INFO DPD REI

Meski Ada Hambatan, Properti di Batam Terus Menggeliat

Administrator | Selasa, 09 Agustus 2022 - 10:34:05 WIB | dibaca: 177 pembaca

Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Khusus Batam, Achyar Arfan. (Foto: Oki Baren)

Lembaga riset properti, Savills International menyebutkan di luar Jabodetabek dan Pulau Jawa secara umum, Batam menjadi lokasi paling populer untuk pusat data dan fasilitas industri (logistik).

Hal itu karena letaknya yang strategis dekat dengan Singapura, di samping infastrukturnya yang relatif bagus. Selain itu, berbagai insentif pajak diberikan kepada perusahaan atau investor di Batam mengingat statusnya sebagai kawasan perdagangan bebas (Free Trade Zone) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Ketua Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Khusus Batam, Achyar Arfan mengakui bahwa masuknya investor tidak hanya sebatas di bisnis data centre saja, tetapi di semua subsektor properti terutama hunian.

“Sejak 2021, kondisi ekonomi di Batam cukup baik, dimana banyak gedung-gedung yang mulai kembali terisi penuh. Begitu pula untuk hunian, stimulus Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) turut membawa pengaruh secara psikologis kepada pengembang untuk bangkit,” tegas Achyar kepada Majalah RealEstat Indonesia, baru-baru ini.

Menurutnya, bukan hanya pengembang yang bersemangat, tetapi juga masyarakat. Pasalnya, beragam stimulus yang ada membuat konsumen merasa tidak sendirian dalam menghadapi pandemi.

Achyar juga menyebutkan bahwa pengembang di Batam masih bisa bertahan selama pandemi dua tahun terakhir ini.

“Rumah subsidi pada 2021 realisasinya naik 10% dibandingkan 2020, begitu pula segmen menengah juga meningkat meski tidak sebesar rumah subsidi,” ungkap Achyar.

Dia menambahkan hunian yang cukup mewah dengan harga yang dibanderol hingga Rp1 miliar ke atas masih bisa bergerak di Batam. Pengembang di pulau tersebut juga gencar memberikan promo pemasaran sebagai gimmick untuk menarik minat konsumen.

Dia memperkirakan untuk hunian menengah dan mewah juga mengalami pertumbuhan 5% dibandingkan 2021.

Tidak heran, beberapa proyek hunian baru yang sudah mulai diluncurkan sejak tahun lalu cukup baik penjualannya. Tahun ini, Achyar berharap ekonomi lebih baik lagi dan penjualan properti di Batam makin meningkat.

“Vaksinasi menjadi salah satu game changer yang sangat terasa manfaatnya dan mulai mengungkit ekonomi,” jelas dia.

Kendala Perizinan
Sayangnya, Achyar cukup mengkhawatirkan adanya kendala dalam proses perizinan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

“Tahun ini kami menargetkan bisa mencapai 1.600 unit dari realisasi tahun lalu yang hampir 1.300 unit. Tapi memang PBG menjadi masalah, padahal di Batam ini tanah sudah jelas milik pemerintah namun ada saja masalah antara BP Batam dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN),” jelas Achyar.

BP Batam, menurut dia, sebenarnya sudah mendorong agar PBG bisa dikeluarkan, namun ada saja masalah yang menghambat sehingga sampai saat ini belum ada PBG yang dikeluarkan.

Karena itu, Achyar berharap kalau memang setiap daerah belum mempunyai kekuatan hukum untuk menerbitkan PBG, lebih baik pemerintah pusat menunda dulu pemberlakuannya dan kembali ke Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

“PBG ini wewenangnya ada di pusat, namun yang menjalankan daerah. Sementara daerah punya masalah sendiri yang hingga saat ini belum bisa mereka selesaikan,” sebut dia.

Di sisi lain, pengembang harus tetap optimis dan setidaknya terus berupaya dengan menjual rumah yang sudah tersedia (ready stock).

Mengenai perbankan, meski masih tetap didominasi oleh BTN, namun bank lain seperti Bank BRI misalnya juga mulai agresif dalam memberikan KPR dan ikut expo-expo yang dilakukan REI. Kondisi itu diharapkan terus berlanjut, dimana semakin banyak perbankan yang terlibat aktif dalam industri properti. (Teti Purwanti)

Sumber: