PEMBIAYAAN

Mencari Solusi Atasi Kendala Pembiayaan Pengembang

Administrator | Selasa, 05 Juni 2018 - 12:43:31 WIB | dibaca: 405 pembaca

Bisnis properti berkaitan erat dengan pembiayaan dan perbankan. Ini tidak bisa dipungkiri sehingga hampir semua developer selalu bersentuhan dengan masalah-masalah pembiayaan terutama menyangkut modal kerja. Ibarat jantung manusia yang bertugas memompa darah kehidupan, maka dia tidak boleh berhenti berdetak. Demikian juga dengan pembiayaan bagi pengembang.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat REI, Soelaeman Soemawinata mengatakan dari tujuh pilar program kerjanya, masalah pembiayaan menjadi fokus utama terlebih yang menyangkut kendala pendanaan pengembang rumah subsidi di daerahdaerah. Isu ini penting, ungkap dia, karena banyak pengembang di daerah kini dalam sedang menghadapi kondisi pasar dan permodalan yang sulit.

“Saya setuju sekali bahwa pembiayaan bagi pengembang itu ibarat senyawa, maka kedua elemen ini harus terus melekat,” kata Eman, demikian dia akrab dipanggil, saat menjadi keynote speaker di acara Workshop “Kiat & Strategi Pembiayaan dalam Pengelolaan Bisnis Properti” yang diadakan Smart Property Consulting (SPC) di Grand Mercure, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Saat ini REI sedang mematangkan dua program untuk memberikan dukungan permodalan kepada pengembang menengah kecil di daerah terutama yang sedang membangun rumah subsidi. Pertama, adalah skema sinergi pengembang besar dan pengembang kecil. Kerjasama ini diharapkan bisa dihubungkan dengan tanggungjawab pengembang besar untuk membangun rumah subsidi seperti ketentuan aturan hunian berimbang.

“Kita sedang tes polanya. Sudah ada beberapa pengembang besar yang siap jalani ini. Nanti dibuat MoU dan ada perjanjiannya,” kata dia.

Misalnya tanah nanti atas nama pengembang besar, dan pembangunannya joint operation dengan pengembang daerah. Kemudian PPh nya ditanggung bersama, serta keuntungan porsi pengembang daerah akan lebih besar sebagai bentuk keberpihakan.

Menurut Eman, kalau sinergi ini bisa dilakukan untuk hunian berimbang, maka dia yakin Program Sejuta Rumah (PSR) akan lebih kencang pasokannya, dan pengembang besar lebih bersemangat.

Yang kedua, saat ini sedang disiapkan REI Finance. Ini adalah perusahaan yang akan dibentuk REI kemungkinan pada tahun depan untuk membantu pengembang terutama anggota REI yang membangun rumah subsidi dalam hal permodalan. Nantinya pinjaman dengan jumlah tertentu dapat diberikan, cukup dengan agunan (jaminan) dari masing-masing ketua dewan pengurus daerah.

“Itu yang akan kita gulirkan untuk membantu keterbatasan permodalan anggota REI. Perusahaannya sekarang sudah ada, tinggal menunggu sumber pendanaannya. Kemungkinan tahun depan sudah bisa bergerak. Intinya, kami ingin semua pengembang di daerah bisnisnya berjalan khususnya yang kecil-kecil,” jelas Eman.

Dalam kesempatan itu, di hadapan peserta workshop yang sebagian besar adalah pengembang dari daerah dan start up di bisnis properti, Eman memaparkan berbagai kiat dalam pengelolaan pembiayaan di bisnis real estat. Dia mengingatkan bahwa developer itu berbeda dengan kontraktor, karena industri ini bukan sekadar membangun tetap menciptakan nilai, salah satunya financial value.

Artinya, bahwa pengembang harus untung. Ini perbedaan dengan kontraktor yang modal kerjanya sudah jelas dari pemberi proyek, demikian juga besaran marginnya sudah kelihatan. Sementara developer butuh mencari modal, sehingga terpaksa berhubungan dengan bank sehingga harus menanggung bunga pinjaman. Itulah mengapa menjadi developer butuh pengetahuan, butuh seni kreativitas, dan butuh strategi pendanaan yang jitu.

“Oleh karena itu, saya menyambut baik kehadiran SPC ini untuk membantu banyak pengembang dalam hal pengetahuan. Saya bahkan mendorong supaya SPC ini bisa menjadi satu perguruan tinggi sendiri mengenai properti,” ujar Eman.

KAPASITAS PENGEMBANG
Managing Director SPC, Muhammad Joni mengungkapkan Smart Property Consulting yang disingkat SPC adalah lembaga konsultasi di bidang jasa properti yang meliputi literasi properti, konsultansi properti, legal audit, feasibility study, mentoring, pengurusan perizinan, land management, akuisisi properti, agency & marketing, valuation property dan public relation litigasi.

“Relatif banyak proses bisnis pelaku usaha properti yang belum dilaksanakan secara efisien dan efektif. Kenyataan ini membuat production cost menjadi relatif besar sehingga daya saing pelaku usaha menjadi kurang kompetitif. Ini fokus keberadaan kami, salah satunya melalui pelatihan atau workshop ini,” ungkap Joni yang juga dikenal sebagai konsultan hukum properti dan perbankan dan cukup aktif di sejumlah komunitas perumahan tersebut.

Dia menambahkan, untuk menyahuti pertumbuhan dan perkembangan bisnis properti diperlukan upaya norma dan bisnis model. Misalnya, bagaimana kerjasama antara pelaku pembangunan besar dengan kecil. Masalah ini terkait dengan upaya menyikapi keberpihakan asosiasi pelaku usaha dalam melaksanakan hunian berimbang serta membangun properti business sharing. Kehadiran SPC, kata Joni, mengambil peran dalam melakukan literasi properti untuk meningkatkan kapasitas dan transformasi kemampuan.

SPC berharap dapat berkontribusi dalam membangun dan memajukan bisnis properti di Tanah Air melalui sinergi pengembang guna menciptakan pasar yang efisien dengan adanya kontrol kualitas produk (kualitas produk yang terjamin) dan senantiasa menciptakan produk yang menerapkan quality insurance (menjamin kualitas) guna memberikan perlindungan kepada konsumen.

“Workshop ini juga kami maksudkan untuk membangun kapasitas dan standar kompetensi developer sehingga memperkuat kapasitas pelaku usaha properti nasional dalam menghadapi kompetisi dengan pelaku usaha asing termasuk BUMN,” jelas dia. RIN