AKTUAL

Harga Rumah (Memang) Terus Naik, Jabodetabek Tertinggi

Administrator | Selasa, 10 Januari 2023 - 10:13:08 WIB | dibaca: 34 pembaca

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Harga rumah selalu mengalami kenaikan setiap tahun. Penyebabnya antara lain akibat inflasi, ketersediaan tanah yang semakin minim, kenaikan harga bahan bangunan dan jumlah penduduk yang terus bertambah.

Marine Novita, Country Manager Rumah.com mengatakan berdasarkan data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI), indeks harga rumah dalam tiga tahun terakhir naik sebesar 10%. Meski ada perlambatan akibat pandemi dari 2020-2021, tetapi tren peningkatan harga rumah kembali berlanjut di 2022 dengan kenaikan 5% secara tahunan.
 
“Harga rumah naik setiap tahun itu fakta, dan trennya akan terus meningkat akibat faktor inflasi, harga tanah yang makin mahal, harga material dan penduduk yang terus bertambah sehingga ke-butuhan rumah tetap tinggi,” ujar Marine dalam keterangannya, Kamis (14/7/2022). 

Rumah.com Indonesia Property Market Index mengungkap bahwa tingkat kenaikan harga rumah tertinggi terjadi di area Jabo-detabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi). 
Secara wilayah, harga rumah di Tangerang naik paling tinggi sebesar 24,5%, Tangerang Selatan naik11,5%, di Bogor 8,5%, serta di Depok 7,5 % terutama didorong oleh area-area favorit incaran pencari rumah. 

Salah satu contoh tingkat kenaikan harga yang lebih besar di wilayah Jabodetabek ada-lah area Cinere di Kota Depok dimana saat ini harga rumah tapak sudah mencapai Rp13 juta per meter persegi. Bahkan, menurut Marine, dalam dua tahun ke depan diperkirakan harganya bisa mengalami kenaikan hingga Rp15 jutaan per meter persegi. 
“Artinya harga rumah di Cinere bisa naik Rp100 jutaan dalam waktu dua tahun,” jelasnya.
 
Ditambahkan, tingkat kenaikan harga hunian berada di atas laju purchasing power bagi kebanyakan pencari rumah, sehingga menjadi masalah bersama yang perlu dicari solusinya. 

Apalagi berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Suse-nas) 2020, angka backlog kepemilikan perumahan sebesar 12,75 juta dimana angka tersebut belum termasuk pertumbuhan keluarga baru yang diperkirakan sekitar 700 ribu-800 ribu per tahun. 

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara Secu-ritization Summit 2022 mengatakan generasi milenial makin sulit punya rumah karena kenaikan harga rumah yang tidak sebanding dengan pendapatan. 

“Generasi muda ini kemudian akan berumah tangga, kemudian mereka membutuhkan ru-mah. Tapi mereka cannot afford untuk mendapatkan rumah. Mereka butuh, tapi cannot afford karena purchasing power mereka dibandingkan harga ru-mahnya, lebih tinggi,” ujar Menkeu.

Minat Beli Apartemen 
Sementara itu, Rumah.com Consumer Senti-ment Survey H1 2022 mengungkap bahwa minat masyarakat untuk membeli dan tinggal di apartemen masih rendah. Hanya ada 2% responden yang men-jadikan apartemen sebagai pilihan utama ketika ingin membeli hunian dalam waktu satu tahun ke depan. 

Rendahnya minat responden disebabkan dua alasan utama yaitu pertama nilai lebih untuk harga yang sama dengan membeli rumah tapak dan alasan kedua adalah ketidaksukaan tinggal di gedung bertingkat tinggi. 

Rendahnya minat terhadap apartemen ini cukup mengkhawatirkan di tengah semakin terbatasnya lahan dan kemampuan untuk membeli. Untuk itu, Marine mengajak stakeholder properti terutama pe-merintah dan pelaku usaha properti untuk mencari solusi terbaik.
 
Hal senada, riset Jones Lang LaSalle (JLL) Indone-sia memaparkan bahwa minat dan permintaan rumah tapak di Jabodetabek tetap stabil bahkan di masa pandemi Covid-19. 
Di 2020 misalnya, rata-rata penjualan rumah tapak mencapai 72% dari ketersediaannya sekitar 35 ribu unit. Sedangkan pada 2021, rata-rata pen-jualan malah meningkat menjadi 89% dari total ke-tersediaan rumah sebanyak 40 ribu unit. 

Sementara itu pada semester I-2022, rata-rata penjualan rumah tapak mencapai 90% dengan total ketersediaan rumah kurang dari 40 ribu unit atau sama dengan 2021. 

“Sektor rumah tapak menjadi salah satu yang bertahan di tengah pandemi. Saat ini di triwulan kedua penjualan sektor rumah tapak masih melanjut-kan tren dari pertengahan 2020,” jelas Kepala Riset JLL Indonesia, Yunus Karim dalam paparan Jakarta Property Market Overview 2Q 2022 di Jakarta, Rabu (27/7/2022). 

Yunus menuturkan pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk rumah tapak cukup membantu penjualan. 

Bahkan selama satu semester tahun ini, terdapat peluncuran 5.700 unit rumah baru oleh pengembang. Adapun pembelinya didominasi oleh end user. 

“Adanya insentif PPN DTP dan relaksasi Loan To Value (LTV) atau Down Payment (DP) juga menarik minat pengembangan rumah tapak. Sehingga pengembang aktif melakukan peluncuran produk rumah tapak terbaru,” sebutnya. 

Dia sependapat, wilayah Tangerang dan Bogor masih menjadi lokasi pembelian rumah yang diminati. Hal itu dipengaruhi oleh langkah pemerintah membangun akses yang semakin baik seperti jalan tol dan LRT Jabodebek. 

Terkait harga rumah yang terus naik, Yunus Karim menyebutkan developer me-miliki banyak inovasi dan cara untuk mengatasi kendala kesulitan pembelian rumah khususnya untuk milenial.
 
“Pengembang pasti punya berbagai cara menarik membuat proyek yang lebih terjangkau. Kita lihat strategi dari para pengembang ini salah satunya dengan mem-buat rumah dengan size yang lebih compact untuk kelas milenial,” jelasnya. 

Pembangunan rumah compact tersebut dinilai dapat memangkas harga pem-bangunan sehingga dalam menentukan harga jual pun dapat lebih mudah dijang-kau kalangan muda. 
Selain itu, ungkap Yunus, pengembang kerap menawarkan mekanisme pemba-yaran menarik untuk pembelian rumah yang bersifat lebih fleksibel. (Rinaldi)


Sumber: