GAGASAN

Homestay sebagai Daya Tarik Wisata Indonesia

Administrator | Selasa, 12 September 2017 - 09:51:48 WIB | dibaca: 977 pembaca

Penulis Bersama Keluarga Pemilik Homestay di Belanda

Oleh: Rita N. Roosly, Praktisi dan pemilik event organizer dan Ketua Kompertemen Pameran DPP REI

Menginap di hotel tentu merupakan hal biasa untuk Anda yang pergi ke suatu tempat baik di dalam maupun di luar negeri untuk berbagai tujuan, seperti berlibur, bisnis, seminar atau sekadar mengunjungi sanak saudara. Hotel biasanya sudah mempunyai standar pelayanan sendiri, yang lazimnya tidak jauh berbeda antara satu hotel dengan yang lainnya.

Berbeda kalau Anda menginap di sebuah homestay atau tinggal satu rumah dengan pemilik homestay, tentu sensasinya akan berbeda. Apalagi kalau lokasi homestay dimana kita menginap berada di sebuah pedesaan tradisional dengan beragam atraksi budaya yang bisa dinikmati selama Anda berada di sana. Saya pastikan pesonanya akan jauh berbeda.

Apa kelebihan menginap di homestay? Memang dibandingkan kamar hotel, homestay kebanyakan berukuran lebih kecil, bentuknya seperti rumah tinggal, dengan layanan penuh kekeluargaan dan tentunya harga lebih murah. Kemudian waktu check in dan check out yang cukup fleksible juga menjadi pertimbangan. Setidaknya itu yang saya rasakan selama menginap di sejumlah homestay di luar negeri, terutama di Eropa.

Sensasi lain, sebagian besar homestay biasanya memiliki fasilitas dapur dan perlengkapannya sehingga memudahkan tamu yang ingin memasak sesuai seleranya. Bahkan terkadang kita pun bisa memasak bersama pemilik homestay dengan menu daerah setempat.

Keramahan dan hospitality yang ditawarkan pemilik homestay pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis untuk memutuskan menginap di sana. Misalnya mereka bersedia menjemput dan mengantar kita ke stasiun/terminal bis/bandara. Selain itu mereka dengan senang hati akan memberikan informasi lokasi wisata popular, shopping centre, restoran dan lokasi menarik lain untuk dikunjungi di sekitar homestay.

Kita bisa saling berbagi cerita tentang adat dan budaya masing-masing. Suasana yang hangat diantara tamu dan pemilik homestay akan menciptakan kesan homy dan membuat tamu merasa seperti di rumah sendiri.

Saya pribadi pernah menginap di beberapa homestay ketika saya bertugas di Belanda dan Inggris. Dan saya memilih lokasi yang agak pedesaan. Di homestay tersebut saya bisa memasak nasi goreng, mie instan, bahkan memasak soto ayam yang dinikmati bersama pemilik homestay saat makan malam.

Saat akan berpamitan untuk meninggalkan negara mereka dan kembali ke Indonesia, saya merasakan seperti hendak berpisah dengan keluarga dan berharap suatu saat bisa kembali lagi ke tempat itu.

Berdasarkan pengalaman saya tinggal di homestay selama saya bertugas di Eropa, saya teramat yakin suasana yang sama bisa diwujudkan di Indonesia. Upaya pemerintah mendorong pengembangan homestay perlu mendapat dukungan semua pihak. Ini sekaligus bisa menjadi peluang bagi masyarakat kita untuk memajukan perekonomian mereka.

Terlebih lagi di Indonesia yang memiliki beragam budaya yang berbeda, kuliner yang beraneka ragam dari Aceh sampai Papua, tentunya itu semua akan menjadi daya tarik tersendiri bagi turis mancanegara untuk yang ingin merasakan sensasi menginap berbeda selama di negeri kita. Seperti yang saya cari ketika berpergian ke mancanegara.

Semoga Pemerintah Indonesia dalam hal ini instansi terkait dapat mendukung penuh keberadaan homestay.