Jalan-Jalan

Makan Bajamba, Tradisi Perekat Kebersamaan

Administrator | Senin, 21 November 2022 - 12:59:23 WIB | dibaca: 29 pembaca

Foto: Istimewa

Oleh: Rita N Roosly
 
Tradisi adalah konsep suatu kepercayaan atau perilaku yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat secara berulang-ulang dengan cara yang sama. 

Kebiasaan yang diulang-ulang ini dilakukan secara terus menerus karena dinilai memiliki manfaat bagi kelom-pok tersebut, serta mempunya nilai dan makna filosofi yang tinggi sehingga tetap dilestarikan. 

Dalam tradisi di Sumatera Barat atau Minangkabau, ada kebiasa-an yang dikenal dengan Makan Bajamba (makan bersama). Lazimnya tradisi makan bersama keluarga atau tetamu ini diselenggarakan di rumah adat Mi-nangkabau yang bernama Rumah Gadang. 

Rumah Gadang punya nilai tinggi dalam budaya Minang. Fungsinya tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dan berteduh saja. Namun bangunan tua yang mayoritas terbuat dari kayu jati kuno berukir dengan warna dominan merah emas, serta beratap jerami meruncing ke atas berbentuk tanduk ker-bau biasa disebut Rumah Gadang Bagonjong ini juga berfungsi sebagai iden-titas adat suatu kaum/suku. 

Ujung atapnya yang runcing seolah menunjuk langit, diibarat-kan sebuah himbauan atau pengingat manusia kepada Sang Maha Esa, Allah yang satu. 

Rumah Gadang biasanya adalah sebuah rumah pusaka dari para leluhur jauh dari generasi ke atas yang diturunkan kepada anak dan cucu perempuan, karena di Minangkabau menganut sistem kekerabatan Materilineal yaitu dari garis keturunan Ibu. Rumah adat ini tidak bisa dijual atau dipindah tangankan kepada orang lain yang tidak termasuk dalam garis keturunan yang sudah ditentukan. 

Rumah Gadang juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah antar suku, apabila ada hal yang perlu dibicarakan dan dapat pula dijadikan tempat untuk penobatan seorang Datuak (kepala adat) serta menjadi tempat pernikahan anak dan cucu perempuan. 

Beberapa ruang dan tiang yang terdapat di dalam Rumah Gadang semua memiliki arti dan filosofi masing-masing. Na-mun lain waktu akan penulis bahas tersendiri. 

Kembali ke tradisi Makan Bajamba, Alhamdulillah ber-tempat di Rumah Gadang di Desa/Nagari Simarasok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam Sumatera Barat, pada tanggal 26 Mei 2022 lalu, pe-nulis dapat menggelar acara tradisi Ma-kan Bajamba.

Kebetulan saat itu kami baru saja melaksana-kan sebuah prosesi peresmian Museum Inyiak Canduang atau Syekh Sulaiman Arrasuli di Nagari Canduang Koto Laweh, Kabupaten Agam, dimana Inyiak Canduang saat ini sedang diusulkan masya-rakat Indonesia, khususnya Sumatera Barat untuk menerima penghargaan sebagai Pahlawan Nasio-nal Indonesia.
 
Lazimnya, tradisi Makan Bajamba dilakukan apabila ada sebuah event, baik pernikahan, pemberian gelar, selamat dan sebagainya. Maka pemangku hajat selalu mengundang para tetamu untuk datang dan menaiki rumah gadang yang tinggi berbentuk panggung untuk menikmati makan siang bersama dengan aneka lauk pauk khas Minang. 
 
Tak kurang dari delapan jenis lauk dihidangkan terutama rendang, kalio ayam, ikan (bada) lado hijau, aneka buah dan beberapa pangganan ringan semua tersedia di atas tikar dilapisi kain putih di tengahnya bernama seprah. Para tamu akan duduk bersama di atas lantai beralaskan tikar (lapiak). 

Di dalam tradisi ini, semua orang diperlakukan sama, mereka duduk berjejer, di barisan laki-laki duduk baselo (bersila) sementara barisan wanita duduk basimpuah (bersimpuh). Tidak ada yang lebih rendah dan tidak ada pula yang lebih tinggi. Bak filosofi Minang “Duduak samo randah, tagak samo tinggi” yang artinya duduk sama rendah, ber-diri sama tinggi. 

Ini membuktikan bahwa masyarakat Minang-kabau tidak pernah mendiskriminasikan status sosial seseorang, sebagaimana ajaran Islam dimana semua manusia sama di mata Sang Khalik adalah sama, hanya keimanan dan ketaqwaan mereka yang akan membedakan. 

Yang menarik dari pelaksanaan Makan Bajamba ini yaitu sebelum memulai makan, se-buah adat petatah petitih layaknya berbalas pan-tun akan dibawakan dua orang Niniak Mamak (kepala suku di desa tersebut). 

Seorang Niniak mamak yang mewakili tuan rumah akan mengucapkan selamat datang kepada para tetamu dan mempersilahkan menikmati hidangan yang telah disediakan. Sementara Ni-niak Mamak yang mewakili rombongan tamu akan membalas dengan ucapan terimakasih dan penghargaan atas penerimaan tuan rumah yang baik dengan hidangan yang banyak dan lezat. Begitulah cara orang Minang dalam memuliakan tamunya. 

Perekat Kebersamaan 
Kenapa harus ada Makan Bajamba? Bukankah zaman sekarang ini lebih mudah apabila menjamu tamu dengan menggunakan jasa katering saja? Atau membawa mereka ke restoran? Kan tidak perlu repot dan juga praktis. 

Jawabnya, ada sebuah kebanggaan bagi penulis sebagai wanita Minang yang sejak kecil hidup di kota metropolitan, ketika bisa mem-persembahkan sebuah adat budaya leluhurnya kepada para tamu terlebih yang berasal dari luar Minangkabau. Itu berkesesuaian dengan syariat Islam yakni Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kita-bullah (Budaya bersanding dengan agama, dan agama bersanding dengan kitab suci). 

Makan Bajamba, menggelar tikar dan menata hidangan. Inilah yang dinamakan kebersamaan hakiki, saling bantu dalam situasi apapun hingga terciptalah sebuah ikatan kekerabatan yang kuat sehingga sulit bagi masyarakat Minangkabau untuk dipecah belah. Disini berlaku pepatah “Ber-satu kita teguh, bercerai kita runtuh” meski pun tak ada hubungan darah diantara mereka. 

Usai menikmati makanan, sembari berbincang dan bersenda gurau, para tetamu masih dapat merasakan sensasi harum asap kayu bakar yang terbawa angin sepoi-sepoi dari kaki Gunung Mara-pi lewat jendela Rumah Gadang yang terbuka lebar. Pujian atas nikmat Allah yang Maha Besar pun meluncur dari lidah tetamu. 

Begitulah tradisi ini terus dilanjutkan dari generasi ke generasi. Sebuah budaya tinggi yang patut untuk dilestarikan, bahkan menjadi salah satu atraksi budaya dan pariwisata andalan di Ranah Minang. Bagaimana Makan Bajamba bisa dikenal tidak hanya oleh wisatawan nasional tetapi juga wisatawan mancanegara. 
Tugas ini menjadi tugas kita bersama sebagai generasi penerus tradisi luhur nenek moyang. 

Saat beranjak dari Rumah Gadang, hati pun terasa dibalut kesedihan karena akan mening-galkan kampung halaman nan indah dan sejuk. Tanpa sadar titik hangat membasahi pipi, tatkala lirik lagu dari sang penyanyi mengiringi langkah kami meninggalkan Rumah Gadang elok di Nagari Si-marasok. 

Tinggalah kampuang, ranah balingka 
Gunuang Singgalang, ondeh lai kamanjago 
Oi...Mandeh Kanduang Tolong jo Do’a 
Antah pabilo ondeh kito basuo…

Penulis adalah penggiat pariwisata dan budaya, Wakil Sekjen DPP REI dan Managing Director Indonesia Tourism and Property Institute (ITPI)


Sumber: