Berita

Mengoptimalkan Sektor Perumahan Keluar dari Krisis

Administrator | Kamis, 18 Februari 2021 - 11:18:45 WIB | dibaca: 459 pembaca

Pandemi Covid- 19 tidak dapat dipungkiri masih menjadi momok di tengah masyarakat hingga saat ini. Tidak hanya dari segi kesehatan, namun juga sangat berdampak pada ekonomi masyarakat Indonesia. Banyak pelaku usaha yang harus gulung tikar atau karyawan kantoran yang harus dirumahkan. Namun seiring berjalannya waktu, pandemi ini tidak harus disikapi dengan rintihan tetapi optimisme untuk bangkit kembali dan mencari peluang bisnis untuk tumbuh, seperti yang dihadapkan pada industri properti yang secara perlahan geliat bisnisnya kembali bangkit.

Banyak faktor yang menjadi keyakinan bisnis perumahan dinilai menjadi sektor yang bangkit cukup baik dari krisis. Pertama kehadiran UU Citpa Kerja yang diyakini mampu memperlancar perekonomian pasca covid-19, selanjutnya keberhasilan uji coba vaksin corona dan terakhir sektor properti merupakan kebutuhan dasar manusia yang tetap harus dipenuhi. Apalagi backlog perumahaan saat ini masih tinggi sebanyak 11,4 juta orang berdasarkan kepemilikan rumah dan berdasarkan hunian sebesar 7,6 juta orang. Maka tidak mengherannkan, bisnis sektor perumahan memiliki ruang untuk tumbuh meski dihadapkan pada tantangan pandemi.

Tengok saja, jika pada kuartal dua 2020 kemarin, pertumbuhan ekonomi minus 5,32% dan sebaliknya sektor properti tumbuh 2,5%. Ya, kontraksi inilah yang mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan melalui kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) karena diyakini sektor perumahan masih sebagai penggerak perekonomian nasional.”Sektor properti harus mendapat perhatian, mengingat banyak industri yang terkait. Ada 175 industri terkait dan kurang lebih 30 juta pekerja di sektor property,” kata Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estate Indonesia (REI), Hari Gani dalam sebuah diskusi webinar.

Dirinya mengungkapkan, sektor properti adalah salah satu penyumbang ekonomi terbesar di Indonesia. Pasalnya, sektor perumahan memiliki multiplier effect atau efek berantai terhadap 170 industri. Sehingga sektor ini memiliki potensi dan daya ungkit yang sangat besar terhadap upaya pemulihan ekonomi nasional dari dampak covid-19. Sebut saja sektor perumahan bisa menarik sektor lainnya seperti sektor kontruksi, tenaga kerja, sektor semen, dan bahkan pertambangan.

Hal senada juga disampaikan Presiden Direktur Centre for  Banking Crisis, Achmad Deni Daruri, sektor perumahan dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong pemulihan ekonomi akibat dampak negatif Covid-19. Dimana dampak netto peningkatan nilai tambah sektor perumahan sebesar 1% akan meningkatkan nilai tambah produk domestik bruto secara kumulatif sebesar 9,53% pada akhir tahun kelima. Maka tidak heran, pemerintah begitu giat memberikan dukungan berbagai stimulus untuk menggerakkan sektor perumahan. Beberapa stimulus tersebut seperti skema bantuan pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan subsidi selisih bunga KPR. Kemudian ada subsidi bantuan uang muka, dan bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan.

Selain itu, ada pula tabungan perumahan rakyat (Tapera) yang saat ini terus dibangun dengan sinergi yang baik agar dapat bisa menjadi sumber pembiayaan perumahan yang baru. Pemerintah juga mengunakan instrumen penempatan dana di perbankan guna memacu pemulihan ekonomi. Salah satu perbankan yang mendapatkan dana tersebut yakni Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk yang memang memiliki spesialisasi di sektor perumahan.

Maka dengan berbagai skema KPR bersubsidi diharapkan dapat mendongkrak industri perumahan subsidi di Indonesia. Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Eko Heripoerwanto meyakini langkah strategis tersebut akan mempercepat pemulihan sektor perumahan yang juga akan berpengaruh pada ekonomi nasional. Hingga kini, pemerintah memang telah memberikan berbagai stimulus untuk mendongkrak sektor perumahan. Stimulus tersebut diberikan untuk menurunkan backlog perumahan sekaligus mengakselerasi program pemulihan ekonomi nasional.

Menjadi Lokomotif

Kehadiran BTN memiliki peran strategis sebagai satu-satunya bank yang memiliki skala ekonomi dan skope dalam memberikan pembiayaan sektor perumahan karena bisnis utamanya sangat fokus pada pembiayaan  perumahan untuk mensukseskan pemulihan ekonomi lewat sektor perumahan.

Hal inipun diakui Wamen II BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, modal Bank BTN cukup kuat dalam bertahan dan survive dengan bertahan di sektor pembiayaan properti tanpa perlu berubah menjadi bank yang universal. Berdasarkan kajian detail, ternyata pertumbuhan segmen perumahan dan customer based yang bisa digarap dari value chain perumahan, Bank BTN bisa tumbuh dan besar serta menjadi bank yang sehat dengan kapitalisasi pasar yang besar. “Dalam periode recovery ini, selain memperbaiki kualitas kredit dan funding,  bagaimana kita juga bisa membangun transaction business yang kuat dimulai dari value chain mortgage yang menjadi core competence dari Bank BTN,” kata Kartika.

Dirinya menilai kekuatan Bank BTN pada pembiayaan properti harus tetap diperluas pada ekosistem value chain mortgage maupun customer based. “Integrasi antara mortgage driven growth dikaitkan dengan ekosistem mortgage saya rasa akan mendapatkan customer based yang stabil dan kemudian ekosistem dari developernya,” ungkap Kartika.

Menurut dia, bisnis bank BTN yang berpusat pada bisnis pembiayaan perumahan dapat berjalan asalkan tekun menangkap aliran transaksi dalam ekosistem perumahan. “Namun saya menekankan untuk Current Account and Saving Account atau CASA dimana Bank BTN menargetkan sekitar Rp270 triliun pada road map, untuk itu transformasi cabang untuk menggalang CASA agar bisa mendapatkan funding flow yang sehat dengan cost yang lebih murah harus ditingkatkan. Jika kredit, CASA (dana murah) dan transaksi jalan, benar-benar BTN dapat tumbuh berkembang sehat dengan profitabilitas yang baik,” jelas Kartika.

Plt Direktur Utama Bank BTN, Nixon LP Napitupulu menjelaskan road map terdiri dari upaya  peningkatkan low-cost funding sebesar dua kali lipat menjadi Rp270 triliun. Kemudian mendorong keterjangkauan akses perumahan bagi lebih dari enam juta masyarakat Indonesia dan membangun one stop shop financial solution untuk bisnis terkait perumahan. Selanjutnya BTN akan menjadi inovator digital dan home of Indonesia’s best talent  serta membangun portofolio kredit yang berkualitas tinggi dan menurunkan rasio kredit macet.“Roadmap tersebut kami susun dengan mempertimbangkan sejumlah faktor di antaranya pencapaian Bank BTN tahun 2020 dan faktor makro ekonomi diantaranya prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik dengan tingkat pertumbuhan 5,0%-5,5% dan proyek perumahan yang akan kembali berjalan serta adanya percepatan digital disruption yang didorong oleh virtual serta stay @home lifestyle,”kata Nixon.

Tahun ini, BTN kembali dipercaya dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk menyalurkan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) senilai Rp8,73 triliun. Nantinya, dana tersebut akan disalurkan perseroan melalui program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi konvensional senilai Rp7,76 triliun dan KPR subsidi syariah senilai Rp965 miliar,”Dengan dana FLPP total sebesar Rp8,73 triliun kami akan menyalurkannya untuk pembiayaan 81.000 unit rumah subdidi pada tahun 2021," kata  Nixon.

Menurut Nixon, FLPP memegang peranan dalam menyukseskan Program Satu Juta Rumah yang diinisiasi pemerintah Presiden Joko Widodo. "Kami akan terus berinovasi, bersinergi, serta melalukan pembenahan dan efisiensi dalam proses penyaluran FLPP di antaranya mengintegrasikan sistem aplikasi KPR kami dengan  aplikasi SiKasep yang dioptimalkan oleh Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan sejak tahun lalu, " tuturnya.

Sumber: