GAGASAN

Genius of The European Square

Administrator | Kamis, 07 Desember 2017 - 15:36:05 WIB | dibaca: 650 pembaca

Oleh: Dhani Muttaqin*

Genius!!! Demikianlah frasa yang dipakai oleh Henry L. Lennard, seorang urbanist Austria dalam bukunya yang berjudul “Genius of The European Square” untuk menggambarkan betapa brilian dan memikatnya plaza-plaza yang berada di jantung kota-kota besar Eropa. Istilah plaza atau square/platz/piazza mengacu pada ruang publik di pusat kota yang berupa taman/lapangan/alun-alun yang menjadi pusat aktivitas sosial-ekonomi masyarakat kota.

Istilah plaza dalam hal ini berbeda dengan pengertian plaza di Indonesia yang telah mengalami pergeseran makna menjadi sekedar gedung pusat perbelanjaan atau yang juga kita kenal dengan nama mall/shopping centre.

Square/Plaza merupakan salah satu warisan peradaban perkotaan Eropa dari mulai 2000 tahun lalu yang dalam perjalanannya telah mengalami berbagai evolusi bentuk fisik tetapi konsisten mengusung fungsi utama yang sama yaitu sebagai pusat aktivitas warga kota “heart of the city” tempat warga melakukan berbagai aktivitas interaksi sosial, ekonomi dan bahkan politik.

Tidak jarang aktivitas demonstrasi dan pengumpulan massa untuk kepentingan politik di pusatkan di tempat ini, selain tentunya sebagai lokasi bagi rekreasi, seni dan hiburan lainnya.

Square/plaza merupakan kawasan mixed-use yang terdiri dari beberapa bangunan dan fungsi perkotaan yaitu perkantoran, tempat ibadah, pasar, dan alun-alun yang dilengkapi dengan simbolsimbol patung atau monument sebagai identitas lokasi. Bangunan tersebut umumnya membentuk pola tertutup baik berupa lingkaran, rectangular ataupun bentuk segi empat dengan lapangan/alun-alun dibagian tengahnya dan memberikan kesan seperti ballroom atau auditorium dengan bangunan di sekitarnya sebagai dinding.

Kawasan tersebut biasanya memiliki bangunan utama yang menjadi vocal point yang dengan desain yang “wah” ataupun ukuran yang lebih dominan dibanding dengan bangunan lainnya, yang biasanya berupa gereja atau gedung parlemen. Secara umum dengan ukuran yang cukup massif, bentuk formasi “auditorium tertutup” ini menciptakan kesan kawasan yang mewah dan elegan.

Dari sekian banyak plaza di kota-kota di Eropa tiga diantaranya yang sangat menarik dan dikunjungi oleh delegasi FIABCI REI 2017 adalah Piaza de Duomo di Kota Milan Italia, Place de Massena di Kota Nice–Prancis dan Plaza de Catalunya di Kota Barcelona – Spanyol.

Piaza de Doumo, Milan – Italy
Piaza de Duomo yang dibangun pada tahun 1860 merupakan plaza di pusat kota utama Milan, merupakan tempat berkumpulnya masyarakat kota dan wisatawan untuk menikmati artistiknya Gereja Katedral duomo dan Galleria Vittorio Emanuella II yang merupakan tempat belanja paling sophisticated yang menjual barang-barang branded terkini. Pada plaza berbentuk rectangular dengan luas area 17,000 m2 terdapat monument Vittorio Emanuela II, King of Sardinia, The First King of United Italy.

Place de Massena, Nice –Prancis
Place de Massena “The Heart of Nice” merupakan pedestrian square di pusat kota Nice yang dihiasi berbagai bangunan neoklasik dengan nuansa fasade berwarna merah-merah dan lantai ubin berbentuk papan catur. Plaza yang di bangun pada tahun 1843 ini menghubungkan antara kota lama Nice dengan promenade des anglais di kawasan pantai dan Jardin Albert I, taman kota dengan lansekap yang memukau. Di plaza ini juga terdapat patung marble Dewa Apollo setinggi 7 meter yang berdiri tanpa busana dan yang sempat menimbulkan kontroversi pada pertenganan tahun 1970-an.

Plaza de Catalunya, Barcelona–Spanyol
Plaza de Catalunya dikenal salah satu square paling vibrant di antara semua plaza di Eropa, dikelilingi bangunan klasik, kantor pemerintahan dan pusat perbelanjaan serta pedestrian La Rambla yang legendaris, plaza ini tidak pernah sepi dari aktivitas warga yang mayoritas adalah wisatawan mancanegara. Plaza seluas 5 hektar ini dibangun pada tahun 1927 dan dihiasi dengan beberapa patung dan monument FrancescMacia, President of Cataloniake 122.

Berjalan di kawasan plaza-plaza di atas seakan melihat kenyataan dari teori-teori yang ada pada buku-buku textbook urban desain, mulai dari jalan, parkir, pedestrian, tata masa bangunan dan ruang terbuka hijau, semuanya nampak pas dengan teori-teori urban desainyang ada di buku. Plaza dan pusat-pusat kota di Eropa di desain, dibangun dan dikelola dengan pendekatan teknis yang terukur, penuh kreativitas, dan cita rasa seni yang tinggi, hasilnya bisa kita lihat dan rasakan menghasilkan suatu karya seni kawasan perkotaan yang indah, memikat, livable dan penuh dengan interaksi dan aktivitas warganya.

Lalu Bagaimana dengan kota-kota kita di Indonesia?
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam rangka mewujudkan lingkungan kawasan pusat kota yang livable dan vibrant adalah dengan menerapkan prinsip people centered design (Jan Gehl, 2010), yaitu: aman dari kecelakaan lalulintas, aman dari kriminalitas, bebas dari pengalaman yang tidak menyenangkan, pedestrian yang nyaman untuk berjalan, fasilitas untuk berdiri dan bersandar, fasilititas duduk, nyaman untuk melihat, nyaman untuk berbicara dan mendengar, fasilitas untuk bermain, desain kawasan human scale, dan kenyamanan untuk menikmati suasana dan iklim yang positif.

Tentunya kita dapat belajar untuk menciptakan sebuah kawasan pusat kota yang livable dengan mengambil contoh dan pelajaran dari plaza/square di Eropa. Ini adalah sebuah pekerjaan yang besar dan tentunya berat bagi para planner, urban desainer dan manager kota mengingat kondisi eksisting kota-kota kita yang rata-rata masih bergelut dengan berbagai permasalahan perkotaan yang tidak kunjung terpecahkan. Tetapi ini juga adalah sebuah tantangan bagi para planner, urban desainer dan para manager kota untuk berkreasi menciptakan kawasan pusat kota yang livable dan vibrant serta meninggalkan legacy karya yang membanggakan.

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Realestat Indonesia (REI)