TOPIK UTAMA

Mengungkit Pertumbuhan Ekonomi Lewat Program PEN

Administrator | Kamis, 10 Desember 2020 - 09:10:31 WIB | dibaca: 188 pembaca

Foto: Istimewa

Pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah menyiapkan anggaran sebagai stimulus ekonomi mengantisipasi dampak pandemi Covid-19. Selain Usaha Kecil Mikro dan Menengah (Umkm), sasaran dari kebijakan ini adalah korporasi yang memiliki pengaruh besar memulihkan perekonomian nasional.

Bentuk dari stimulus yang diberikan antara lain insentif pajak, subsidi bunga, penempatan dana di perbankan untuk restrukturisasi kredit, dan penjaminan kredit untuk modal kerja.

“Pemerintah berharap stimulus ini mumpuni dan mampu membuat ekonomi bergerak,” ungkap Ketua Satuan Tugas Pemulihan Ekonomi Nasional (Satgas PEN) Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan persnya, baru-baru ini. Anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk program PEN ini sebesar Rp 695,19 triliun yang dibagi menjadi enam fokus program anggaran.

Keenam fokus tersebut adalah program bidang Kesehatan, Insentif Usaha, Perlindungan Sosial, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Program Kementerian Lembaga (K/L) dan Pemda, serta Pembiayaan Korporasi.

Sejak dibentuk pada Agustus lalu, disebutkan Satgas PEN telah merealisasikan anggaran sekitar Rp 200 triliun. Saat ini, ungkap Budi Gunadi, satuan tugas yang dia pimpin berfokus pada sekitar Rp 400 triliunan anggaran yang telah dialokasikan untuk beberapa program stimulus ekonomi.

“Mandat yang diberikan presiden kepada Satgas PEN adalah memastikan percepatan realisasi anggaran ini supaya kita bisa menggerakan perekonomian, mendorong konsumsi swasta dan juga investasi korporasi sampai akhir tahun ini,” papar dia.

Diharapkan lewat program ini, pada kuartal III-2020 Indonesia dapat mengungkit pertumbuhan ekonomi menjadi lebih baik. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 mengalami kontraksi hingga -5,32%.

Wakil Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara mengatakan program PEN merupakan bagian dari kebijakan luar biasa yang ditempuh pemerintah untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19.

“Terlebih dampak terhadap ekonomi yang mengalami penurunan tajam akibat virus tersebut,” kata Suahasil.

PEN, tambah Suahasil, juga digelontorkan untuk industri perumahan mengingat dampak lanjutan yang besar dari akselerasi di sektor tersebut. Untuk itu, sektor perumahan perlu terus didorong untuik melakukan terobosan dan instrumen baru akan disiapkan karena sektor ini punya multiplier effect ke-170 industri lainnya.

“Kami harapkan dengan upaya tersebut dapat meningkatkan permintaan dari sektor lain sehingga mendorong pemulihan ekonomi,” kata dia dalam sebuah webinar, baru-baru ini.

Insentif Properti
Hal senada diungkapkan Asisten Deputi Percepatan dan Pemanfaatan Pembangunan Kemenko Perekonomian Bastary Pandji Indra. Menurut dia, pemerintah memastikan untuk memberi insentif dan stimulus ekonomi dalam mendukung industri properti di Indonesia.

Insentif yang diberikan itu ditujukan untuk meringankan pembeli maupun industri. Salah satu stimulus yang ditujukan untuk meringankan beban dari sisi pembeli adalah insentif perumahan berupa Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM).

“Subsidi tersebut diberikan untuk bantu masyarakat berpenghasilan rendah dan sedang dalam Kredit Pemilikan Rumah,” ujarnya seperti dikutip dari Antara.

Dari sisi dunia usaha, pemerintah juga memberikan insentif berupa relaksasi pajak PPh 21 dan PPh 25 untuk berbagai bidang industri termasuk konstruksi dan beberapa sektor realestat.

Bastary menambahkan ada pula beberapa kebijakan pemerintah yang berpotensi mendorong pemulihan industri realestat seperti stimulus untuk UMKM, BUMN dan korporasi.

Dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga tengah disiapkan sejumlah kemudahan di antaranya BPHTB untuk MBR akan ditanggung pemerintah pusat. Selain itu, payment holiday untuk angsuran pokok dan bunga KPR maksimal Rp500 juta, penurunan PPh BPHTB rumah sederhana dari 5 persen menjadi 1 persen, serta bunga kredit konstruksi rendah. Stimulus ini sedang dalam finalisasi oleh Tim Pelaksana, Satgas PC-19, dan Satgas PEN dengan dikoordinasikan dengan Kementerian Keuangan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Eko D. Heripoerwanto menjelaskan pihaknya telah menggelontorkan berbagai skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bersubsidi untuk mendongkrak industri perumahan subsidi di Tanah Air di tengah kondisi pandemi.

Di antaranya yakni Subsidi Selisih Bunga (SSB), Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT).

“Kami meyakini langkah strategis tersebut akan mempercepat pemulihan sektor perumahan yang juga akan berpengaruh pada ekonomi nasional,” kata Eko dalam sebuah webinar. Hingga kini, pemerintah memang telah memberikan berbagai stimulus untuk mendongkrak sektor perumahan. Stimulus tersebut diberikan untuk menggarap angka backlog perumahan di Indonesia sekaligus mengakselerasi program PEN.

Ekonom Elvyn G Massasya menilai kunci pemulihan ekonomi pada masa krisis akibat pandemi Covid-19 adalah dengan terlebih dahulu menyelesaikan masalah kesehatannya. 

“Setelah itu, pemerintah harus menerapkan transformasi model ekonomi serta melakukan subsidi silang (cross subsidy),” ujar dia. 

Menurut Elvyn, pandemi berdampak pada ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Pada triwulan I-2020 ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 2,97% dan triwulan II-2020 terkontraksi minus 5,32% dibandingkan triwulan II-2019. Sedangkan triwulan III-2020 diperkirakan terkontraksi lagi di minus 3%-4%. (Rinaldi)

Sumber: