TOPIK UTAMA

Industri Properti Antisipasi Perkembangan Teknologi Digital

Administrator | Rabu, 22 Januari 2020 - 14:14:23 WIB | dibaca: 315 pembaca

Sektor properti turut merasakan dampak dari perkembangan teknologi digital yang terus berkembang pesat. Pengembang pun dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif untuk mengikuti perkembangan yang ada.

Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata mengatakan kemajuan teknologi digital seperti dua mata pisau bagi para pengembang. Pasalnya, jika tidak segera melakukan adaptasi, dan mengikuti tren pasar, maka pengembang akan ditinggalkan para konsumennya.

“Perkembangan teknologi membuat para pengembang harus melakukan perubahan business model untuk mengikuti perkembangan dan perilaku konsumen,” ujar dia di sela-sela seminar yang diadakan FIABCI APREC 2019 di Jakarta, Jumat (13/9/2019).

APREC 2019 mengusung tema “Prospering City Through Alignment on Disruptive Technology” dan diisi dengan dua seminar masing-masing bertajuk “Developing Prosperity City in Asia Pacific Region” dan “When Technology Disrupts our City” yang menghadirkan pakar-pakar dan praktisi industri dan properti dari dalam maupun luar negeri.

Menurut Eman, perkembangan teknologi turut mengubah perilaku konsumen. Dimana konsumen saat ini lebih cenderung untuk memilih menyewa tempat tinggal sementara ketimbang membeli tempat tinggal tetap. Hal itu dilakukan karena tuntutan pekerjaan dari masyarakat khususnya dari segmen milenial yang seringkali berpindah-pindah lokasi pekerjaan.

Dia menambahkan, penyesuaian sudah harus mulai dilakukan para pengembang, karena ke depannya segmen milenial merupakan potensi pasar terbesar. “Banyak pengembang yang akhirnya melakukan shifting business model dari yang tadinya menjual menjadi menyewakan,” ucapnya.

Perkembangan teknologi digital, imbuhnya, juga membuat tren pengembangan properti mengalami perubahan. Dia mengungkapkan, kalangan milenial cenderung menyukai hunian yang terintegrasi dan terhubung dengan teknologi canggih. Untuk mengikuti perkembangan pasar, para pengembang pun dituntut untuk lebih kreatif dan lebih inovatif dalam menyediakan fasilitas.

Eman yang juga menjabat sebagai President FIABCI Asia Pacific ini mengungkapkan perkembangan teknologi juga turut mengubah kebiasaan masyarakat bekerja di kantor. Jika sebelumnya karyawan perusahaan harus bekerja di kantor, maka saat ini karyawan bisa menjalankan tugasnya dari mana saja tanpa harus bekerja di kantor dengan memanfaatkan teknologi.

“Akibatnya banyak perkantoran yang kosong, karena permintaannya turun jauh. Padahal biaya maintenance-nya tinggi,” ungkap Eman.

Kehadiran operator ruang kerja bersama (co-working space) dianggap sedikit membantu meningkatkan okupansi perkantoran. Namun, kontribusinya terhadap tingkat keterisian ruang perkantoran pun masih belum signifikan.

Sumber Daya Berkelanjutan
Dalam APREC kali ini, pengembang juga membahas soal pembangunan berkelanjutan yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya alam. Pembangunan yang berkelanjutan membuat pengembang juga turut ambil bagian dalam mengukur pencapaian rata-rata kota dalam memastikan perlindungan lingkungan perkotaan dan aset alamnya.

Ini harus dilakukan secara bersamaan sambil memastikan pertumbuhan, mengejar efisiensi energi, mengurangi tekanan pada tanah dan sumber daya alam di sekitarnya dan mengurangi kerugian lingkungan melalui solusi kreatif dan lingkungan, termasuk dengan menggunakan energi terbarukan.

Seperti baru-baru ini, pengembang juga menyambut baik rencana pemerintah yang memberi kelonggaran kebijakan terkait penggunaan pembangkit listrik tenaga surya. Meski tidak banyak menggunakan energi fosil, namun sektor properti juga termasuk sektor yang ingin turut ambil bagian dalam menjaga bumi.

Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral telah memberi kelonggaran kebijakan terkait dengan penggunanaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui Peraturan Menteri ESDM No.12/2019 tentang Kapasitas Pembangkit Tenaga Listrik untuk Kepentingan Sendiri yang Dilaksanakan Berdasarkan Izin Operasi.

Pasal 3 pada beleid tersebut menyebutkan bahwa usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan sendiri dengan total kapasitas pembangkit tenaga listrik sampai dengan 500 kVA (kilovolt ampere) dalam satu sistem instalasi tenaga listrik tidak memerlukan izin operasi.

Marketing Director Paramount Land Alvin Andronicus menyatakan bahwa keputusan pemerintah tersebut akan mendorong lebih banyak pengembang untuk memanfaatkan pembangkit yang menghasilkan energi terbarukan yang efisien dan efektif. Meskipun demikian, sebagai pengembang properti, perusahaan masih perlu melakukan penghitungan terkait dengan total biaya yang harus dikeluarkan untuk pemasangan PLTS.

“Teknologi pembangkit tenaga surya ini masih belum banyak yang memanfaatkan sehingga kami sebagai pengembang harus melihat dulu apa saja teknologi yang dibutuhkan dan berapa biayanya,” ujarnya.

Alvin mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang memiliki energi matahari berlimpah memang sudah seharusnya bisa lebih mengoptimalkan penggunaan PLTS. Namun, karena belum banyak dikembangkan dan dimanfaatkan, pihaknya berharap bisa mendapatkan sosialisasi dan edukasi terkait dengan penggunaan PLTS.

Sementara Direktur PT Sinar Mas Land Ignesjz Kemalawarta berharap insentif tidak hanya diberi pemerintah dalam bentuk kemudahan perizinan. Untuk mendorong lebih banyak pengembang, dia menganggap pemerintah juga sebaiknya memberi insentif terkait biaya yang harus dikeluarkan para pengembang untuk pemanfaatan teknologi tersebut.

“Tentunya kebijakan tersebut akan mendorong penggunaan [PLTS], apalagi jika ditambah dengan insentif harga agar bisa lebih terjangkau. Pastinya akan semakin banyak yang menggunakan,” ucapnya.

Ignesjz mengungkapkan bahwa saat ini Sinar Mas Land memang belum memanfaatkan energi surya sebagai pembangkit listrik pada kawasan yang dikembangkannya.

Meskipun demikian, dia menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan kajian terkait pemanfaatan PLTS untuk beberapa fasilitas publik pada salah satu kawasan yang dikembangkannya yaitu Green Office Park di BSD, Tangerang Selatan. (Teti Purwanti)