Peluang

Jalin Kerjasama, Kebutuhan Keramik Anggota REI Akan Dipasok ASAKI

Administrator | Rabu, 29 September 2021 - 12:25:31 WIB | dibaca: 80 pembaca

Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) melakukan penandatangan kerjasama dengan Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) yang disaksikan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Dengan kerjasama ini, ASAKI memberi jaminan ketersediaan suplai, delivery dan harga yang kompetitif bagi semua anggota REI. Perjanjian dengan REI ini akan berjalan hingga dua tahun ke depan.

Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto mengatakan bahwa kegiatan yang diprakarsai oleh Kementerian Perindustrian ini merupakan satu terobosan dan wujud kerja nyata pemerintah untuk mem- bantu pemulihan industri keramik dan penguatan industri keramik dalam rangka substitusi impor. Menurutnya, perjanjian dengan REI ini akan berjalan dalam dua tahun ke depan.

“Kami sangat mengapresiasi semangat kebersamaan dan komit- men dari industri properti untuk memanfaatkan produk keramik dalam negeri. Dalam kerja sama ini kami memberi jaminan ketersediaan suplai, on time delivery, harga yang kompetitif, dan after sales service yang mana tidak bisa diberikan oleh produk keramik impor,” kata Edy, Kamis (17/6/2021).

Edy mengharapkan supaya langkah sinergi ini dapat menjadi titik balik kebangkitan industri keramik dalam negeri sehingga dapat mem- bantu mengurangi defisit ekspor dan impor produk keramik yang dalam lima tahun nilainya masih cukup besar atau US$1,1 miliar.

Membaiknya daya saing industri keramik nasional pascastimulus harga gas saat ini ternyata masih terkendala oleh pandemi yang belum berkesudahan dan gangguan impor. Pasalnya, peningkatan angka impor semakin mengkhawatirkan dengan kinerja sepanjang Januari-Mei 2021 lalu meningkat 24% dan didominasi keramik China yang hampir 50%.

“ASAKI mengharapkan atensi khusus dari pemerintah untuk penye- lamatan industri keramik nasional dengan perpanjangan safeguard keramik dengan BMTP (bea masuk tindakan pengamanan) di atas 30% karena akan sangat disayangkan jika stimulus harga gas terdistorsi oleh impor yang merajalela,” ujarnya.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Persatuan (DPP) REI Amran Nukman menyatakan produsen keramik dalam negeri diminta untuk dapat menjamin ketersediaan volume pasokan, kepastian proses pengiriman produk keramik, dan jaminan harga jual yang kompetitif. Ketiga aspek itu menjadi pertimbangan bagi pengembang properti nasional untuk dapat menggunakan produk keramik buatan anak bangsa.

Apalagi, REI termasuk salah satu asosiasi yang membangun hunian dalam jumlah relatif besar. Ditambah lagi, kata Amran, pada masa seperti ini kepastian waktu pengiriman juga sangat penting yang berimbas pada pembangunan properti secara keseluruhan. 

“Di masa pandemi ini, konsumen properti sangat sensitif terhadap harga. Apabila harga produk keramik buatan dalam negeri bisa ber- saing dengan produk impor, tentunya itu akan lebih menarik,” ujar Amran.
 
Membangkitkan Industri
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mengakselerasi dan membang- kitkan industri keramik nasional. Salah satu langkah yang dilakukan melalui business matching antara produsen keramik dengan asosiasi sektor pengguna. Upaya itu juga sekaligus untuk mendorong penerapan program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN).

“Kita semua patut bersyukur, Indonesia memiliki industri keramik yang saat ini men- duduki peringkat delapan dunia dengan ka- pasitas produksi terpasang sebesar 538 juta m2 per tahun dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 150 ribu orang,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam sambutannya.

Menperin menyebutkan, melalui business matching diharapkan pelaku usaha sektor indus- tri maupun sektor terkait lain seperti properti, pengembang, dan infrastruktur terus bersinergi, bergerak menciptakan peluang pasar baru, saling mengisi untuk menjamin kepastian rantai pasok, serta kerjasama yang erat dalam men- ciptakan kemandirian ekonomi bidang industri keramik nasional.

“Dengan langkah ini juga diharapkan pro- duk industri keramik nasional dapat memiliki peran penting di pasar regional dan global,” sebut Agus.

Business matching antara produsen keramik dengan asosiasi sektor pengguna, ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) dengan Real Estate Indonesia (REI) dan Perjanjian Kerja Sama Antara Perusa- haan Industri Keramik Nasional Dengan Penye- dia Jasa Properti/Real Estate Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Swasta Nasional.

Agus mengatakan, meningkatnya pem- bangunan di sektor infrastruktur dan properti, seperti real estate, perumahan, apartmen, dan bangunan lainnya, membuat permintaan pasar dalam negeri semakin bertambah. 

“Dalam jangka panjang, Industri keramik nasional akan sangat prospektif, mengingat konsumsi keramik nasional per kapita sekitar 1,4 m2 masih lebih rendah dibandingkan konsumsi ideal dunia yang telah mencapai lebih dari 3 m2,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam mengatakan bahwa jika memperhatikan permintaan dalam negeri dan pangsa pasar ekspor yang mulai meningkat, sejumlah produsen keramik nasional pun te- lah melakukan ekspansi atau perluasan, dan mengundang ketertarikan beberapa investasi baru.

Sampai dengan tahun lalu, industri keramik nasional memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 538 juta m2 atau 8,63 juta ton per tahun dan menduduki peringkat produsen ke-8 di dunia. Industri tersebut juga mampu menyerap sebanyak 150.000 tenaga kerja.

“Investasi baru nantinya akan masuk di Kawasan Industri Batang hingga tahun 2024 dan diperkirakan mencapai Rp5 triliun,” kata Muhammad Khayam dalam sambutan kerjasama ASAKI dan Pengembang Nasional.

Khayam mengemukakan bahwa saat ini sejumlah dukungan pemerintah kepada industri keramik berupa insentif penurunan harga gas bumi terbukti memicu peningkatan utilisasi semula dari 52% pada 2020 akibat pandemi dan telah meningkat mencapai 75% pada kuartal I/2021.

Menurutnya, apabila tren positif ini dijaga dengan berbagai insentif dan iklim usaha yang kondusif, industri keramik nasional optimis kembali menduduki peringkat ke empat dunia sebagaimana pernah dicapai pada 2014. (Teti Purwanti)
 
Sumber: