Kilas Berita

PARIWISATA

Pariwisata Bali Diyakini Segera Bangkit

Administrator | Kamis, 22 Oktober 2020 - 14:17:32 WIB | dibaca: 307 pembaca

Foto: Istimewa

Pulau Dewata Bali diperkirakan masih tetap akan menjadi destinasi favorit wisatawan baik lokal maupun asing usai pandemi Covid-19. Seperti diketahui, pemerintah sedang menyiapkan protokol new normal sehingga aktivitas ekonomi masyarakat dapat bergerak kembali.

Deputi Bidang Pemasaran Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Nia Niscaya mengungkapkan Bali tetap akan menjadi favorit wisatawan karena selain memang menjadi salah satu destinasi yang selalu memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan, Bali juga merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki penyebaran Covid-19 yang terkendali.

“Meski pun banyak wisatawan yang berkunjung ke pulau itu, tapi Bali bukanlah pusat pandemi Covid-19 di Indonesia,” kata Nia Niscaya dalam sebuah web seminar di Jakarta, baru-baru ini.

Nia menjelaskan, kasus positif Covid-19 di Bali hingga saat ini tercatat sebanyak 300 kasus dengan 195 orang sembuh dan 4 orang meninggal. Hal itu salah satunya karena masyarakat Bali dapat bersikap disiplin untuk tetap tinggal di rumah dan mematuhi perintah kepala desa dan pemimpin agama setempat.

Karena itu, dia memperkirakan Bali akan menjadi salah satu destinasi yang paling lebih cepat pulih dan banyak dikunjungi wisatawan begitu pandemi dinyatakan usai.

Kementerian, menurut Nia, akan menjadikan Bali sebagai pilot project untuk penerapan program CHS (Clean, Health, and Safety) untuk diterapkan di berbagai destinasi dan pengelola usaha pariwisata lainnya di Bali, seperti restoran dan hotel.

Selain Bali, pemerintah juga akan menjalankan program serupa di Yogyakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan nantinya di seluruh Indonesia.

“Melalui program CHS ini kami ingin destinasi benar-benar siap ketika kembali menerima wisatawan usai pandemi. Kami tidak mau turis mancanegara maupun lokal kecewa karena kami tidak siap. Kami akan mendorong industri untuk nantinya bisa menerapkan program CHS dengan baik,” kata Nia.

Dalam kesempatan itu Nia juga menjelaskan langkah-langkah secara umum yang dilakukan Kemenparekraf/Baparekraf dalam melakukan mitigasi dampak Covid-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Libatkan Generasi Milenial
Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio (Menparekraf) mengajak anak muda generasi Z dan milenial untuk tetap optimistis menghadapi perubahan perilaku manusia (new normal) termasuk perubahan perilaku berwisata.

Hal itu dikatakan Menteri Wishnutama saat konferensi virtual I’M Milenial dan Generasi Z dengan tema “Tantangan, Harapan dan Masa Depan New Normal” di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menjelaskan situasi pandemi memang tidak mudah bagi pariwisata untuk bertahan atau berkembang, apalagi seluruh dunia merasakannya. Menurut Wishnutama, sektor pariwisata paling terdampak karena pariwisata tergantung pada kunjungan orang. Sedangkan saat ini tidak memungkinkan dilakukan kunjungan.

“Yang terpenting adalah kita harus optimistis pada masa depan. Kita meyakini pascapandemi masa depan pariwisata ke depan akan luar biasa. Untuk jadi pemenang jangan ada sifat pesimistis. Pemenang mencari kesempatan, bukan kekurangan. Buat generasi muda, ayo cari apa kesempatan yang ada,” kata dia.

Wishnutama Kusubandio menjelaskan, sebetulnya sebelum pandemi Covid-19, kementerian yang dia pimpin telah menyusun berbagai skenario strategis yang sifatnya sangat dasar dalam rencana kerja tahun 2020 seperti fasilitas wisata yang sesuai standar higienitas, kebersihan toilet, keselamatan, keamanan.

Namun dalam masa pandemi ini, pihaknya berkoordinasi dengan K/L sekuat tenaga mencari cara untuk mempercepat langkah pemulihan sektor parekraf. Karena negara lain juga akan berusaha keras untuk mendatangkan wisatawan. “Untuk tahap awal kita akan coba mendorong wisatawan nusantara dulu, baru kita datangkan wisatawan mancanegara,” kata Wishnutama.

Seperti diketahui, pandemi Covid-19 telah membuat perilaku manusia yang baru (new normal) yang berbeda dan berubah dari perilaku sebelumnya.

Perilaku yang jauh lebih peduli terhadap kesehatan dengan selalu menggunakan masker, rutin mencuci tangan, menjaga kekebalan tubuh, olahraga, makan makanan bergizi, hingga selalu menjaga jarak aman untuk menghindari rantai penularan Covid-19. (Rinaldi)