Berita

Pasar Hunian 2021 Ditopang Kelas Menengah

Administrator | Selasa, 08 Desember 2020 - 09:23:15 WIB | dibaca: 118 pembaca

Pasar properti residensial pada 2021 diperkirakan masih akan ditopang oleh segmen kelas menengah ke bawah. Perumahan untuk kebutuhan hunian atau end user akan semakin bergeliat, sementara investasi rumah masih membutuhkan waktu untuk bangkit dengan mempertimbangkan kondisi dan dampak pandemi Covid-19.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengemukakan, pasar hunian yang sudah mulai bergeliat perlu terus dijaga. Sebanyak 86 persen dari omzet pengembang perumahan saat ini berasal dari penjualan rumah dengan rentang harga di bawah Rp 1,5 miliar per unit, sedangkan 13 persen lainnya dari penjualan harga rumah dengan harga di atas Rp 1,5 miliar per unit.

”Di luar perkiraan, pasar perumahan terus bangkit di tengah pandemi Covid-19, dengan didominasi segmen kelas menengah. Kita perlu menjaga pasar segmen menengah tetap bergairah tahun depan sehingga bisa turut mengungkit kenaikan pasar (perumahan) kelas atas,” katanya, Selasa (24/11/2020).

Ia menambahkan, pihaknya berharap pasar properti pada 2021 akan tumbuh mendekati kondisi pasar tahun 2019. Oleh karena itu, semua pemangku kepentingan dinilai perlu menjaga konsistensi pasar residensial yang ditopang kelas menengah. Apabila pasar kelas menengah tumbuh, segmen perumahan kelas atas otomatis ikut tumbuh. Upaya menjaga konsistensi pasar antara lain dengan regulasi yang mendukung industri perumahan ataupun penanganan pandemi Covid-19 secara serius.

Dari survei harga properti residensial Bank Indonesia, harga properti residensial tumbuh terbatas pada triwulan III (Juli-September) 2020 dan diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun 2020. Kenaikan harga itu tecermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan III-2020 sebesar 1,51 persen secara tahunan (y-o-y), terutama didorong tipe rumah kecil dan menengah.

Sementara IHPR rumah tipe besar secara triwulanan tumbuh melambat. Secara triwulanan, IHPR tumbuh 0,42 persen, tetapi masih lebih rendah 0,5 persen dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun lalu.

Totok menilai, masa pandemi tidak menyurutkan minat orang untuk mencari tempat tinggal karena hunian merupakan kebutuhan dasar. Rumah yang paling banyak diincar saat ini ialah unit pada kisaran harga Rp 300 juta-Rp 500 juta per unit.

Beberapa pengembang besar yang memasarkan hunian segmen menengah ke bawah melalui pameran secara daring juga mengaku bahwa unit-unit rumah yang ditawarkan habis terjual. Meski demikian, penjualan hunian segmen menengah ke atas masih cenderung tertahan karena investor menahan investasi.

Sejak 2013, harga properti relatif stagnan. Hal itu menjadi pertimbangan pasar bahwa harga properti masih bisa naik, di mana persentase kenaikan harga rumah kelas menengah bawah berpotensi lebih besar jika dibandingkan dengan persentase kenaikan harga rumah mewah.

Secara terpisah, CEO 99 Group Indonesia Chong Ming Hwee memprediksi, perkembangan properti di Indonesia akan terus membaik pada 2021 dengan dominasi pasar hunian untuk pengguna (end user). Meskipun kondisi ekonomi masih belum stabil dan belanja konsumen masih cenderung tertahan, rumah merupakan kebutuhan dasar. Hingga saat ini, tingkat kunjungan di laman penjualan properti itu rata-rata 15,6 juta kunjungan per bulan.

”Pencarian hunian melalui portal masih sangat tinggi. Residensial masih menjadi aset yang kuat dan dibutuhkan semua orang. Saat ini, pasar yang lebih kencang adalah segmen menengah ke bawah,” katanya.

Ia memprediksi, pasar residensial pada semester I (Januari-Juni) 2021 masih akan didominasi segmen menengah ke bawah. Namun, memasuki semester II-2021, pasar hunian menengah ke atas diprediksi mulai bergeliat seiring dengan komitmen pemerintah dalam menggulirkan vaksin Covid-19 dan penanganan pandemi.

Di lain pihak, pengembang terus berupaya menggulirkan sejumlah kemudahan skema pembayaran untuk menarik konsumen. Di antaranya melalui uang muka rumah yang ringan, kemitraan dengan perbankan untuk mempercepat proses akad kredit, serta mendorong pameran properti secara daring.

Menurut Direktur Kepala Riset dan Konsultan Savills Indonesia Anton Sitorus, pasar tengah membentuk keseimbangan baru. Harga rumah segmen atas selama ini dinilai sudah terlampau tinggi sehingga memasuki keseimbangan harga.

Sumber: