Berita

Mengukur Daya Beli Milenial Cicil Rumah di Era Digitalisasi Bank

Administrator | Jumat, 06 Maret 2020 - 09:33:13 WIB | dibaca: 248 pembaca

Foto: Istimewa

Generasi milenial kini menjadi incaran utama bisnis di sektor perumahan. Bahkan beberapa perbankan di Tanah Air telah menyediakan program khusus Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk milenial. 

Misalnya saja, PT Bank Tabungan Negara Tbk yang dikenal selama ini fokus pada bidang KPR. Bank pelat merah itu telah meluncurkan produk KPR Gaeesss for Milenial. Program pembiayaan ini menyasar generasi milenial di usia 21-35 tahun dengan berbagai gimmick menarik.

Beberapa di antaranya bebas biaya admin, suku bunga single digit, diskon provisi 50 persen, dan jangka waktu kredit hingga 30 tahun. Akses dan informasi perumahan pun mudah, bisa dipantau lewat website atau aplikasi resmi yang disediakan BTN.

Lantas, apakah kemudahan di era digitalisasi ini sesuai dengan daya beli milenial?

Berbicara soal milenial, Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI), Totok Lusida mengungkapkan, harga rumah yang bisa dijangkau kalangan ‘muda’ itu  berada pada kisaran Rp300-500 juta. Itu berdasarkan pengalaman pengembang perumahan hingga saat ini.

Biasanya, milenial juga disebut lebih senang pada apartemen karena lebih simpel dan dinamis. Namun, menurutnya, pasar milenial memang masih perlu dioptimalkan. Karena, kondisi pembeli rumah saat ini, justru masih didominasi oleh kaum non milenial.

"Sehingga kita sekarang (program kita) mengarah ke milenial," kata Totok kepada VIVAnews, Selasa 25 Februari 2020.

Dia pun mengakui, tak sedikit pengembang yang sudah menyediakan sejumlah fasilitas khusus untuk hunian yang ditawarkan kepada milenial. Tinggal, perlu penataan atau manajemen pembiayaan dari 'kantong' milenial itu sendiri.

Totok pun mengungkapkan, geliat pasar properti awal tahun ini memang masih stagnan. Sehingga, perlu pemicu atau trigger. Misalnya, kebijakan insentif bagi pengembang atau justru  memberi stimulus untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Milenial, lanujut dia, sebetulnya masih mendominasi calon pembeli properti atau sekitar 65 persen dari total pasar potensial di Indonesia saat ini. Hanya memang, gaya hidup mereka banyak lebih memilih untuk membelanjakan uangnya bukan untuk kebutuhan masa depan. Meskipun, secara rata-rata, banyak milenial memiliki pendapatan cukup untuk mencicil rumah. 

"Secara pendapatan bankable (layak untuk cicil rumah). Tapi kalau diminta buku tabungannya, perputaran uangnya banyak buat leisure, bukan untuk kebutuhan," kata dia.

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Indonesia Property Wacth (IPW) Ali Tranghanda mengungkapkan, gaji milenial saat ini rata-rata hanya Rp7,5 juta. Artinya, mereka hanya bisa beli rumah atau apartemen di kisaran Rp250-300 juta.

Program KPR milenial yang digencarkan perbankan saat ini pun diakui memang cukup banyak. Namun, kendalanya, harga rumah memang dinilai masih terlalu mahal. Khususnya di daerah strategis.

"Harga memang sudah terlalu tinggi. Banyak milenial yang tidak mau juga beli rumah Rp300 jutaan karena lokasi yang jauh," kata Ali kepada VIVAnews.

Meski begitu, Ali melanjutkan, masih ada milenial tertentu yang berpenghasilan di atas rata-rata yang memiliki kemampuan beli rumah di atas harga tersebut. 

"Sebenarnya hanya milenial tertentu saja yang bisa beli rumah karena memang secara daya beli ada juga yang mampu," tambahnya.
 
Sumber: