Jalan-Jalan

Kuliner Ala Kota Industri

Administrator | Kamis, 21 Juli 2016 - 16:04:19 WIB | dibaca: 885 pembaca

Pamor Batam sebagai kota industri menjadikan kawasan ini sebagai tujuan utama investasi di Indonesia, selain tentunya Jakarta, Surabaya, Makassar dan Medan. Selayaknya sebagai kota industri, Batam menyimpan begitu banyak pesona, dinamis dan metropolis.

Pada 14-16 April 2016 mendatang, DPP REI akan melangsungkan milad yang ke 44 di Kota Batam. Berbagai persiapan terus dilakukan, termasuk pilihan-pilihan kuliner dan wisata menarik di luar kegiataan HUT. Dihubungi via telepon, Kamis, 24 Maret 2016, Ketua DPD REI Batam, Djaja Roeslim mengungkapkan sudah disusun serangkaian agenda dalam perayaan nanti.

“Yang jelas peserta akan diperkenalkan potensi industri properti di Batam. Siapa tahu ada pengembang yang tertarik membangun di Batam, menyusul ciputra, SInar Mas dan Agung Podomoro,” ujarnya.

Menurutnya hal lain yang mampu ditunjukkan Batam yakni perkembangan Batam dengan fasilitas khusus Free Trade Zone, serta lokasi yang strategis dengan Singapura dan Johor.

Soal pilihan kuliner, siapapun yang berkunjung ke Batam, selepas mendarat dari Bandara Hang Nadim akan segera menuju ke sejumlah tempat kuliner.

Sup ikan bisa dibilang sebagai pilihan utama.  Sup ikan Yong Kee yang berlokasi di Komplek Nagoya city center Blok E 8-9 Batam dan Komplek Hup Seng Blok A No 5-8 Batam centre, banyak yang sudah mengakui enaknya. Tak heran, restoran yang berada di Batam centre dan Nagoya ini sudah beroperasi lebih dari 20 tahun dengan rasa yang tidak pernah berubah, rasa sup ikannya sangat segar.

Di Batam, sup ikan merupakan makanan khas yang wajib dicoba. Sepertinya halnya empek-empek yang kemudian menjamur di luar Palembang, sup ikan Batam kini pun ada di sejumlah kota besar di Indonesia. Di Jakarta, sup ikan Batam sudah lumayan banyak yang membuka cabang.

Daging ikan yang digunakan untuk pembuatan sup ikan ini adalah ikan tenggiri. Sedangkan sup seafood menggunakan daging cumi-cumi dan udang. Sayur seperti tomat, sayur asin dan sayur selada juga tidak ketinggalan sebagai pelengkap. Tomat yang digunakan bukan tomat merah, melainkan tomat hijau yang masih muda dan masih asam. Harga sup ikan dibanderol Rp 35.000 dan sup seafood Rp 42.000.

Puas dengan sup ikan, Anda jangan melewatkan bersantap di Restoran Golden Prawn yang berada di Jalan Bengkong Laut, Batam. Golden Prawn sedikit berbeda dengan Sup Ikan Yong Kee. Bila Yong Kee berada di tengah kota, Golden Prawn berada di pinggir kota, tepatnya di Bengkong.

Restoran ini juga berada di atas laut sehingga pengunjung dapat sambil melihat ikan-ikan laut yang berenang. Jangan ditanya soal rasa, kelezatan dan kebersihan makanan di Golden Prawn tak perlu diragukan.

Untuk menjamin agar rasa tidak pernah berubah, pemilik restoran langsung turun ke dapur. Mereka juga membuat takaran bumbu standar yang didokumentasikan di buku khusus untuk setiap masakan. Misalnya, bila membuat satu kilogram ketam (kepiting) asam manis, harus menggunakan satu sendok garam, setengah sendok gula. Sehingga, rasa di restoran tersebut akan selalu sama, siapapun yang memasak.

Hal tersebut dilakukan pemilik karena beberapa tahun lalu sempat ada pergeseran rasa yang tidak disukai pelanggan. Saat itu, campur tangan pemilik di dapur memang sedikit mengendur. Namun, sejak kejadian, pemilik restoran selalu memantau proses memasak aneka makanan yang akan dihidangkan kepada pelanggan.

Golden Prawn termasuk salah satu restoran yang menawarkan fasilitas lengkap. Bagi pengunjung luar kota yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama di Kota Batam dapat menginap di Golden View Hotel. Setelah itu dapat menuju Golden Prawn. Sejurus dengan Golden Prawn, restoran Sri Rejeki yang bertempat di Batu Besar, Nongsa, Batam juga sangat pantas Anda coba. Pusat kuliner ini tak hanya menyediakan makanan khas yang mengundang minat tetapi juga menyajikan gugusan laut yang elok.

Sri Rejeki menyajikan hidangan gonggong dan kepiting. Gonggong merupakan makanan khas Batam, bentuknya seperti kerang, hanya saja cara mengkonsumsinya seperti makan tutut. Anda harus menggunakan tusuk gigi untuk mengeluarkan daging gonggong dari rumahnya. Sri Rejeki jauh dari kesan moderen, bukan karena jauh dari pusat kota tetapi karena penataannya yang seperti di kampung.

Bila Anda ingin berkunjung ke Sri Rejeki sebaiknya sebelum menuju ke Bandara Hang Nadim, karena restoran ini terletak sangat dekat dengan bandara. Masih ada lagi restoran Jawa Melayu yang selayaknya Anda coba. Piayu Laut namanya. Restoran ini berada di Tangjung Piayu, Batam.

Bisa dibilang harga makanan di restoran ini murah dengan menu yang wah, seperti kepiting, udang, sotong. Hanya saja untuk menuju restoran ini butuh perjuangan karena jauh dari pusat kota. Anda harus melewati jalan yang mirip hutan dengan pemandangan laut yang cukup indah di kanan-kiri. Restoran Jawa-Melayu tersebut terletak di tengah rumah warga, di ujung Kota Batam.

Saat makan di restoran ini Anda dapat melihat gugusan pulau kecil, baik yang jauh maupun yang dekat dengan laut berwarna hijau yang menghampar.

Sesuai dengan harga restoran tersebut, bangunannya lebih sederhana dibanding Golden Prawn dan Sri Rejeki. Bangkunya masih bangku kayu yang belum diolah dan dihaluskan, alias bangku kayu yang hanya dipotong panjang begitu saja.