E-MAGAZINE

Majalah REI - AGUSTUS 2020

Administrator | Jumat, 04 September 2020 - 17:22:59 WIB | dibaca: 91 pembaca

Sektor Properti Penggerak Ekonomi Bangsa

Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua


Seperti “Diikat Tali Sehasa” yang berarti sedang dalam situasi (keadaan) yang benar-benar tidak berdaya atau sudah susah untuk bergerak. Mungkin peribahasa ini paling tepat disandangkan kepada kondisi industri properti nasional. 

Dalam istilah Pak Budiarsa Sastrawinata, senior Realestat Indonesia (REI) yang juga Managing Director Ciputra Group, sekarang ini pengembang sudah banyak yang sesak nafas, sehingga sulit untuk teriak. Mungkin saja kalimat itu dianggap sekadar candaan, meski pernyataan itu bisa dibilang sebuah kenyataan yang saat ini terjadi di lapangan.

Merujuk data yang dilakukan REI, kelesuan pasar properti yang diperparah dengan pembatasan aktivitas orang akibat pandemi Covid-19 telah membuat hampir seluruh subsektor properti mengalami koreksi. Okupansi hotel turun 90%, pengunjung mall anjlok 75%, okupansi perkantoran turun 74,6%, sedangkan penjualan properti komersial meluncur hingga 50%. Begitu pun kondisi pasar rumah subsidi, sudah sulit bernafas karena susah akad kredit.

Di era adaptasi kebiasaan baru (the new normal) penjualan pun belum terlihat akan melesat. Saat ini maksimal transaksi di new normal hanya 50% dari masa normal. Sulit sekali mengharapkan penjualan bisa seperti di saat sebelum pandemi. Padahal, pengembang tetap saja harus memenuhi kewajiban-kewajiban perusahaan seperti masa normal antara lain untuk gaji karyawan, membayar bunga dan utang ke bank.

Betul, ini bukan mengada-ada atau istilah anak zaman sekarang lebay. Industri properti memang sudah masuk level emergency, atau SOS (tanda bahaya) dalam kode Morse internasional. Kalau tidak segera diselamatkan dengan kebijakan-kebijakan luarbiasa atau dalam istilah Presiden Jokowi “Extraordinary” maka nasib sektor properti sudah diujung tanduk.

Padahal, industri ini memiliki posisi strategis. Merujuk riset yang diadakan sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia, sektor properti bertautan langsung dengan hampir 175 sektor lain dari mulai produsen bahan material, pekerja konstruksi, hingga pedagang warung-warung makan. Tenaga kerja yang terlibat dalam industri properti bahkan diperkirakan mencapai 15% dari total penduduk Indonesia. 

Nyatalah bahwa industri properti adalah lokomotif tangguh yang bisa menggerakkan perekonomian nasional. Semua kegiatan bisnis butuh properti, atau setidaknya menggunakan properti dalam aktivitasnya. Demikian juga, semua orang kini membutuhkan rumah. Apalagi pasca pandemi, fungsi rumah kembali menjadi kebutuhan pokok (primer) seperti halnya pangan. Sebab hampir semua aktivitas orang sekarang dilakukan dari rumah.

Jadi percayalah, sektor properti ini akan mampu menggerakkan ekonomi negara kita, bahkan di masa resesi sekali pun. Perputaran kembali roda industri padat karya ini akan menghidupkan kembali ekonomi masyarakat, meningkatkan konsumsi masyarakat dan bukan tidak mungkin menyelamatkan Indonesia dari pertumbuhan ekonomi minus di masa resesi yang sudah di depan mata.

Sekali lagi, kita berharap pemerintah tidak lagi ragu-ragu dan bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan industri properti yang akan berdampak besar pada perekonomian nasional secara keseluruhan. Pemerintah perlu memberikan kebijakan yang extraordinary secepat mungkin, sekarang juga! 

Selain topik utama mengenai mendesaknya kebijakan extraordinary untuk menyelamatkan industri properti dari keambrukkan, kami juga ulas kembali perlunya penguatan sinergi dalam pelaksanaan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) terlebih pentingnya menjaga hak-hak seluruh peserta tabungan tersebut. Jangan sampai salah kelola, atau melenceng dari tujuannya untuk pembiayaan perumahan. 

Akhirnya, selamat membaca semoga membawa faedah bagi industri properti nasional yang sudah terbukti tangguh menopang perekonomian bangsa. 

Drs. Ikang Fawzi, MBA
Pemimpin Redaksi