TOPIK KHUSUS

Kawasan Ini Jadi Incaran Investor Asing

Administrator | Kamis, 10 September 2020 - 09:12:26 WIB | dibaca: 41 pembaca

Foto: Istimewa

Tiga tahun terakhir memperlihatkan adanya peningkatan minat investor asing masuk ke sektor properti. Namun wilayah mana saja yang paling banyak dilirik investor asing saat ini dan di masa depan?

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, potensi wilayah untuk investasi properti termasuk yang menarik investor asing masih terkonsentrasi di Jakarta dan sekitarnya. Salah satu pemicunya adalah ketersediaan infrastruktur. “Salah satu yang membuat triggernya properti itu infrastruktur,” tutur dia.

Ali memberi contoh di koridor timur Jakarta yang diuntungkan dengan adanya pembangunan sejumlah infrastruktur pendukung seperti jalan tol layang Jakarta-Cikampek, tol Jakarta-Cikampek II Selatan, Jakarta Outer Ring Road (JORR) Cimanggis-Cibitung, dan kereta api cepat Jakarta-Bandung.

“Wilayah-wilayah dengan konektivitas dan infrastruktur yang baik masih menjadi kawasan yang dilirik investasi asing,” kata dia.

Di Jakarta, beberapa jalur yang dilalui Mass Rapid Transport (MRT) juga bakal menjadi perhatian bagi pengembang termasuk investor asing. Begitu juga kawasan di sepanjang Light Rapid Transit (LRT) Jabodebek, kereta api cepat Jakarta-Bandung, double-double track Manggarai-Cikarang, Pelabuhan Patimban, hingga bandara baru di Karawang Jawa Barat yang rencananya akan dibangun pada 2027.

Tak hanya itu, harga jual lahan di area-area ini relatif lebih rendah dibanding di kawasan barat.

Pertumbuhan harga tanah selama sembilan tahun terakhir di koridor barat mencapai 30,2%, sedangkan koridor timur tercatat hanya 21,5%. Adapun harga tanah di koridor barat sebesar Rp9 juta-Rp17 juta per meter persegi, sementara di koridor timur masih di kisaran Rp5 juta-Rp12 juta per meter persegi.

Potensi lain di koridor timur adalah untuk pengembangan kawasan industri. Di Kabupaten Bekasi misalnya, kawasan industri mampu menyumbang 34% hingga 46% dari total penanaman modal asing.

Selain itu, daya beli masyarakat setempat juga dinilai sangat potensial. Disebutkan, hampir 80% penghasilan masyarakat di koridor timur rata-rata berkisar antara Rp4,5 juta hingga Rp 12 juta per bulan.

Ibukota Negara
Selain di koridor timur Jakarta, rencana pengembangan ibu kota negara (IKN) baru di Kalimantan Timur juga menjadi incaran investor asing. Disebutkan, saat ini ada sebanyak 30 perusahaan dari dalam dan luar negeri yang sudah menyatakan minat berinvestasi di IKN.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam diskusi bertajuk ‘Merajut Konektivitas Ibu Kota Negara’ di Jakarta, baru-baru ini.

“Perusahaan-perusahaan tersebut akan turut membangun klaster khusus yang memang dibuka untuk swasta,” kata Luhut seperti dikutip dari Tempo.co.

Perusahaan asing yang sudah menyatakan niat itu berasal dari berbagai negara antara lain Uni Emirat Arab, Amerika Serikat Hungaria, Jepang, China, dan Australia.

Luar Jabodetabek
Wakil Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) bidang Hubungan Luar Negeri, Rusmin Lawin mengakui investor asing selama ini memang masih berkutat di Jakarta dan sekitarnya atau dikenal area Jabodetabek. Khususnya untuk residensial komersial.

Menurut dia, ketika para investor asing itu ditawarkan area non-Jabodetabek, mereka cenderung ragu-ragu karena infrastruktur yang dinilai belum memadai. Namun seiring dengan mulai gencarnya pembangunan infrastruktur di kota-kota di luar Jabodetabek, Rusmin meyakini minat investor asing bakal tumbuh.

“REI berusaha menggandeng investor asing itu untuk ikut terlibat di luar Jabodetabek sehibgga bisa ada pemerataan ekonomi, termasuk sekarang di IKN baru,” kata dia.

Menurut dia, dengan berkembangnya kota-kota baru seperti Maja di Banten, maka sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baru juga akan tumbuh.

Selama ini pengembang asing sudah menggarap proyek hunian kelas menengah atas di Indonesia. Perusahaan tersebut berasal dari China, Jepang, Singapura, Australia dan lainnya. Sebut saja Hong Kong Land, Tokyu Land, CCCG (China Communication Construction Group), Keppel Land, Toyota Housing Australia, dan Crown Group.

Keppel Land Limited (Keppel Land), pengembang besar yang berbasis di Singapura, melalui anak usahanya PT Sukses Manis Indonesia, telah bekerjasama dengan PT Metropolitan Land Tbk (Metland) untuk mengembangkan proyek perumahan seluas 12 hektare di kawasan Metland Menteng di Jakarta Timur, Indonesia.

Keppel Land dan Metland masing-masing akan memiliki 50% kepemilikan dari kerja sama operasi (KSO) yang akan menghasilkan sekitar 500 unit rumah dengan ruko pendukung. Dana investasi yang akan digelontorkan diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun.

President Keppel Land Indonesia Goh York Lin mengatakan pihaknya Indonesia merupakan salah satu pasar utama bagi mereka. Dia yakin pengembangan proyek baru ini akan sangat menarik bagi konsumen yang mencari perumahan dengan lokasi strategis juga bagi para investor yang mencari investasi yang menguntungkan.

“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan keberadaan kami di negara ini dengan berfokus pada kawasan Jabodetabek,” ujar dia

Goh percaya Indonesia dengan peningkatan urbanisasi dan pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat akan terus menciptakan permintaan perumahan yang tinggi. (Rinaldi/Teti Purwanti)