INFO DPD REI

Pasar Hunian Komersial Mulai Tumbuh di NTB

Administrator | Jumat, 06 Januari 2023 - 10:18:09 WIB | dibaca: 45 pembaca

Ketua DPD REI NTB Heri Susanto. (Foto: Oki Baren)

Selama masa pandemi, karena wait and see, banyak orang menunda untuk membeli rumah komersial. Ditambah lagi, perbankan juga sangat ketat dalam menyetujui kredit pemilikan rumah (KPR). 

Namun pasca Idul Fitri, ungkap Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Heri Susanto, pasar hunian komersial di daerah itu sudah mulai bertumbuh. Permintaan mulai meningkat signifikan terlebih hunian dengan harga antara Rp300 juta hingga Rp1,5 miliar per unit. 

“Untuk hunian di atas Rp300 juta yang membeli bukan hanya wargas NTB namun juga dari berbagai daerah terutama Pulau Jawa,” jelas Heri kepada Majalah RealEstat Indo-nesia, baru-baru ini. 

Dari sisi lokasi, keberadaan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) yang mengelola kawasan Mandalika membuat pasar hunian dan villa di sekitar Mandalika paling diminati. Hal ini mengingat kawasan Mandalika sudah menjadi kawasan berskala internasional sehingga potensi pengemba-ngannya diprediksi akan lebih cepat. 
Pasar villa dan hotel di NTB juga terlihat sudah pulih, bahkan tumbuh cepat. 

“Harga dan tingkat okupansi hotel dan villa sangat baik dan nampaknya akan menuju normal seperti sebelum pandemi,” ungkap Heri. 

Sementara untuk hunian subsidi, menurut dia, kondisinya juga cukup baik. Dengan target pembangunan 10 ribu unit di 2022, hingga Juni sudah terealisasi sekitar 50%. 
“Permintaan dan penyerapan bagus, dan hingga paruh pertama 2022 tidak ada keluhan dari pengembang,” ungkap Heri. 

Untuk diketahui sejak 2019 hingga 2021 REI NTB membangun rumah di 207 lokasi dengan total unit 17.890 rumah selama dua tahun dan terjual untuk rumah subsidi 10.775 unit.

Lokasi pembangunan rumah subsidi ter-banyak di Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. Sedangkan di Kota Mataram sudah tidak memungkinkan lagi dibangun rumah subsidi karena harga tanah tidak sebanding dengan harga jual rumah subsidi. 

Kemudian di kawasan Mandalika, diakui Heri, selain didominasi hunian komersial, masih ada juga yang membangun rumah subsidi. Tantangan di Mandalika masih soal harga ta-nah, sehingga jika tidak cocok untuk rumah subsidi dapat dibangun untuk komersial. 

“Mungkin nanti kalau sudah masif pem-bangunan hotel atau villa dan sudah mulai banyak karyawannya pangsa pasar rumah subsidi saya pikir akan terbuka di Mandalika,” ungkap Heri. 

Dukungan Pemda 
Terkait harga jual rumah subsidi, dia me-nyebutkan perlu langkah yang bijak untuk menaikkan harga di tengah situasi sekarang ini. Kalau pun naik, dia berharap pada porsi yang normal karena kalau terlalu tinggi dikha-watirkan justru tidak terserap pasar. 

“Untuk mengurangi backlog saat ini maka diperlukan kerja sama semua pihak. Setidaknya ada 112 ribu unit kekurangan rumah di NTB,” papar Heri. 

Masyarakat kata dia, tidak perlu khawatir soal kualitas hunian di NTB yang dibangun pengembang REI. Heri menegaskan, kualitas rumah anggota REI tidak akan keluar dari standar yang sudah ditetapkan pemerintah. Termasuk soal bahan bangunan yang harus digunakan. Meski harga jual rumah subsidi be-lum dinaikkan. 

“Terbukti saat gempa 2018 lalu, rumah subsidi yang rusak kurang dari lima persen. Ini menunjukkan walaupun harga rumah subsidi tidak naik, tetapi pengembang di NTB tidak menurunkan kualitas bangunan,” tegasnya. 

Dia berharap ada dukungan Pemprov NTB untuk mewujudkan program satu juta rumah. Pengembang hanya melakukan pem-bangunan untuk membantu penyediaan ru-mah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 

“Sekarang banyak bank telah memberikan kemudahan pengembangan dalam menyalur-kan program rumah subsidi ini. Temasuk BPD NTB dan Bank NTB Syariah,” papar Heri. (Teti Purwanti)
 
Sumber: