua Negeri Jiran "Tertolong" Stimulus

Administrator | Jumat, 22 Januari 2021 - 09:08:38 WIB | dibaca: 60 pembaca

Foto: Istimewa

Pasar properti di dua Negeri Jiran yakni Singapura dan Australia terlihat mulai bangkit di Kuartal III-2020, khususnya di segmen komersial. Selain faktor penyebaran pandemi yang mulai melandai, pemulihan industri properti di kedua negara itu juga ditolong adanya stimulus dari pemerintahannya.

Managing Director Investment Sales & Capital Markets Savills Singapore, Jeremy Lake menyebutkan meski masih berada di tengah situasi pandemi, namun pasar penjualan dan investasi properti di Singapura telah menunjukkan tren pulih pasca dibukanya kembali aktivitas ekonomi di negara tersebut pada Juni 2020 terus membolehkan orang untuk melihat langsung ke lokasi proyek.

Di kuartal III-2020, tercatat ada transaksi senilai 2,77 miliar dolar Singapura atau naik 29,3% dibandingkan kuartal sebelumnya. Dari transaksi itu, sekitar 966,7 juta dolar Singapura merupakan penjualan segmen residensial yang naik tajam 180,1% dibandingkan penjualan pada kuartal II-2020 sebesar 345,2 juta dolar Singapura.

“Pasca Juni 2020 menjadi momentum penjualan terutama untuk rumah tapak (landed house) yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Jeremy Lake dalam siaran pers Savills, baru-baru ini.

Merujuk data Savills, ada 40 bungalow, masing-masing senilai 10 juta dolar Singapura yang berpindah tangan pada kuartal III-2020. Sementara di kuartal I dan II tahun ini, hanya terjual masing-masing 7 bungalow dan 25 bungalow. Artinya terjadi peningkatan penjualan di kuartal III-2020.

“Pembeli properti jenis ini memang lebih suka melihat langsung fisik properti sebelum melakukan pembelian, terutama mengingat rumah jenis ini untuk digunakan sendiri,”papar dia.

Ditambahkan, pengembang saat ini lebih optimistis terhadap prospek penjualan properti yang ditandai dengan ekspansi sejumlah developer untuk mengembangkan proyek baru di cadangan tanah mereka.

Sementara itu, penjualan properti komersial masih tetap tangguh di Singapura. Misalnya minat terhadap rumah toko (ruko) terus menarik perhatian investor swasta dan kantor. Empat transaksi terjadi di kuartal III-2020 atau naik dibandingkan dua kuartal sebelumnya.

“Seiring dengan tindakan pengendalian relaksasi dan stimulus lebih lanjut, diharapkan bahwa aktivitas investasi properti akan terus meningkat,” harap Jeremy Lake.

Dukungan stimulus ekonomi juga dirasakan industri properti di Australia.

Program ekonomi Pemerintah Federal senilai AUD 259 miliar untuk membantu agar banyak orang Australia tetap bekerja, terbukti ampuh menekan angka pengangguran di negeri kangguru. Tingkat pengangguran secara mengejutkan turun pada Agustus 2020 menjadi 6,8% karena 111.000 warga Australia melaporkan telah memperoleh pekerjaan.

CEO Savills Australia, Paul Craig mengungkapkan stimulus lebih lanjut dan dukungan untuk individu yang diberikan pemerintah itu sangat membantu bisnis kecil dan perusahaan besar dalam memitigasi dampak Covid-19.

“Terhadap ekonomi yang lebih luas pada gilirannya sektor properti komersial sangat terbantu sekali,” kata Craig.

Dari awal tahun hingga September 2020, Savills mencatat terjadi penjualan sekitar AUD 24,17 miliar dari penjualan kantor, ritel dan aset industri lain. Angka ini turun 37% dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun dengan jumlah aset berkualitas yang besar saat ini diharapkan transaksi penjualan hingga akhir 2020 lebih menguat.

“Sepanjang pandemi, justru terus terjadi permintaan terhadap aset berkualitas terutama industri dan kantor,” ujar dia.

Indikator lain yang dipantau secara ketat selama pandemi adalah tingkat hunian kantor. Data dari Property Council of Australia mengindikasikan bahwa telah terjadi pemulihan sejak mencapai posisi terendah pada Mei 2020 hingga minus 5% (kecuali Melbourne yang masih tumbuh sekitar 10%), dimana semua negara bagian lain telah mengalami peningkatan selama kuartal III-2020.

Harapan Baru
Sedangkan di Indonesia, menurut Anton Sitorus Director Research & Consultancy Savills Indonesia, selama tujuh bulan sejak kasus Covid-19 pertama diumumkan, dampaknya terhadap ekonomi Indonesia memburuk dengan jatuhnya pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2020 ke level minus 5,32% (year-on-year).

Dengan jumlah kasus positif saat ini melebihi angka 300.000 orang, diproyeksikan pertumbuhan ekonomi selanjutnya akan tetap pada level negatif dan menempatkan Indonesia di tepi jurang resesi pada kuartal III-2020.

Adanya pembatasan gerak sosial yang ketat di banyak aktivitas masyarakat khususnya di Jakarta, membuat bisnis realestat juga terimbas sejak Maret. Pelonggaran pembatasan atau PSBB Transisi yang dilakukan pada Juni tidak berlangsung lama sehingga Gubernur Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk kembali melakukan PSBB di pertengahan September 2020.

Sejumlah pengelola pusat perbelanjaan yang sudah mengambil kebijakan dan mengeluarkan biaya untuk memenuhi prosedur masa adaptasi baru (new normal) kembali tertahan dan pasrah karena tingkat kunjungan ke mall mereka semakin menurun menjadi hanya sekitar 10%-20%.

Sedangkan pengembang hunian sekarang bergantung pada platform online dan media sosial untuk memasarkan produknya. Selain proyek apartemen, berbagai jenis aset properti juga ada yang ditawarkan di harga yang tertekan saat ini khususnya perkantoran, hotel dan mall.

Anton berharap disahkannya UU Cipta Kerja atau Omnibus Law yang menyederhanakan prosedur investasi baru dapat efektif meningkatkan daya saing Indonesia dalam ekonomi regional dan global.

Salah satu aspek dari undang-undang baru itu yang terkait dengan sektor properti adalah pelonggaran pembatasan kepemilikan properti asing.

Di bawah undang-undang baru ini, ungkap Anton, orang asing dengan izin kerja sekarang diperbolehkan untuk memiliki apartemen atas dasar strata-tittle dan ini diharapkan dapat mendongkrak pasar apartemen mewah yang membidik ekspatriat.

“Undang-undang baru ini memuat ketentuan pelonggaran pembatasan kepemilikan asing, sesuatu yang ami harapkan dapat meningkatkan pertumbuhan di pasar apartemen mewah sekaligus mendorong lebih cepatnya pemulihan pasar properti di dalam negeri,” harap Anton Sitorus. (Rinaldi)
 
Sumber: